Berita Bekasi Nomor Satu

Ekonomi Dinilai Memburuk, Pengamat Soroti Tekanan Daya Beli dan Lapangan Kerja

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita. FOTO: DOKUMEN NARASUMBER

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kondisi perekonomian Indonesia dinilai sedang menghadapi tekanan serius. Hal itu tercermin dari hasil polling yang digelar Indo Satu Media Grup melalui Instagram dan TikTok pada 18 hingga 21 Mei 2026. Mayoritas responden menilai situasi ekonomi nasional saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Polling tersebut memunculkan beragam keluhan masyarakat, mulai dari sulitnya mencari pekerjaan, melemahnya daya beli, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita menilai hasil polling tersebut menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan pemerintah.

Menurutnya, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk, maka konsumsi rumah tangga, kepercayaan publik, hingga aktivitas ekonomi secara keseluruhan dapat ikut terdampak.

“Dalam ekonomi modern, psikologi publik sangat menentukan arah pertumbuhan ekonomi. Ketika masyarakat mulai pesimistis, mereka cenderung menahan belanja dan lebih berhati-hati mengeluarkan uang,” ujar dia, Senin (25/5).

Ronny menjelaskan, meskipun ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan, masyarakat belum sepenuhnya merasakan dampak positifnya. Banyak warga merasa pendapatan mereka tidak mampu mengejar laju kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Ia menyebut kondisi tersebut menyebabkan munculnya jurang antara data pertumbuhan ekonomi secara makro dengan realitas yang dirasakan masyarakat di lapangan.

“Pertumbuhan ekonomi memang ada, tetapi kualitas pertumbuhannya sedang mengalami tekanan. Karena itu masyarakat merasa kehidupan ekonomi mereka belum membaik,” katanya.

Selain faktor daya beli, persoalan lapangan pekerjaan juga dinilai menjadi sumber keresahan terbesar masyarakat saat ini. Menurut Ronny, tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan pekerjaan, tetapi menghadirkan pekerjaan yang layak, stabil, dan mampu memberikan kepastian penghasilan.

Ia menilai banyak pekerjaan baru yang tersedia masih didominasi sektor informal dengan penghasilan rendah dan minim jaminan masa depan. Kondisi itu paling dirasakan generasi muda dan lulusan baru yang harus bersaing semakin ketat di dunia kerja.

“Anak muda sekarang menghadapi tekanan yang cukup berat karena persaingan kerja semakin tinggi sementara kesempatan kerja formal belum tumbuh secepat kebutuhan,” jelasnya.

Ronny juga menyoroti dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku, energi, hingga pangan tertentu membuat pelemahan rupiah langsung berdampak terhadap kenaikan biaya produksi.

Akibatnya, lanjut dia, harga barang dan jasa ikut naik dan semakin menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Tidak hanya itu, industri yang masih bergantung pada bahan impor juga menghadapi tekanan biaya operasional yang lebih tinggi. Jika kondisi terus berlanjut, perusahaan berpotensi mengurangi perekrutan tenaga kerja hingga melakukan efisiensi.

“Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini datang dari dua arah sekaligus, yakni biaya hidup yang meningkat dan peluang kerja yang semakin sulit,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi saat ini dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari sisi domestik, faktor distribusi, biaya logistik, dan gangguan pasokan pangan menjadi pemicu utama.

Sementara secara global, ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, serta tingginya harga energi ikut memberi tekanan terhadap perekonomian nasional.

Ronny menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan publik. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kebijakan nyata yang langsung menyentuh kebutuhan dasar, bukan sekadar narasi optimistis.

Ia mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan, memperluas program padat karya, memperkuat sektor UMKM, serta menciptakan iklim investasi yang mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

“Stabilitas harga dan tersedianya lapangan kerja adalah fondasi utama optimisme masyarakat terhadap ekonomi,” katanya.

Meski demikian, Ronny menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih belum masuk dalam kategori krisis. Namun, ia mengingatkan tekanan terhadap daya beli masyarakat, stabilitas rupiah, dan penciptaan lapangan kerja harus segera diantisipasi agar keresahan publik tidak semakin meluas.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap tenang namun realistis menghadapi situasi ekonomi saat ini. Menurutnya, masyarakat perlu lebih bijak mengelola pengeluaran, memperkuat tabungan darurat, dan meningkatkan keterampilan agar lebih siap menghadapi perubahan kondisi ekonomi dan pasar kerja.

“Hasil polling media sosial memang bukan survei ilmiah nasional, tetapi bisa menjadi early warning terhadap sentimen publik yang sedang berkembang di masyarakat,” tutur dia. (ana)