Berita Bekasi Nomor Satu

Jejak Hijrah di Tsur

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pagi itu langit Makkah berwarna biru terang. Matahari baru saja muncul dari balik perbukitan ketika saya dan beberapa rekan meninggalkan hotel sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Udara masih terasa sejuk, meski kami tahu suhu Kota Suci akan segera meningkat seiring meningginya matahari.

Tujuan kami pagi itu bukan Masjidil Haram, melainkan sebuah bukit batu yang menyimpan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah Islam: Jabal Tsur.

Dari Terminal Ajyad, kami menaiki taksi dengan tarif 80 riyal Saudi. Sekitar tiga puluh menit kemudian kendaraan berhenti di kaki bukit. Dari kejauhan, Jabal Tsur tampak menjulang kokoh. Warna cokelat keabu-abuan mendominasi seluruh permukaannya. Lerengnya terjal, dipenuhi batu-batu besar, nyaris tanpa pepohonan yang dapat memberikan keteduhan.

Melihat bukit itu dari bawah saja sudah membuat saya membayangkan betapa berat perjalanan yang pernah ditempuh Rasulullah Muhammad SAW bersama sahabat setianya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di tempat inilah keduanya berlindung ketika hijrah dari Makkah menuju Madinah, saat kaum Quraisy berusaha menghentikan dakwah Islam.

Di lokasi pendakian tersedia tiga pilihan jalur menuju puncak. Ada jalur anak tangga, jalur kendaraan SUV dengan tarif sekitar 40 riyal, dan jalur setapak berbatu yang lebih menantang. Namun kendaraan hanya mampu mengantar hingga separuh perjalanan. Selebihnya, semua pengunjung tetap harus berjalan kaki.

Saya dan rombongan memilih jalur setapak di sisi timur bukit. Jalur ini memang lebih berat, tetapi kami ingin merasakan sedikit gambaran tentang kerasnya medan yang pernah dilalui Rasulullah SAW.

Langkah-langkah awal terasa ringan. Kami masih sempat bercanda dan saling mengambil foto. Namun suasana itu tidak berlangsung lama. Semakin tinggi pendakian, jalan semakin curam. Batu-batu tajam dan licin berserakan di sepanjang jalur. Beberapa kali kami harus mencari pijakan yang benar-benar aman sebelum melangkah.

Belum setengah perjalanan, napas saya mulai tersengal. Keringat mengucur deras membasahi wajah dan pakaian. Tenggorokan terasa kering. Persediaan air yang saya bawa ternyata tidak cukup untuk perjalanan sepanjang ini.

Saya sempat beranggapan akan banyak pedagang makanan dan minuman di sepanjang jalur pendakian. Dugaan itu ternyata keliru. Rasa haus perlahan berubah menjadi ujian kesabaran.

Pendakian menuju puncak memakan waktu sekitar dua setengah jam. Dalam perjalanan, kami sedikitnya sepuluh kali berhenti untuk beristirahat. Setiap kali berhenti, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur napas sambil memandang hamparan Kota Makkah yang perlahan semakin luas terlihat dari ketinggian.

Di salah satu tikungan jalur pendakian, kami bertemu seorang pedagang yang menjual lemon tea dingin. Segelas kecil seharga dua riyal terasa seperti hadiah yang sangat berharga. Minuman sederhana itu seketika menyegarkan tenggorokan yang sejak tadi terasa terbakar oleh dahaga.

Di sepanjang perjalanan, peziarah datang silih berganti. Ada yang masih muda dan melangkah cepat tanpa banyak berhenti. Ada pula yang sudah lanjut usia, berjalan perlahan sambil sesekali berpegangan pada batu.

Salah seorang rekan kami, Firdaus, memilih berjalan lebih lambat. Ia meminta kami melanjutkan perjalanan lebih dulu.

“Nanti saya menyusul. Pelan-pelan saja,” katanya sambil tersenyum.

