RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kampung Adat Kranggan di Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, berkembang mengikuti perubahan zaman. Rumah-rumah tradisional berbentuk panggung khas Sunda perlahan berganti dengan bangunan modern. Namun, di tengah perubahan itu, masyarakat tetap menjaga tradisi leluhur, mulai dari adat kasepuhan hingga ziarah ke makam pendahulu.
Kampung yang memiliki sejarah sejak abad ke-15 ini menyimpan kisah panjang asal-usul masyarakat Kranggan. Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kampung tersebut didirikan oleh seorang tokoh bernama Olot Ipin yang berasal dari Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Kampung yang berada di Bekasi ini kemudian dikenal sebagai Kampung Kranggan Muda. Sementara kampung asal leluhur mereka di Gunung Putri disebut Kampung Kranggan Tua.
“Jadi kalau di Gunung Putri itu Kampung Kranggan Tua, kalau di Bekasi sendiri itu Kampung Kranggan Muda,” kata Pengurus Kasepuhan Kampung Adat Kranggan, Bahru, Senin (2/11/2026).
Sebutan Olot sendiri merujuk pada tetua adat yang mewarisi sekaligus menjalankan adat istiadat dan budaya secara turun-temurun. Saat ini, warisan adat Kasepuhan Kranggan dijalankan oleh Olot Kisan yang merupakan generasi kesembilan.

Hubungan sejarah dengan leluhur di Gunung Putri masih terpelihara melalui tradisi ziarah setiap tahun. Hampir 80 persen warga Kranggan mengikuti kegiatan tersebut. Biasanya, ziarah dilakukan tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri.
“Setiap tahun kita berziarah ke makam leluhur kita di Gunung Putri. Biasanya tujuh hari setelah lebaran itu hampir 80 persen warga Kranggan itu berziarah ke sana,” ungkapnya.
Tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Kranggan menjaga hubungan dengan leluhur sekaligus mengingat asal-usul mereka. Meski perkembangan Kota Bekasi membawa perubahan pada lingkungan permukiman, kebiasaan itu tetap dijalankan.
Perubahan penduduk juga tidak bisa dihindari. Kampung Adat Kranggan kini tak hanya dihuni warga asli, tetapi juga masyarakat pendatang. Kehadiran warga dari luar tidak membuat kampung adat tersebut menutup diri terhadap perkembangan zaman. Modernisasi diterima, tetapi adat istiadat tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Adat istiadat sampai sekarang masih sama, tidak ada perubahan,” ucapnya.

Upaya menjaga warisan leluhur juga terlihat dari keberadaan rumah adat yang masih dipertahankan para tetua kasepuhan. Salah satunya rumah milik Olot Kisan. Bangunan yang telah berusia ratusan tahun itu tetap dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Kranggan, meski telah beberapa kali mengalami perbaikan.
Rumah tersebut memiliki sejumlah bagian dengan fungsi masing-masing. Di bagian depan terdapat paseban, kemudian ruang tamu dan kamar tidur. Sementara bagian dalam rumah dikenal dengan sebutan pangkeng.
Keberadaan rumah adat dan tradisi ziarah menjadi bagian dari warisan yang terus dijaga masyarakat Kampung Adat Kranggan. Di tengah perubahan wajah permukiman, sejarah dan identitas leluhur tetap menjadi pengikat kehidupan masyarakatnya. (sur)











