Pembelajaran di Masa Pandemi dan Gerakan Literasi Nasional

Oleh : Hetty Rahmawati, M.Pd. (Guru SMP Negeri 1 Cibarusah)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pembelajaran di masa pandemi sangat menguras tenaga untuk kami para pengajar dan peserta didik khususnya, karena mereka harus berjuang sendiri demi mendapatkan nilai yang maksimal. Peran serta orang tua pun dalam hal ini sangat berpengaruh demi lancarnya pembelajaran di masa pandemi. SMP Negeri 1 Cibarusah mencoba mengikuti peraturan Pemerintah setempat Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi untuk mencoba melakukan pembelajaran tatap muka terbatas yang dalam satu kelas hanya 20 peserta didik yang diperkenankan mengikuti pembelajaran dengan jadwal yang telah diatur. Dalam hal ini pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan dengan dua shift dengan alokasi waktu masing-masing dua jam pembelajaran saja. Sejujurnya dengan alokasi waktu yang sangat singkat itu tidak akan kondusif dan jauh dari jangkauan kita dalam menyampaikan materi pembelajaran. Apa boleh buat semua sudah menjadi peraturan dan harus dilaksanakan.

SMP Negeri 1 Cibarusah telah melakukan pembelajaran tatap muka terbatas dengan peraturan dan jadwal yang telah ditentukan. Hanya pembelajaran yang dapat dilakukan selama tatap muka terbatas ini. Sebenarnya masih banyak kegiatan sekolah yang dilakukan di luar jam sekolah misalnya ekstrakurikuler yang telah ada sekian lamanya, misalnya Literasi dimana peserta didik menuangkan bakat dan minat membacanya dalam kegiatan tersebut. Kini semua hanya melalui aplikasi zoom meeting, tetapi ada juga perlombaan yang dilakukan selama 10 bulan dalam kegiatan Literasi yakni Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis Jabar. Kegiatan ini dilakukan oleh 9 peserta di antaranya 5 peserta didik, kepala sekolah, guru pembina, komite sekolah dan orang tua siswa. Kegiatan ini dilakukan secara daring pelatihan dilakukan selama 9 kali dengan cara daring hingga saat ini.


Akhir dari kegiatan GLN Gareulis Jabar 2021 akan mengadakan perkemahan literasi yang nantinya akan diumumkan siapa juara terbaik dari seluruh peserta tingkat Jawa Barat tahun 2021. Masing-masing peserta mengirimkan karya terbaiknya dan membaca buku sebanyak-banyaknya kemudian mengirimkan beberapa tugas yang telah ditentukan oleh panitia penyelenggara. Semoga Literasi di SMP Negeri 1 Cibarusah tetap semangat dengan keadaan pandemi sekalipun, peserta didik harus tetap membuka peluang dalam mengembangkan minat dan bakatnya dalam belajar. Awalnya merasakan kesulitan dengan perlombaan yang dilakukan dengan cara daring tapi peserta didik tetap semangat dengan mengikuti berbagai aturan yang dilakukan oleh panitia. Sepertinya memang komunitas Literasi “Calakan CBR” di SMP Negeri 1 Cibarusah setiap tahunnya telah memiliki penerus dari tiap peserta didik yang unggul. Mereka selalu semangat dalam kondisi apapun. Hobi yang menjadikan mereka tetap semangat, diantaranya mereka menanamkan hobi membaca. Anak kreatif akan tetap semangat dimanapun mereka berada dan dalam kondisi apapun. Literasi telah melahirkan banyak peserta didik dalam berbagai bidang, menulis esai, menulis puisi dan bahkan komunitas literasi di SMP Negeri 1 Cibarusah telah menciptakan karya buku sebanyak 3 buku dari angkatan pertama. Kepala SMP Negeri 1 Cibarusah yakni Bapak Ahmad Yani, S.Pd., MM. sangat mendukung kegiatan GLN Gareulis Jabar 2021 terbukti beliau pun ikut serta dalam mengirimkan karya yang telah ditentukan oleh panitia.

Literasi dan pembelajaran daring dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh peserta didik yang benar-benar ingin menjadikan literasi tetap jaya di SMP Negeri 1 Cibarusah. Permasalahan yang terjadi bukan hanya terdapat pada sistem media pembelajaran akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak di antara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.


Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat penting bagi peserta didik, jam berapa mereka harus belajar dan bagaimana data (kuota) yang mereka miliki, sedangkan orangtua mereka yang berpenghasilan rendah atau dari kalangan menengah kebawah (kurang mampu). Hingga akhirnya hal seperti ini dibebankan kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti pembelajaran daring. Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi siswa tersebut tempat tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil, karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi permasalahan yang banyak terjadi pada siswa yang mengikuti pembelajaran daring sehingga kurang optimal pelaksanaannya.

Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu seiring dengan new normal yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Sehingga proses pembelajaran bisa terlaksana seperti semula dengan kehadiran guru dan siswa yang saling berinteraksi langsung. Aamiin Ya Rabbal Alamin. (*)