Sepotret Kebahagiaan di Tengah Pandemi

Dimas Indra Purwanto, Statistisi Muda pada Badan Pusat Statistik

“Apakah aku bahagia?” Seringkali pertanyaan ini muncul terlebih saat ini masyarakat lebih sadar akan kesehatan mental. Pada dasarnya, menginginkan kebahagiaan merupakan keinginan dasar setiap manusia. Terlebih di saat situasi yang tidak normal melanda, masyarakat akan terus berusaha mencari kebahagiaan di saat keterbatasan mobilitas diterapkan.

Pandemi covid -19 telah melanda di Indonesia selama hampir 2 tahun. Banyak masyarakat yang mengalami fase sulit akibat dampak covid-19. Bahkan pada pertengahan tahun 2021, Indonesia mengalami fase sulit dengan jumlah harian kasus mencapai ratusan ribu kasus per hari.


Konsep Kebahagiaan

Bahagia merupakan salah satu jenis perasaan yang dialami oleh setiap orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan merupakan kesenangan dan ketentraman hidup lahir dan batin.


Untuk mengukur sebuah rasa yang bersifat kualitatif merupakan sebuah tantangan dan bisa dilihat dari berbagai aspek. Dalam publikasi World Happiness Report yang diterbitkan oleh Suistainable Development Solution Network, kebahagiaan diukur berdasarkan pendapatan, keadaan lingkungan sosial, angka harapan hidup, kebebasan memilih, kemurahan hari seseorang, dan persepsi korupsi. Sementara itu, Indonesia melalui Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur kebahagiaan dari 3 dimensi yakni kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup.

Dari penilaian yang ada, dalam menghitung happiness index masyarakat global lebih melihat kepada indikator capaian kepuasan hidup. Berbeda halnya dengan Indonesia, BPS melalui Survey Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) menambahkan aspek perasaan dan makna hidup untuk mengakomodir sifat budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia. Bahkan setelah melalui penelitian yang ada, bobot penghitungan ketiga dimensi tidak jauh berbeda.

Indeks Kebahagiaan Indonesia 2021

Berdasarkan rilis World Happiness Report, Indonesia berada di peringkat 82 dari 149 negara. Sebagai gambaran, peringkat Indonesia di bawah Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Bahkan beberapa nilai dimensi yang diukur pada tiap orang Indonesia berada di bawah rata-rata nilai negara ASEAN.

Nilai yang rendah tersebut sejalan dengan rendahnya nilai kepuasan hidup personal dengan nilai sebesar 70,26 poin, jauh di bawah kepuasan hidup sosial yang mencapai 80,07 poin. Unsur kepuasan personal inilah yang tampak secara kasat mata dan menjadi rujukan dalam penghitungan indeks kebahagiaan global. Pada aspek ini terdiri dari kepuasan pendidikan, kesehatan, pendapatan, pekerjaan, dan kondisi rumah. Lebih lanjut, pada dimensi ini dapat dilihat kesenjangan capaian yang didapatkan oleh masyarakat perkotaan dengan pedesaan dengan selisih nilai mencapai 4 poin.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia khususnya masyarakat pedesan masih sangat memegang teguh nilai kehidupan sosial dibuktikan dengan nilai kepuasan hidup sosial masyarakat Indonesia berada jauh di atas kepuasan personal. Dengan demikian, faktor kepuasan hidup sosial mempu meningkatkan kebahagiaan masyarakat Indonesia di tengah pandemi yang sedang melanda.

Seiring dengan pandemi yang terus terjadi, nilai dimensi perasaan masyarakat Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017. Bahkan nilai ini lebih rendah 2,98 poin dibandingkan pengukuran sebelumnya dengan angka 65,61 poin. Pada dimensi ini diukur mengenai perasaan senang, tidak khawatir, dan kecemasan seseorang. Berkebalikan dengan indeks perasaan yang mengalami penurunan, pada indeks makna hidup mengalami peningkatan dengan angka indeks 73,12 poin.

Hubungan Dimensi Sosial-Ekonomi terhadap Indeks Kebahagiaan

Dalam publikasinya, BPS menyebutkan terdapat 13 provinsi yang mempunyai indeks kebahagiaan tinggi dan mempunyai angka kemiskinan rendah. Menariknya terdapat 11 provinsi yang mempunyai indeks kebahagiaan tinggi dan angka kemiskinan tinggi. Namun demikian, secara umum, lebih banyak provinsi yang mempunyai angka kemiskinan dan indeks kebahagiaan berlawanan dibandingkan dengan provinsi yang mengalami anomali hubungan kemiskinan dan kebahagiaan.

Sementara itu pada indikator ketenagakerjaan lebih menunjukkan hubungan yang lebih jelas. Terdapat 24 provinsi yang mempunyai hubungan antara angka indeks kebahagiaan dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara berlawanan. Hal ini didukung oleh publikasi World Happiness Report yang menunjukkan tingkat kepuasan hidup orang yang mempunyai pekerjaan jauh di atas pengangguran. Bahkan kaum laki-laki pengangguran di Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dibandingkan perempuan mengingat laki-laki masih masih menjadi tulang punggung perekonomian utama di lingkungan keluarga.

Usaha Meningkatkan Kebahagiaan

Dari hasil penelitian yang ada, masyarakat Indonesia saat ini mempunyai perasaan lebih bahagia atas dasar kepuasan hidup sosial yang lebih tinggi dibandingkan kepuasan hidup personal. Bahkan dengan penimbang sama, jarak indeks kedua subdimensi hampir 10 poin. Hal ini menunjukkan ketimpangan yang nyata. Tidak dapat dipungkiri bahwa indikator pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kesehatan, dan kondisi rumah yang baik mampu meningkatkan kebahagiaan seseorang. Dengan demikian peran pemerintah melalui kebijakan dan pembangunan infrastruktur terbukti nyata mampu meningkatkan kebahagiaan masyarakat.

Tak hanya pemerintah, rendahnya dimensi perasaan bahkan lebih rendah dari tahun 2017 menunjukkan indikasi yang kurang baik. Efek pandemi menyebabkan masyarakat mengalami penurunan rasa senang serta peningkatan rasa cemas dan khawatir. Support system yang dibangun dengan baik dengan saling mendukung dan kesadaran akan lingkungan sosial di sekitar akan sangat membantu di saat pandemi melanda.   (*)