Berita Bekasi Nomor Satu

Dibayangi The Fed dan Harga Minyak, Potensi Rupiah Melemah Lagi

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. Foto: dok. Jawa Pos/Salman Toyibi.

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (27/10/2026), usai ditutup melemah 55 poin menjadi Rp 18.130 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026).

Kebijakan yang akan diambil bank sentral Amerika Serikat atau The Fed pekan ini, juga fluktuasi harga minyak dunia masih akan menekan rupiah.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

“Untuk perdagangan (27/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.130-Rp 18.180,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (27/10/2026).

BACA JUGA: Rupiah Nyaris Rp18 Ribu per Dolar AS, Investor Asing Mulai Ramai Angkat Kaki

Ibrahim mengatakan, sentimen dari luar negeri berasal dari agenda ekonomi di Amerika Serikat yang akan terjadi pada minggu ini.

Salah satunya adalah pertemuan Bank Sentral AS The Fed yang akan melaksanakan pertemuan pada Selasa dan Rabu waktu setempat.

 

“Rilis keputusan kebijakan pada hari Rabu (Kamis dini hari WIB), yang akan diikuti oleh rilis indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, pada hari Kamis,” ujarnya.

 

Dari dalam negeri, kekhawatiran fiskal kembali meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak global, mengingat Indonesia berstatus sebagai importir neto minyak.

 

Pasalnya, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina.

Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi.

Terutama apabila harga BBM domestik, khususnya BBM subsidi tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

 

“Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN,” jelasnya.

 

Perubahan asumsi dasar ekonomi makro Indonesia juga sensitif terhadap pelebaran defisit APBN 2026.

 

Ada dua dari tiga asumsi makro yang dinilai cukup sensitif terhadap defisit APBN, yakni kenaikan yield SBN dan depresiasi rupiah.

“Kenaikan setiap 0,1 persen yield SBN dapat memperlebar defisit sebesar Rp 1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah setiap Rp 100 per dolar AS bisa menambah defisit Rp 800 miliar,” imbuhnya.  (jpc)