RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan terus memperkuat pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Program ini menjadi salah satu strategi penting dalam pengendalian penyakit kronis di Indonesia, terutama diabetes melitus dan hipertensi, yang jumlah penderitanya terus meningkat.
Memiliki riwayat hipertensi tidak membuat Giyem (65) kehilangan semangat hidup. Saat ditemui Tim Jamkesnews pada 8 Juni 2026, ia mengaku semula menganggap hipertensi sebagai penyakit yang lazim dialami lansia. Namun, setelah mendapat penjelasan dari tenaga medis di puskesmas, ia baru mengetahui bahwa hipertensi yang tidak terkontrol dapat memicu penyakit yang lebih serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan saraf. Karena itu, ia disarankan rutin memantau kesehatannya dan mengikuti Prolanis.
“Saya sudah setahun terakhir bergabung menjadi peserta Prolanis, Sebelum ikut Prolanis, saya tidak pernah cek tekanan darah secara rutin. Namun setelah ikut, saya jadi terbiasa kontrol tekanan tiap bulan. Dokternya sabar, selalu memberi penjelasan dan saya merasa diperhatikan. Sekarang saya lebih tenang dan tahu bagaimana menjaga tekanan darah saya agar tetap stabil. Alhamdulillah sudah jarang merasa pusing kaya dulu,” ujarnya.
Melalui Prolanis, peserta dapat mengikuti berbagai kegiatan untuk menjaga kondisi kesehatannya, seperti konsultasi medis, klub Prolanis, home visit, penyuluhan kesehatan, senam Prolanis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan status kesehatan
“Anggota Prolanis di tempat saya ada sekitar 20 orang. Dalam setiap bulan ada jadwal tertentu untuk kita datang senam dan melakukan pemeriksaan kesehatan. Kalau kebetulan ada keluhan juga bisa langsung dikonsultasikan dengan dokter saat kegiatan Prolanis. Menurut saya layanan Prolanis sejauh ini bagus dan kegiatannya sangat bermanfaat. Saya merasa lebih sehat dengan mengikuti senam, hati juga jadi senang karena bertemu banyak teman yang hampir semua usianya sebaya dengan saya,” jelasnya.
Giyem mengakui bahwa dengan mengikuti Prolanis dapat menciptakan komunitas yang positif dengan saling berbagi pengalaman dan saling memberikan semangat.
“Rasanya seperti punya keluarga baru. Kami saling menyemangati untuk tetap sehat. Dulu saya merasa sendiri dengan penyakit ini, tapi sekarang saya merasa didampingi dan diperhatikan,”ungkapnya.
Giyem mengucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan karena telah menciptakan Prolanis. Ia berharap agar informasi tentang Prolanis dapat disebarluaskan lagi secara massif kepada masyarakat, agar masyarakat bisa tertarik mengikuti Prolanis.
“Menurut saya Prolanis sangat bagus tapi belum banyak orang yang tahu. Ini menurut saya suatu tantangan besar buat BPJS Kesehatan yah, bagaimana caranya agar peserta yang memiliki penyakit kronis dapat terinfo dan bergabung ke dalam Prolanis. Soalnya banyak peserta yang masih menganggap remeh penyakit hipertensi dan penyakit kronis lainnya. Masih banyak juga orang yang tidak tahu tentang apa sih Prolanis itu. Saya harap informasi disebarkan lebih luas lewat bisa lewat komunitas, RT, masjid, gereja, dan media sosial. Ini program bagus, sayang kalau tidak dimanfaatkan,” tutupnya. (*)