Semakin mendekati puncak, suasana batin saya mulai berubah. Pendakian ini tidak lagi sekadar perjalanan fisik. Setiap langkah menghadirkan ruang untuk merenung. Di tengah medan yang berat ini, saya membayangkan Rasulullah SAW dan Abu Bakar mendaki bukit dalam kondisi penuh ancaman, tanpa kepastian selain keyakinan kepada Allah SWT.

Di beberapa titik, kemiringan jalur membuat kami harus merangkak menggunakan kedua tangan agar tidak terpeleset.

“Awas, hati-hati. Batu di depan licin,” teriak salah seorang rekan mengingatkan.

Peringatan itu membuat kami semakin waspada. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, risiko tergelincir cukup besar.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga, kami tiba di puncak Jabal Tsur.

Angin bertiup lebih kencang. Dari ketinggian, Kota Makkah tampak membentang luas. Gedung-gedung tinggi terlihat kecil. Menara Zamzam Tower berdiri megah di tengah kota, seakan menjadi penanda peradaban modern yang kini mengelilingi tanah kelahiran Islam.

Namun tujuan utama kami bukanlah menikmati panorama. Beberapa langkah dari tempat kami berdiri terdapat Gua Tsur, gua kecil yang menjadi saksi peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Di tempat inilah Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi selama tiga hari dari kejaran kaum Quraisy.

Gua itu jauh lebih kecil daripada yang selama ini saya bayangkan. Mulut guanya sempit. Untuk masuk ke dalam, setiap pengunjung harus bergantian dan menundukkan badan. Ruang di dalamnya hanya cukup ditempati dua orang.

Kami hanya memiliki waktu sekitar tiga puluh menit di kawasan puncak. Petugas keamanan berjaga mengatur arus peziarah yang terus berdatangan. Antrean tidak pernah putus.

Saat akhirnya memasuki gua, hati saya mendadak terasa sesak. Di tempat yang sederhana dan sempit ini tersimpan kisah besar yang mengubah perjalanan sejarah umat manusia.

Saya membayangkan bagaimana Rasulullah SAW dan Abu Bakar bertahan selama tiga hari di tengah ancaman yang begitu dekat. Saya membayangkan kegelisahan, keteguhan, sekaligus keyakinan yang memenuhi ruang sempit itu.

Di tengah suasana haru tersebut, rekan saya, Zainal, tak mampu menyembunyikan emosinya.

“Saat melihat langsung Gua Tsur, saya merasakan betapa berat perjuangan Rasulullah. Mendaki bukit ini membuat saya semakin memahami pengorbanan beliau dalam mempertahankan Islam,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Beberapa peziarah lain tampak meneteskan air mata. Mereka datang bukan sekadar melihat situs sejarah. Mereka datang untuk menyentuh jejak perjuangan yang selama ini hanya mereka baca dalam kitab-kitab sirah.

Memang tidak ada kewajiban ataupun anjuran khusus bagi jamaah haji untuk mendaki Jabal Tsur. Pemerintah Arab Saudi bahkan memasang sejumlah peringatan agar peziarah tidak memaksakan diri karena medan yang cukup berbahaya, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi fisik kurang prima.

Namun setiap tahun ribuan orang tetap datang. Kerinduan untuk melihat langsung tempat bersejarah ini seolah mengalahkan rasa lelah yang harus dibayar selama perjalanan.

Saat menuruni bukit, kaki saya masih terasa pegal dan tubuh belum sepenuhnya pulih. Tetapi di balik kelelahan itu tersimpan rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Berdasarkan data yang ada, tinggi Jabal Tsur sekitar 5.000 kaki atau sekitar 1.500 meter. Seperti halnya bukit-bukit yang ada di wilayah Kota Makkah, bukit tersebut merupakan bukit batu dengan kemiringan mencapai 45 derajat.

Jabal Tsur bukan sekadar bukit batu yang menjulang di pinggiran Makkah. Ia adalah monumen keteguhan iman. Sebuah pengingat bahwa dalam sejarah Islam, kemenangan besar sering kali lahir dari perjuangan yang berat, pengorbanan yang panjang, dan keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang tepat.(*)