Berita Bekasi Nomor Satu
Disway  

Lama Profesor

 

Oleh Dahlan Iskan

Harusnya lima tahun yang lalu pun Dr dr Brahmana Askandar sudah layak dikukuhkan jadi profesor. Tapi nyatanya baru Rabu pagi ini gelar guru besar itu diperoleh –di Universitas Airlangga Surabaya.

 

Ia ahli kanker kandungan terkemuka. Tapi ia juga seorang aktivis. Akseptabilitasnya yang tinggi di kalangan mana pun membuat dirinya sering terpilih sebagai pengurus di berbagai macam organisasi. Termasuk sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya. Bahkan ia dokter pertama Indonesia yang jadi pengurus asosiasi dunia untuk kanker kandungan. “Tidak sempat mengurus guru besar,” katanya.

 

Bulan lalu Prof Brahmana kirim WA ke saya. Ia baru mendarat di Toronto, Kanada. Ia akan menghadiri rapat organisasi dunia itu di Montreal. “Kalau ada waktu mampirlah ke Quebec City. Pasti terkesan,” jawab saya yang sebulan sebelumnya melakukan perjalanan dari Toronto-Ottawa-Montreal-Quebec City.

 

Tiga hari kemudian Prof Brahmana kirim foto: ia sedang di Quebec City –di depan hotel tempat saya bermalam. Ia sudah beberapa kali ke Kanada tapi baru sekali itu ke Quebec City. “Serasa di Prancis,” tulisnya.

 

Brahmana tergolong penggemar bandara –bisa jadi pesaing berat saya. Ia juga suka membanding-bandingkan penerbangan. Saat ke Kanada itu misalnya ia ambil penerbangan yang jarang dipikirkan orang: Saudi Arabia Airlines –Jakarta-Jeddah-Toronto. Ia sering naik Saudia tapi kalau naik haji atau umrah. Kali ini ke Jeddah hanya transit.

 

Ke mana pun pergi Prof Brahmana selalu bersama istri –putri Mayjen TNI Purn Imam Utomo, gubernur Jatim pada masanya. Saya lihat kiriman fotonya bersama istri: ke berbagai belahan dunia.

Sang istri sedang mendapat tantangan berat: kanker paru. Karena itu Prof Brahmana tahu persis kondisi psikologi keluarga pasiennya yang sakit kanker. “Setiap mengobati pasien awalnya saya bicara sebagai dokter. Setelah itu saya bicara sebagai keluarga,” ujar Brahmana kemarin.

 

Bahkan Brahmana pernah dapat tantangan mengatasi kanker yang menyerang anak laki-lakinya: kanker darah. Sang anak masih sangat muda saat itu: 20 tahun. Masih di semester lima fakultas kedokteran Unair.

 

Sang anak, Nadhif Rashesa Brahmana, harus menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Tapi transplant itu baru bisa dilakukan kalau level kankernya di bawah lima. Untuk itu Nadhif harus menjalani kemoterapi tiga seri. Setiap seri tujuh kali –tujuh hari. Di tahap awal kemo, Nadhif sampai merasa mual. Tapi apa boleh buat: harus diteruskan.

 

Awalnya Nadhif merasa cepat lelah. Terutama kalau lagi main basket –ia sering latihan basket di halaman Masjid Cheng Hoo Surabaya. Setelah diperiksakan ke rumah sakit, dokter langsung minta Nadhif menjalani transplantasi sumsum di Singapura.

 

Ada persoalan teknis: siapa yang akan menunggui Nadhif selama di Singapura. Setidaknya ia akan tiga bulan di sana. Saat itu Nadhif sudah pacaran serius dengan adik kelasnya di SMAN-5 Surabaya: Nurvania Aurelia Budirahmadina –seorang putri pimpinan bank asing di Surabaya.

 

Keputusan keluarga: dikawinkan saja. Agar Aurelia bisa menunggui Nadhif di Singapura. Maka pernikahan pun dilakukan. Sangat sederhana. Di kamar opname di rumah sakit. Hanya keluarga dekat dan penghulu yang hadir.

 

Di awal perkawinan itu terpikir untuk menyimpan sperma Nadhif di bank sperma: siapa tahu dalam proses transplantasi sumsum nanti terjadi akibat pada kesuburan.

 

Setelah tiga seri kemo level kanker Nadhif turun banyak: tinggal 2. Maka transplant sumsum dilakukan. Kebetulan darah adik Nadhif sangat cocok sebagai donor. Sebanyak 300 ml sel darah sang adik pun disuntikkan lewat pembuluh darah utama di leher. Sel-sel baru itu akan menuju tulang belakang –menggantikan sel lama. Dengan begitu produksi darah Nadhif dilakukan oleh sel-sel darah baru dari adiknya itu: Alisha Princessa Brahmana.

