Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Hindari Topan, Kontingen Bekasi Dievakuasi

ISTIMEWA/RADAR BEKASI BERKEMAS : Salah seorang kontingen asal Kota Bekasi, saat mengemasi barang di tenda. Mereka akan pindah untuk menghindari badai topan Khanun yang bakal terjadi pada 9 hingga 10 Agustus besok.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Puluhan ribu peserta World Scout Jamboree atau Jambore Pramuka Sedunia ke 25 termasuk 101 kontingen dari Kota Bekasi, dievakuasi lebih cepat dari jadwal semula untuk menghindari Topan Khanun. Pagi ini, 39 ribu peserta yang masih bertahan dipindah secara bertahap dari Bumi Perkemahan Sae Man-Geum menuju Seoul dan sekitarnya, Selasa (8/8).

“Sejauh ini sih (kondisi) masih baik-baik saja, adik-adik sekarang lagi proses packing barang,” kata Andalan Bina Muda Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Bekasi, Ronald Stevanus Saptenno memastikan kondisi kontingen dari Kota Bekasi dalam keadaan aman, Senin (7/8).

Pihaknya telah mendengar informasi yang disampaikan langsung oleh Pemerintah Korea Selatan, Topan Khanun diperkirakan melanda area bumi perkemahan pada 9 dan 10 Agustus besok. Kemarin, seluruh kontingen dari Kota Bekasi bersiap-siap mengemas barang-barang untuk keluar dari area bumi perkemahan.

Informasi terakhir yang diterima, seluruh peserta Indonesia termasuk dari Kota Bekasi masih dalam keadaan aman dan bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan. Sampai dengan Senin (7/8) malam, peserta Indonesia masih tampil pada pertunjukan kesenian di panggung utama bersama 15 negara lain yang lolos seleksi tampil di panggung utama Jambore.

Pukul 19:19 WIB malam, Ronald menyampaikan sebagian besar kontingen dari Kota Bekasi telah selesai berkemas sebelum pemindahan.”Sebagian besar sudah, tapi masih on progres,” tambahnya.

Kontingen gerakan Pramuka Indonesia telah menyiapkan rencana darurat untuk menghindari amukan Topan Khanun. Sedangkan proses pemindahan yang masih ada dari 155 negara diatur oleh kemarin Korea Selatan.

Pergerakan peserta ke lokasi aman di Seoul dan sekitarnya diawali oleh peserta didik, dilanjutkan dengan orang dewasa. Diperkirakan pemindahan memakan waktu 14 jam, dengan mengerahkan seribu bus.

“Rencana besok pagi jam 08:00 mulai pergerakan meninggalkan area Jambore. Lokasi pemindahan di sekitar Kota Seoul,” ungkap KaPusinfo Kwarnas, Adi Pamungkas.

Selama berada di lokasi yang baru nanti, KBRI menyiapkan beberapa mahasiswa Indonesia untuk membantu peserta didik berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait di lokasi pemindahan. Pimpinan Kontingen Gerakan Pramuka, Mayjen TNI Mar (Purn) Yuniar Ludfi memastikan pada pembina pasukan agar 1.569 peserta Indonesia dapat dipindahkan sesuai jadwal.

Pemulangan kontingen ke tanah air tetap berlangsung sesuai rencana, yakni pada tanggal 12, 13, dan 14 Agustus mendatang.

Keberadaan ratusan kontingen dari Kota Bekasi direspon oleh Plt Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, memastikan semua kontingen dalam keadaan baik dan bersemangat menjalankan tugas.”Saya terus berkoordinasi dengan Kwarcab dan juga Pramuka pusat agar mereka lebih mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Menurutnya, cuaca di Korea Selatan memang cukup terik, pernah ia rasakan saat berkunjung beberapa waktu lalu. “Kita doakan mereka tetap bisa mampu bertahan untuk melanjutkan tugasnya dan mengikuti setiap kegiatan-kegiatan yang ditetapkan oleh Pramuka dunia,” tambahnya.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Korsel Gandi Sulistiyanto menyampaikan, pemerintah setempat telah melakukan brifing rencana darurat terkait potensi dampak Khanun kemarin. Dalam brifing tersebut, kata dia, Vice Minister for Disaster and Safety Management di Ministry of the Interior and Safety (MOIS) Korea Selatan Kim Sung-ho menyampaikan evakuasi dilakukan sesuai arahan Presiden Yoon Suk-yeol.

