Nasional

Transisi Energi Baru dan Terbarukan, Pemerintah Diminta Hati-Hati

Dua teknisi memperbaiki jaringan kabel listrik milik PLN. Foto: Radar Blitar.

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin meminta agar pemerintah berhati-hati dan penuh kearifan dalam melakukan langkah transisi menuju energi baru dan terbarukan. Ini agar pengembangan dan pengelolaan di sektor energi nasional dapat terintegrasi dengan baik.

“Transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) perlu kehati-hatian dan kearifan,” kata Mukhtarudin dalam rilisnya, Senin (11/10).

Saat ini, Komisi VII sedang mencari solusi langkah integrasi yang baik, terutama dalam konteks menjaga transisi energi itu.

Menurutnya, transisi energi tidak mungkin dilakukan secara spontanitas, karena perlu ada proses waktu penyesuaian yang harus dilakukan.

“Jangan sampai transisi energi ini nantinya menimbulkan persoalan, seperti yang kini terjadi di sejumlah negara di Eropa dan China, di mana mereka mengalami krisis energi karena pasokan energinya terganggu,” pesan dia.

Berkaca dari hal tersebut, Mukhtar menilai sistem energi nasional harus terintegrasi untuk mencegah hal yang serupa terjadi. “Jadi tidak boleh parsial (transisi) energi ini, harus terintegrasi secara baik,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan akan ditingkatkan dalam proyek pembangun pembangkit listrik di Indonesia.

Dalam pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030 partisipasi swasta sebesar 64,8 persen dari total pembangkit listrik 40,6 gigawatt yang akan dibangun hingga 10 tahun ke depan.

Dia menambahkan, sektor swasta juga akan mengembangkan 56,3 persen dari total 20,9 gigawatt pembangkit listrik dari energi baru terbarukan.

Menurutnya, RUPTL PLN 2021-2030 sebagai RUPTL hijau karena porsi penambahan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 51,6 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4 persen. (wsa)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button