RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, ada sebagian orang yang tak lagi memikirkan menu makan siang, melainkan bagaimana caranya agar tetap bisa makan hari ini. Di sebuah ruko sederhana di Jatiasih, Kota Bekasi, harapan itu disajikan setiap siang secara cuma-cuma. Seperti apa kisahnya?
Jarum jam belum menunjukkan pukul 12.00 WIB. Namun, puluhan orang sudah duduk berjejer di teras sebuah ruko di Jalan Raya Jatiasih, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.
Sebagian menggenggam kupon antrean. Sebagian lainnya memilih berbincang pelan sambil sesekali melirik ke arah dapur. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada lansia, pekerja harian, ibu rumah tangga, pengemudi ojek, hingga warga yang sekadar ingin menghemat pengeluaran agar kebutuhan lain tetap terpenuhi.
Tak ada teriakan. Tak ada saling berebut. Yang terlihat justru kesabaran. Mereka tahu, datang terlambat beberapa menit saja bisa berarti pulang tanpa membawa sepiring nasi.
Di antara antrean itu, tampak seorang lansia bernama Bekti. Langkahnya tak lagi secepat dulu. Ia datang bersama seorang teman dengan menumpang angkutan kota.
Sudah beberapa tahun terakhir Bekti menjalani hari-hari seorang diri. Sang istri telah meninggal dunia. Anak-anaknya pun sudah berkeluarga dan tinggal terpisah.
Rumah yang dulu ramai kini lebih sering sepi. Tak ada lagi yang menyiapkan makanan di dapur.
“Karena istri saya sudah meninggal. Di rumah enggak ada yang masak lagi. Anak-anak juga sudah menikah semua, jadi saya makan ke sini,” ujar Bekti saat ditemui Radar Bekasi, Rabu (29/7).
Bekti baru dua kali datang ke Rumah Makan Gratis (RMG) setelah mendapat informasi dari temannya. Namun, keberadaan tempat itu sudah memberi arti besar bagi kehidupannya.
Sebelum mengenal RMG, ia biasa membeli makanan di warung dekat rumah. Kini, uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli makan bisa disimpan untuk kebutuhan lain di masa tua.
“Bagus sekali program seperti ini, terutama buat lansia. Sangat membantu,” katanya.
Bekti bukan satu-satunya. Rumah Makan Gratis yang dikelola Yayasan Damaris Pancasila Indonesia telah menjadi tempat berlabuh bagi banyak warga yang membutuhkan.
Program tersebut baru berjalan sekitar dua bulan di Jatiasih. Meski masih terbilang baru, antusiasme masyarakat begitu tinggi.
Setiap hari, 100 porsi makanan disiapkan. Namun jumlah itu hampir tak pernah cukup.
Begitu pintu pelayanan dibuka, antrean bergerak cepat. Relawan satu per satu membagikan makanan kepada para pengunjung. Dalam waktu kurang dari 10 menit, seluruh porsi telah habis.
Masih ada warga yang datang ketika makanan tak lagi tersedia. Mereka hanya bisa bertanya pelan, apakah masih ada sisa makanan untuk hari itu.
Koordinator Yayasan Damaris Pancasila Indonesia Wilayah Jabodetabek, Erna Agustin, mengatakan Rumah Makan Gratis merupakan pengembangan dari kegiatan berbagi nasi kotak yang telah dilakukan sejak 2018.
Saat itu, para relawan membagikan makanan secara berpindah-pindah di berbagai wilayah Jakarta, Bekasi, Cibubur, hingga Depok.
“Awalnya kami berbagi nasi kotak di jalanan. Kemudian kami berpikir penerima manfaat juga berhak menikmati makanan dengan lebih nyaman. Dari situ berkembang menjadi rumah makan gratis,” ujarnya.
Berbeda dengan bantuan sosial pada umumnya, RMG tidak menerapkan syarat administrasi.
Tak perlu menunjukkan kartu identitas. Siapa saja yang merasa membutuhkan dipersilakan datang dan mengambil kupon antrean.
“Kami bagikan kupon nomor satu sampai seratus mulai pukul 11.45 WIB. Siapa saja boleh datang, tidak perlu syarat apa pun,” kata Erna.
Menu makanan yang disajikan pun berbeda setiap hari. Namun hampir setiap hari, ayam menjadi lauk utama yang melengkapi sepiring nasi hangat.
Semua makanan itu berasal dari donasi masyarakat yang disalurkan melalui yayasan.
Sementara mereka yang memasak, menyiapkan makanan, hingga melayani pengunjung merupakan relawan yang bekerja secara sukarela.
Asisten Koordinator Yayasan Damaris Pancasila Indonesia Wilayah Jabodetabek, Tujuh Silaban, mengatakan seluruh relawan tetap menerapkan standar kebersihan dan pelayanan agar makanan yang diberikan aman serta layak dikonsumsi.
Baginya, Rumah Makan Gratis bukan hanya soal membagikan makanan.
Ada ruang perjumpaan dan kepedulian yang tumbuh di sana.
Orang-orang yang sebelumnya tak saling mengenal bisa duduk semeja, berbincang, dan berbagi cerita. Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, hal sederhana seperti itu ternyata masih sangat berarti.
Tingginya kebutuhan masyarakat membuat yayasan berencana membuka cabang baru di sejumlah wilayah.
Sebab kenyataannya, seratus porsi makanan setiap hari tak pernah benar-benar cukup.
Bagi sebagian orang, sepiring nasi mungkin hanya makan siang biasa.
Namun bagi mereka yang duduk di antrean Rumah Makan Gratis Jatiasih, sepiring nasi itu adalah pengingat bahwa di tengah sulitnya hidup, masih ada orang-orang yang memilih untuk peduli.
Dan selama masih ada warga yang datang membawa harapan untuk sekadar makan hari ini, pintu rumah makan itu akan terus dibuka. (rez)











