Berita Bekasi Nomor Satu
Opini  

Pembuka Pintu Keberkahan

Oleh: Achmad Muwafi, Lc (Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Bekasi, Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Kepala SMPIT Baitul Halim Bekasi)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dalam Al-Quran telah diterangkan betapa pentingnya keimanan dan ketakwaan. Takwa tidak hanya menjadi pintu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Takwa juga menjadi pintu pembuka keberkahan yang datang dari langit dan bumi. Allah swt berfirman, “Andaikan penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan yang datang dari langit dan bumi, akan tetapi mereka semua mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami datangkan siksa bagi mereka disebabkan (dosa-dosa yang mereka) lakukan.” (QS. Al-A’raf ayat 7)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan keberkahan yaitu tumbuh, berkembang, bertambahnya kebaikan yang berkesinambungan.
Takwa tidak cukup hanya disimpan di dalam hati, tetapi takwa harus dapat diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari kapan dan dimana saja. Rasulullah saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan keburukan, engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)
Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, di dalamnya mengandung hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Hak Allah SWT yang disebutkan dalam hadits ini adalah kewajiban bertakwa kepada Allah serta melakukan kebaikan atas keburukan yang telah dilakukan. Karena setiap kebaikan dapat membayar dan menghapus atas kesalahan itu.
Adapun hak-hak kepada sesama manusia yaitu bermuamalah dengan mereka dengan perkataan dan perbuatan yang baik. Tidak mengganggu mereka dalam bentuk apapun. Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa seorang mukmin yang memiliki akhlak yang baik itu menjadi bukti kesempurnaan keimanannya. Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud)
Kisah Nabi Muhammad SAW ke Thaif menjadi pelajaran yang sangat berharga. Peristiwa ini terjadi di bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian. Rasulullah saw mencari perlindungan dan dukungan dakwah ke Thaif setelah mendapatkan berbagai bentuk penolakan dari kaum kafir Quraisy Mekah.
Di Thaif bukan penerimaan dan penyambutan yang hangat, justru beliau diusir, dihina, dan dilempari batu sampai terluka. Rasulullah saw menyebutkan bahwa peristiwa itu lebih berat daripada perang Uhud karena luka fisik dan penolakan batin yang mendalam.
Kemudiann Allah SWT mengutus malaikat penjaga gunung untuk menawarkan bantuan dengan membinasakan seluruh penduduk Thaif sebagai balasan atas perbuatan zalim mereka. Namun beliau SAW menolak tawaran tersebut, justru beliau mendokan agar keturunan penduduk Thaif kelak menjadi hamba-hamba Allah yang beriman. (*)