”Evakuasi akan dimulai besok (hari ini, 8/8) pada pukul 10 pagi kepada 36 ribu peserta dari 156 negara,” ujar Gandi kemarin (7/8).

Jambore Pramuka Sedunia Ke-25 digelar di Korsel pada 1–12 Agustus. Indonesia mengirimkan kontingen berkekuatan 1.569 orang yang dipimpin Ketua Kontingen Mayjen TNI Mar (Purn) Yuniar Ludfi. Kekuatan tersebut terbagi atas 37 unit (pasukan) dan tiap pasukan rata-rata berisi 4 regu dengan tiap regu terdiri atas 9 peserta berusia 14–17 tahun dan 1 pembina pendamping regu.

Untuk lokasi evakuasi, pemerintah Korsel menyediakan sekitar 1.000 bus yang dibagi untuk tiap-tiap negara. Penerjemah juga akan disediakan di setiap bus. Untuk menjamin kelancaran dan ketertiban, berbagai pihak turut membantu. Di antaranya, polisi serta dinas pemadam kebakaran.

Terkait lokasi evakuasi, Gandhi mengatakan, para peserta akan ditempatkan di fasilitas pemerintah dan swasta yang tidak terdampak topan. Hal itu turut diamini Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Berthold Sinaulan saat dihubungi kemarin (7/8).

Menurut dia, seluruh kontingen telah diberi informasi mengenai rencana pemindahan seluruh peserta. Dari rapat yang digelar diketahui topan Khanun sudah bergerak mendekati Sae Man-geum.

”Peserta jambore akan dikeluarkan dari bumi perkemahan Sae Man-geum lebih cepat dari rencana semula pada 12 Agustus 2023,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, persiapan evakuasi tengah dilakukan. Peserta kontingen dari Indonesia pun sudah berkemas untuk mulai dievakuasi pagi ini.”(Lokasi pengungsian, Red) di sekitar Seoul sedang dibahas malam ini (tadi malam) dalam rapat bersama antara pemerintah Korsel, panitia, dan ketua kontingen semua negara yang ikut serta,” ungkapnya.

Meski harus ada proses evakuasi ini, Berthold memastikan kondisi para peserta dari Indonesia baik. Karena itu, dia mengimbau para orang tua peserta tidak perlu khawatir.

Apalagi, kemungkinan Khanun datang pada 9–10 Agustus. Karena itu, masih ada waktu untuk packing dan masuk bus untuk dibawa ke tempat penampungan.

Selain itu, dia menegaskan bahwa kontingen Gerakan Pramuka Indonesia telah menyiapkan rencana darurat sejak awal untuk menghindari amukan Khanun tersebut. Kedubes RI di Seoul dan Pemerintah Provinsi Jeollabuk pun siap membantu.

Sebelum proses evakuasi akibat ancaman badai tropis tersebut, 36 ribu peserta jambore sempat dilanda cuaca panas ekstrem. Suhu di area perkemahan dilaporkan mencapai 38–40 derajat Celsius di siang hari.

Kondisi itu pun membuat banyak peserta yang kewalahan. Bahkan, ada ratusan peserta yang mengalami heatstroke dan harus dirawat di rumah sakit.

Berthold menyatakan, ada beberapa peserta dari Indonesia yang juga harus dirawat karena kepanasan dan kaki terluka serta terkilir. Namun, semuanya telah dirawat dengan baik dan dinyatakan boleh kembali ke tenda masing-masing.

”Kondisi 1.569 peserta dari Indonesia sudah dapat ditangani dengan baik. Beberapa yang sakit sudah dirawat dan telah kembali pulih,” ungkapnya.

Sayangnya, dia tak memerinci berapa jumlah peserta Indonesia yang harus dirawat ini. ”Yang pasti kontingen dan Kedubes RI di sini akan memastikan dan memperhatikan seluruh anggota kontingen sebaik mungkin,” sambungnya.

Kontingen Indonesia bahkan masih mengikuti kegiatan yang dilaksanakan. Misalnya, pada Minggu (6/8) lalu mereka berpartisipasi dalam cultural day. Para peserta Indonesia mengenakan beragam pakaian adat serta menyajikan kuliner khas Indonesia untuk dicicipi para peserta mancanegara.

Menurut dia, pemerintah Korsel sigap mengambil sejumlah langkah dalam mengatasi cuaca panas yang melanda. Selain penyiraman jalan di pagi dan siang hari, jumlah tenaga dan peralatan kesehatan ditambah.

