Ritual Iedul Adha & Keteladanan

Assoc.Prof. T. Syahrul Reza (Dosen Senior Institut Ilmu Sosial dan Manajemen  "STIAMI"( Institut Stiami) Jakarta,  Founder-CEO ASEAN Lecturer Community (ALC)-  www.aseanlecturer.com.  )

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dalam waktu dekat kita akan memasuki Iedul Adha 1443 H / 2022 M. Bagi masyarakat Indonesia ritual Iedul Fitri jauh lebih hiruk – pikuk ketimbang Iedul Adha, sebaliknya bagi masyarakat Timur Tengah, khususnya di Saudi Arabia, justeru Iedul Adha merupakan hari istimewa, sebab ibadah haji diselenggarakan pada bulan Zhulhijjah, tepatnya 10 Zhulhijjah di tandai dengan Wukuf di Arafah.


Rukun Utama Haji adalah Wukuf di Padang Arafah, suatu area yang sebenarnya cukup luas. Apabila dapat di misalkan area Arafah ibarat kawasan Taman Mini Indonesia Indah, suatu kawasan yang mempunyai batasan tertentu yang tidak sah ibadah haji bila wukufnya di luar batas teritorial Arafah. Ketika penulis menunaikan ibadah haji berama istri 2006 terlihat jelas batas-batas teritorial Arafah yang di pasang pada bagian atas tiang-tiang layaknya tiang lsitrik yang mudah terlihat oleh jemaah calon haji.

Tulisan ini hendak merefleksi makna ibadah haji, bukan hendak menjelaskan nostalgia penulis ketika berhaji yang merupakan masa haji “terheboh”, sebab pada tahun 2006 tersebut pemerintah Saudi menerapkan system pelayanan konsumsi bagi Jemaah haji di Arafah melalui satu perusahaan (monopolistik), sebelumnya di supply oleh masing-masing maktab (hotel) dimana Jemaah calon haji menginap di Kota Mekah.


Keyakinan Nabi Ibrahim

Pelajaran terpenting dari sejarah haji adalah Ketauhidan atau Keyakinan yang tulus dari Nabi Ibrahim AS. atas perintah Allah SWT dan ketulusan serta ketundukan anaknya Nabi Ismail AS pada amanah yang diemban oleh orang tuanya. Dalam banyak khutnah atau ceramah agama sudah sangat sering kita mendengar uraian kisah ayah dan anak (Nabi Ibrahin AS dan Nabi Ismail AS) yang sangat monumental sebagai pembelajaran bagi kita semua, khususnya umat islam.

Pelajaran terpenting pertama dari sejarah penyembelihan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS pada anaknya Nabi Ismail AS adalah soal keyakinan tanpa keraguan sedikitpun atas apa juapun yang datang dari Allah SWT, sami’na wa ata’na.  Dewasa ini krisis terbesar umat Islam justeru terkait dengan keyakinan atas kemaha kuasa Nya Allah SWT, atas  Rahman dan Rahim Allah SWT.

Di tengah meningkatnya gaya hidup Materialistic dan Hedonistic saat ini manusia yakin pada uang dan harta benda sebagai penjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup. Masih saja banyak orang berlomba-lomba menunjukkan kesuksesahan hidup melalui penguasa materi, kedudukan dan popularitas.

Pada saat uang, harta benda dan popularitas berkurang, menurun atau menjauh datanglah kekecewaan, kesedihan bahkan depresi sehingga banyak yang berakhir atau mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri atau terjerumus di lembah kemaksiatan, narkoba ataupun criminal. Keyakinan dan orientasi hidupnya bukan pada Allah SWT yang berkuasa dan memiliki apa yang ada di langit maupun di bumi.

Keteladanan dan Kepedulian

Pelajaran lain dari ritual Iedul Adha adalah keteladanan dan kepedulian. Apa yang di contohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menunjukkan suatu contoh keteladanan, baik dari secara ayah maupun anak. Keteladanan yang menunjukkan sama-sama ta’at pada Allah SWT meskipun nyawa sekalipuns sebagai taruhannya.

Dari sisi lain kita melihat  juga kuasa Allah SWT menggantikan jasad Nabi Ismail AS dengan seekor kambing (kibas) sehingga saat ini sembelihan di hari Iedul Adha tersebut telah memberi imfact yang sangat besar, bukan saja bagi mereka kaum dhuafa jarang mengkonsumsi daging namun juga bagi peternak, pemelihara, pedagang hingga pada pekurban sendiri yang merasa bahagia dapat berbagi rezeki.

Pelajaran berkurban ini merupakan suatu pesan kepedulian untuk Sharing an Giving dan yang mampu berpunya kepada yang dhuafa, meskipun sebagian dagingnya boleh di konsumsi oleh si pekurban. (*)