Ratusan Balita di Kabupaten Bekasi Terserang ISPA

LAKUKAN SENAM : Sejumlah murid PAUD, melakukan senam di luar ruang sekolah, di Desa Mekarwangi, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, CIKARANG PUSAT – Ratusan balita usia 0-60 bulan, banyak yang menderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA). Hal itu berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi.

ISPA yang menimpa para balita itu, tersebar di 23 kecamatan. Penyebabnya, karena kurangnya gizi, imun, dan banyaknya polusi udara di lingkungan.


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinkes Kabupaten Bekasi, Masrikoh menuturkan, ISPA itu sebenarnya dari haigen. Misalkan pola hidupnya bersih, maka tidak akan terkena. Biasanya, ISPA menyerang saat daya tahan tubuh menurun. Terutama, ketika perubahaan cuaca.

“Penyebab ISPA ini, ketika kondisi gizi, imun, dan polusi menyerang balita,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Minggu (26/12).


Dijelaskan Masrikoh, penderita ISPA usia 0-60 bulan di Kabupaten Bekasi pada tahun 2021, sebanyak 971. Di Puskesmas Jatimulya dan Mekarmukti, menjadi yang tertinggi dengan jumlah 214 kasus. Sementara tahun 2020, sebanyak 1445.

“Kalau di wilayah itu kasus ISPA-nya tinggi, berarti pola hidup masyarakat, khususnya balita, kurang bersih dan baik, termasuk asupan gizinya,” terang wanita yang akrab disapa Ikoh ini.

Selain gizi dan imun balita yang harus diperhatikan, Ikoh juga menyarankan, agar menjaga kualitas udara, seperti asap rokok, karena itu menjadi faktor yang berpengaruh menyebabkan balita terkena ISPA.

“Kalau mau merokok, harus di luar rumah, nggak boleh di dalam rumah. Sebab, asap rokok bisa menimbulkan ISPA, itu salah satu penyebabnya,” terang Ikoh.

Dia juga menyarankan, agar balita harus mengikuti imunisasi dasar. Pasalnya, bagi balita usia di bawah lima tahun, itu harus dapat imunisasi, untuk mencegah terkena virus.

“Saat si balita tersebut sudah mendapatkan imunisasi lengkap, Insya Allah daya tahan tubuhnya terbentuk, tidak mudah terkena penyakit atau virus,” beber Ikoh. (pra)