Bukan hanya itu, pemerintah Korsel juga menyediakan cukup banyak bus berpendingin udara (AC) yang diparkir di sejumlah tempat di arena jambore. Bus dapat digunakan berteduh oleh para peserta jika sudah merasa sangat kepanasan.

Selain itu, di sejumlah terowongan peneduh disediakan semburan air sewaktu-waktu. Khusus untuk peserta, disediakan pula payung yang dapat digunakan sambil berjalan berkeliling.

Rencana darurat berupa evakuasi pun sempat disiapkan Kedutaan Besar RI di Korea Selatan bekerja sama dengan pemerintah Korsel, termasuk Pemerintah Provinsi Jeollabuk, bila benar-benar cuaca tidak tertahankan. Di antaranya, menyediakan dua unit sekolah untuk tempat evakuasi yang akan dibantu langsung oleh Kepolisian Korsel.

”Kami juga dibantu kendaraan KBRI Seoul sehingga para pimpinan dan dokter kontingen berkeliling secara rutin memeriksa kesehatan anggota kontingen,” katanya.

Ada empat dokter di kontingen yang senantiasa memastikan kondisi para peserta. Selain itu, di setiap unit ada pembina pasukan dan empat pembina pendamping regu yang mengawasi seluruh peserta.

Sebelum ada evakuasi, pemerintah Korsel telah menjanjikan jadwal tur budaya. Sedangkan konser K-pop dijadwalkan pada Jumat (11/8) sebelum acara resmi ditutup pada 12 Agustus.

Topan Khanun diperkirakan tiba di Korsel pada Kamis (10/8). Badai tersebut telah membuat dua orang meninggal di Jepang. Saat sampai di Korsel, kekuatannya bakal melemah menjadi kategori 1 atau bahkan badai tropis. Namun, tetap saja kekuatan angin yang ia bawa cukup besar, yaitu 44 meter per detik. Itu cukup untuk membuat kereta yang sedang melaju tergelincir dari rel.

Pengumuman tentang evakuasi datang setelah Organisasi Gerakan Kepanduan Dunia (WOSM) mengatakan bahwa pihaknya meminta Korsel untuk segera memindahkan peserta dari jalur badai. Dan, menyediakan semua sumber daya serta dukungan yang diperlukan untuk peserta selama mereka tinggal dan sampai mereka kembali ke negara asal.

Mengutip AFP, jambore tersebut sejak awal dirundung beragam masalah. Media-media lokal bahkan menyebut kegiatan tersebut sebagai aib nasional.

Padahal, persiapan sudah dilakukan selama enam tahun. Beberapa delegasi sudah pulang lebih awal karena gelombang panas. Ratusan peserta dilarikan ke rumah sakit karena mengalami heatstroke.

Delegasi Inggris yang berjumlah 4.500 orang sudah hengkang dari lokasi kemah sejak Sabtu (5/8) karena cuaca panas yang tidak tertahankan. Mereka pindah ke hotel di Seoul.

Hal itu membuat Asosiasi Pramuka Inggris harus mengeluarkan GBP 1 juta atau setara Rp 19,4 miliar. Pengeluaran dadakan tersebut bakal membuat beberapa program Pramuka di Inggris harus tertunda setidaknya selama 3–4 tahun ke depan. Jumlah delegasi Inggris merupakan yang terbesar di acara tersebut.

Singapura dan AS juga meninggalkan area kemah bersamaan dengan delegasi Inggris. Para peserta asal AS dipindahkan ke Kamp Humphreys yang merupakan pangkalan militer AS di Korsel.

Awalnya, ketika ratusan peserta jatuh sakit akibat kepanasan, penyelenggara acara bersikukuh bahwa acara jambore akan terus berlanjut di lokasi tersebut. Namun, mereka harus mengubah rencana akibat badai.

Media juga melaporkan tentang drainase yang buruk di lokasi tersebut, kamar mandi dan toilet yang belum sempurna, serta gigitan serangga yang memengaruhi sebagian besar remaja peserta acara tersebut. ”Salah satu faktor terbesar dalam rangkaian masalah yang menimpa jambore adalah acara tersebut diselenggarakan pejabat pemerintah dan bukan ahli Pramuka,” ujar Lee Hoon, seorang profesor pariwisata di Universitas Hanyang, Seoul. (sur/sha/lyn/mia/c19/ttg)