RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suara gemuruh dan guncangan keras memenuhi ruang simulator gempa di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Rabu (29/7). Sebanyak 210 siswa SDN IV Bantargebang tampak berusaha tetap tenang sambil mempraktikkan cara berlindung saat gempa berkekuatan 6 skala Richter mengguncang ruangan. Pengalaman itu menjadi bagian dari upaya menanamkan budaya sadar bencana sejak usia dini.
Siswa dari kelas I hingga VI tersebut mengikuti edukasi mitigasi bencana yang digelar BPBD Kota Bekasi. Selain menerima materi tentang berbagai potensi bencana, mereka juga dilatih teknik penyelamatan diri, mulai dari berlindung, evakuasi mandiri, hingga langkah yang harus dilakukan saat kondisi darurat terjadi.
Petugas Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bekasi, Rinto Butarbutar, mengatakan pembelajaran melalui praktik langsung dinilai lebih efektif membangun kesiapsiagaan anak dibanding sekadar teori di dalam kelas.
“Anak-anak dibekali pengetahuan dan keterampilan mitigasi agar mampu melindungi diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar ketika terjadi situasi darurat. Harapannya mereka bisa menjadi agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana,” ujarnya.
Menurut Rinto, edukasi kebencanaan menjadi kebutuhan penting mengingat Kota Bekasi memiliki potensi bencana seperti banjir, angin puting beliung, hingga gempa bumi. Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah penyelamatan diri sebelum bencana benar-benar terjadi.
Ia menegaskan, program edukasi tidak hanya menyasar siswa sekolah dasar, tetapi juga anak usia dini, pelajar SMP dan SMA, masyarakat umum, hingga kelompok lanjut usia.
“Semua masyarakat tanpa melihat usia tetap perlu diberikan pembekalan tentang cara berlindung, menyelamatkan diri, dan melakukan evakuasi mandiri saat terjadi bencana,” katanya.
Program edukasi tersebut merupakan bagian dari FLASK (Fasilitasi Layanan Kebencanaan) yang telah dijalankan BPBD Kota Bekasi selama tiga tahun terakhir. Antusiasme masyarakat terhadap pelatihan mitigasi terus meningkat seiring bertambahnya kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Selama tiga tahun pelaksanaannya, program FLASK telah menjangkau 56.488 peserta dari 483 sekolah di Kota Bekasi. Pelatihan dilakukan baik melalui kunjungan sekolah ke Kantor BPBD maupun petugas yang mendatangi langsung sekolah dan lembaga pendidikan.
Rinto berharap para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keberanian mengambil tindakan yang tepat saat menghadapi situasi darurat. Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan keluarga dalam membangun budaya siaga bencana.
“Kesiapsiagaan dimulai dari rumah. Luangkan waktu berdiskusi dan berlatih evakuasi bersama keluarga, siapkan perlengkapan darurat, dan ajarkan anak tetap tenang saat terjadi bencana. Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi melalui pengetahuan, latihan, dan kesiapsiagaan,” pungkasnya.(rez)











