Berita Bekasi Nomor Satu

Kali Bekasi Menghitam dan Berbau, KAWALI Minta Dugaan Pencemaran Jadi Perhatian Serius

Kondisi Kali Bekasi saat kondisi menghitam, berbusa, dan berbau. FOTO: ZAKKY MUBAROK/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kawal Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (KAWALI) menyoroti dugaan pencemaran lingkungan di sepanjang aliran sungai yang menghubungkan wilayah Kabupaten Bogor hingga Kota Bekasi. Temuan tersebut didapat setelah KAWALI melakukan monitoring dan pemantauan kondisi sungai di sejumlah titik.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional KAWALI, Puput TD Putra, mengatakan hasil pemantauan menemukan sejumlah kondisi yang diduga berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem sungai. Indikasinya terlihat dari perubahan warna air, tumpukan sampah ilegal, hingga aktivitas pembakaran sampah di sekitar bantaran sungai.

“Dengan tim mendokumentasikan sejumlah kondisi yang dianggap sebagai bentuk pelanggaran lingkungan hidup di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke Kali Bekasi,” ujar Puput saat dikonfirmasi Radar Bekasi, Kamis (3/9/2026).

Menurut Puput, perubahan warna air menjadi hitam menjadi salah satu temuan yang paling mendapat perhatian. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan masuknya limbah domestik maupun limbah industri ke aliran sungai.

“KAWALI juga menemukan tumpukan sampah rumah tangga dan sampah plastik dalam jumlah besar yang berada di area sempadan sungai. Tumpukan sampah dinilai berpotensi memperparah kualitas lingkungan dan mengganggu fungsi sungai sebagai sumber daya air,” sambungnya.

Selain persoalan sampah, tim KAWALI juga mendapati praktik pembakaran sampah secara terbuka atau open burning di sejumlah lokasi bantaran sungai. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan ganda, baik terhadap kualitas udara maupun air akibat residu pembakaran dan lindi yang terbawa menuju badan sungai.

“Fakta visual ini menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sempadan sungai yang seharusnya menjadi kawasan lindung justru ditemukan tumpukan sampah dan indikasi pencemaran yang harus segera ditindaklanjuti,” tuturnya.

KAWALI menilai berbagai kondisi yang ditemukan secara langsung di lapangan tersebut membutuhkan perhatian serius. Pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dinilai perlu segera menindaklanjuti dugaan pencemaran dan kerusakan lingkungan di sepanjang aliran sungai.

Sementara itu, persoalan kualitas air Kali Bekasi juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Bekasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi kembali melaporkan dugaan pencemaran sungai tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH).

Laporan itu disampaikan setelah aliran Kali Bekasi kembali mengalami perubahan warna menjadi hitam dan mengeluarkan bau tidak sedap. Kondisi tersebut terdeteksi dalam pemantauan DLH Kota Bekasi pada 30 Agustus di kawasan perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi.

Kepala DLH Kota Bekasi Kiswatiningsih mengatakan, timnya menemukan kondisi air berwarna hitam dengan aroma menyengat di kawasan perbatasan tersebut. Temuan itu kemudian terus dipantau seiring pergerakan aliran air menuju wilayah Kota Bekasi.

“Dimana pada keesokan harinya. Aliran air terpantau bergerak perlahan menuju wilayah Kota Bekasi akibat debit sungai yang sangat kecil. Sehari kemudian, pada tanggal (1/9), kondisi air di Bendungan Presdo terpantau mulai berbusa dan mengeluarkan aroma tidak sedap,” imbuhnya.

Kiswatiningsih menambahkan, temuan tersebut langsung diteruskan DLH Kota Bekasi kepada KLH/BPLH RI. Laporan dilengkapi dengan data hasil pemantauan serta dokumentasi kegiatan susur sungai yang dilakukan bersama Komunitas Peduli Ciliwung-Cikeas (KP2C) dan TNI Angkatan Laut pada akhir Agustus lalu. (zak)