Berita Bekasi Nomor Satu

Ya Tidak

Respon positif kembali diberikan pasar saham Indonesia dalam menyambut hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang berlangsung pada Senin (19/10/2026) lalu.-dok disway-

Oleh: Dahlan Iskan

 

Orang yang terus dibombardir berita buruk bisa kena penyakit jiwa. Berarti masyarakat rugi dua kali: rugi tingkat kesejahteraannya dan rugi kesehatan jiwanya.

 

Siapa yang tersalah?

 

Yang menyiarkan berita-berita buruk atau yang menciptakan kejadian buruk –yang menjadi penyebab banjirnya berita buruk?

 

Anda bisa berkelahi untuk mencari siapa yang paling salah. Yang berkelahi itu ruginya menjadi tiga kali.

 

Maka hari ini Disway menulis berita baik: harga saham di Bursa Efek Indonesia naik lebih 5 persen hari Selasa kemarin. Kalau dihitung jumlah penurunan Sabtu dan Senin lalu angkanya 11+3 persen: berarti total penurunannya tinggal 9 persen. Jangan dibandingkan selama tahun 2026 –yang sejak Januari lalu turunnya sampai 40 persen.

 

Pimpinan Bursa Efek Indonesia langsung ge-er: kenaikan saham 5 persen kemarin berkat perubahan kebijakan bursa. Yakni diubahnya batas penghentian transaksi otomatis dari 15 persen ke 7 persen. Misalkan waktu pasar dibuka di pagi hari kemarin harga saham PT Leong Putu Tbk (LEPU) Rp1000/lembar. Pukul 11.00 harga itu turun jadi Rp920/lembar. Maka harga LEPU sudah turun lebih 7 persen. Otomatis transaksi dihentikan. Artinya tidak bisa turun lagi meski yang antre menjual masih banyak.

 

Mereka yang antre jual itu tidak bisa jual saham mereka –kecuali ada pembeli yang mau beli dengan harga di atas Rp 930/lembar. Tentu, mana ada orang yang membeli saham LEPU sebesar itu sementara harganya sudah di bawah itu.

 

Maka harus tunggu hari berikutnya. Misalnya hari berikutnya saham LEPU dibuka dengan harga Rp 930/lembar. Begitu turun lagi tujuh persen lagi perdagangan dihentikan lagi. “Dengan demikian berkuranglah jual saham akibat panik,” ujar pengurus bursa.

 

Tentu tidak semua setuju kenaikan lima persen kemarin berkat kebijakan yang baru akan berlaku tanggal 1 Desember 2026. Pengamat pasar modal umumnya melihat penurunan dua hari berturut itu sudah sampai asfalas safilin. Secara hukum alam tidak mungkin ada angka di bawah asfalas safilin. Maka para pemain saham sampai pada kesimpulan: kini saatnya beli. Tidak mungkin turun lagi.

 

Tentu yang pertama punya pikiran seperti itu adalah para pemilik perusahaan. Terutama yang merasa kinerja perusahannya bagus. Mereka tidak rela harga saham seturun itu. Maka dengan memakai tangan-tangan tersembunyi mereka mulai membeli saham perusahannya sendiri. Setidaknya ikut menyelamatkannya.

 

Tentu gerakan ”saatnya membeli” seperti itu mengincar saham perusahaan-perusahaan profesional. Maka saham lima bank besar naik sampai 9 persen (Bank Mandiri), 8 persen( BBRI), dan BBCA naik lebih 6 persen.

 

Tulisan yang baik adalah yang bisa menyelipkan humor biar pun di tengah bahasan yang serius. Humor hari ini adalah harga saham GoTo. Selasa kemarin ikut naik drastis: 9 persen. Tumben. Hebat. Tapi jangan dilihat persentasenya. Lihatlah berapa rupiah kenaikannya: naik Rp2/lembar. Menjadi Rp26/lembar.

 

Bayangkan betapa babak belurnya GoTo. Di bulan April 2022 harga saham GoTo setinggi Rp 442/lembar. Terjun bebas jadi Rp50/lembar. Itu pun karena ada aturan harga saham tidak boleh lebih rendah dari gocap.

 

Tapi ketika bulan lalu muncul peraturan bursa yang baru saham GoTo terjun lagi tinggal Rp24/lembar. Tanggal 28 September lalu memang terbit peraturan harga saham terendah tidak harus Rp50 melainkan bisa tinggal Rp1/lembar.

 

Apakah sudah ada yang jatuh sampai Rp1? Ternyata ada. Bahkan tiga emiten: MKNT (Mitra Komunikasi Nusantara Tbk), SBAT (Sejahtera Bintang Abadi Textil Tbk), dan TOPS (Totalindo Eka Persada Tbk).

 

MKNT dulunya jualan pulsa. Pasarnya habis. Lalu jualan benang.

SBAT bergerak di bidang daur ulang kain. Dijadikan antara lain kain pel. Pernah ekspor. Lalu mengalami kesulitan.

 

Sedang TOPS adalah perusahaan kontraktor gedung bertingkat dan usaha properti.

 

Apakah kenaikan saham 5 persen Selasa kemarin benar-benar mutiara di tengah lumpur? Bisa ya dan tidak. Tetap saja itu kabar baik karena sentimen terasa membaik. Tapi bisa juga belum sebenar-benar kabar baik karena ini: pihak asing masih terus melepas sahamnya. Itu baru benar-benar kabar surga kalau domestik dan asing sama-sama mulai membeli.

 

Dua tahun telah berlalu. Ada yang berharap tahun ketiga dimulai dengan kabinet baru: Ya? Tidak? (Dahlan Iskan)