Berita UtamaCikarang
Trending

Rupiah Melemah, Harga Bahan Bangunan Berpotensi Naik

PENGERJAAN PROYEK: Pekerja melakukan penataan beton girder di salah satu proyek untuk kawasan industri dai Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Senin (6/4). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai angka Rp 17.000,- akan berdampak terhadap kenaikan barang-barang, khususnya bahan konstruksi maupun elektronik.

Hal itu juga sangat berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui dinas tekhnis.

Kepala Bidang Bina Program Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Agus Budiono mengatakan, potensi kenaikan harga barang-barang bisa terjadi apabila mengacu pada melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, jika mengacu pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) yang sudah dibuat setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya untuk kegiatan kontruksi, akan berpotensi tidak bisa terlaksana.

.”Kami belum mengetahui secara pasti ada kenaikan harga atau tidak. Sebagai contoh, apabila sudah dianggarkan Rp 1 miliar untuk 500 meter jalan, tapi karena ada kenaikan harga barang, seperti aspal dan beton, itu hanya cukup untuk 300 meter. Dan ini nantinya akan berpotensi tidak bisa dilaksanakan. Sebab semua perencanaan sudah sesuai administrasi,” terang Agus.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Iman Nugraha mengungkapkan, untuk saat ini pihaknya belum melakukan survei harga barang. Namun, saat meninjau harga barang pada awal Febuari, kondisi-nya masih normal.

”Kenaikan harga itu baru akan ketahuan pada saat dilakukan lelang. Namun untuk saat ini, kami belum update lagi mengenai adanya kenaikan harga. Sebab proses lelang belum dilaksanakan,” beber Iman saat dihubungi, kemarin.

Lanjutnya, dengan kondisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, yang signifikan naik adalah besi. Tapi ia belum mengetahui secara pasti.

 ”Kami akan lakukan pengecekan terlebih dahulu, sebab pada rencana kegiatan melalui Harga Prediksi Sendiri (HPS), kami mengambil harga tertinggi untuk mengantisipasi adanya lonjakan, dan perencanaan harga ini dilakukan pada tahun sebelum berjalan,” terangnya. (and)  

Close