 

Kini Aurelia sudah punya dua anak. Proses kehamilannya normal –tidak perlu menggunakan sperma yang disimpan di bank sperma.

 

Sudah lama saya tidak bertemu Aurelia. Bertemu terakhir di pesawat, saat sama-sama pulang dari Singapura. Saat itu saya ke Singapura untuk menjenguk Ibu Ani Bambang Yudhoyono, almarhumah. “Suami saya pernah dirawat di sebelah kamar Bu Ani di rumah sakit yang sama,” ujar Aurelia kala itu.

Kini Brahmana tinggal konsentrasi menyembuhkan sang istri –menderita kanker paru sejak 2021.

 

Di pidato pengukuhan guru besarnya pagi ini Prof Brahmana akan menguraikan terapi presisi, bedah robotik, dan kecerdasan buatan di bidang ongkologi ginekologi menyongsong Indonesia Emas 2045.

 

Bersamaan dengan Prof Brahmana, dua guru besar lainnya juga dikukuhkan: Prof Dr Sri Endah Kinasih SSos di bidang antropologi hukum dan migrasi, serta Prof Dr drh Rochmah Kurnijasanti di bidang ilmu natural product farmakoterapi dan toksikologi.

Selama ini saya banyak berdiskusi dengan Prof Brahmana. Juga beberapa kali diundang podcast IDI Surabaya. Saya mendapat pandangan tajam darinya: kelemahan utama dokter di Indonesia adalah sulitnya membentuk tim yang sehati, permanen, dan solid.

 

“Kalau keahlian dokternya kita tidak kalah dengan dokter di negara maju. Kelebihan mereka adalah punya tim yang kuat. Kita sulit membentuk tim seperti itu,” katanya kepada saya suatu ketika.

Pendapat Prof Brahmana itu terus saya ingat. Harus dicarikan jalan untuk bisa terwujud. Mungkin kuatnya dokter memegang prinsip sebagai profesi punya dampak sampingan: para dokter menjadi sangat egois.

 

Saya juga akan terus ingat kata-kata ketua tim dokter yang melakukan transplantasi hati saya –meski sudah 20 tahun lalu. Yakni saat ia mengumpulkan tim dokter yang menangani pemulihan saya –karena tidak segera menemukan jalan keluar dari keluhan saya.

 

“Kalian ini, setelah berhasil jadi dokter, lalu berhenti sebagai ilmuwan. Tidak boleh begitu. Dokter harus terus jadi ilmuwan. Temukan apa penyebab keluhan pasien kita ini,” katanya yang terus terngiang di telinga saya. Mungkin ia mengira saya tidak mengerti bahasa Mandarin.

 

Terapi presisi memang kian jadi tuntutan. Tentu dokter bisa melakukan terapi presisi kalau di tingkat pemeriksaan sebelumnya sangat tepat. Teknologi untuk pemeriksaan itu kian maju.

 

Presisi, untuk kanker, juga berarti targeted. Harus memilih obat yang bisa langsung menuju ke sel kanker. Tapi ada kendala besar. Kanker banyak macamnya. Pun bisa berubah. Pemeriksaan harus kian presisi. Juga kian up-to-date. Hasil pemeriksaan sebelumnya bisa saja sudah tidak sama.

 

Prof Brahmana termasuk dokter yang tidak berhenti sebagai ilmuwan. Ia terus belajar –termasuk dalam melakukan operasi pakai robot dan pakai kecerdasan buatan.

 

Di dalam praktik dokternya ia sering menemukan kasus yang memerlukan keilmuan. Misalnya ada pasien kanker ovarium. Kankernyi sudah metastasis ke liver. Brahmana harus melakukan operasi konservatif. Ia pertahankan rahim dan satu indung telur pasien. Lalu mengangkat bagian liver yang ada metastasisnya. Setelah itu baru dikemoterapi.

 

“Sekarang dia sehat. Anaknyi sudah dua orang,” katanya.

 

Lalu ada kasus seorang ibu hamil anak pertama. Ibu itu mengidap mioma (tumor jinak rahim). Tumornyi sudah 30 cm. Akhirnya bayi bisa lahir sehat melalui operasi sesar. Saat itulah sekaligus diangkat miomanyi. Tanpa harus mengangkat rahimnyi. Sekarang ibu itu sudah punya anak dua.

Ada lagi yang terkena kanker serviks. Hamil. Ketika ditemukan stadium kanker serviksnyi termasuk lanjut –stadium IIB. Pasien mendapat kemoterapi enam seri saat hamil. Setelah cukup bulan dilakukan operasi caesar –sekalian operasi untuk kanker serviks. Termasuk mengangkat rahim dan kelenjar getah bening. Itu termasuk operasi histerektomi radikal. Saat ini ibu dan bayinyi sehat.

 

Memang baru hari ini Prof Brahmana menerima gelar guru besar. Tapi sudah agak lama saya memanggilnya profesor. (Dahlan Iskan)