BEKACITIZENOpini

Penguatan Peran Perempuan

Oleh : Ira Yusup

Ira Yusup
Ira Yusup

“Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka (perempuan) bobrok, maka bobrok pulalah negara. Mereka (perempuan) adalah tiang dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan, namun jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tanda tiangnya lapuk”
Buya Hamka, Bicara Tentang Perempuan hal. 15

Peran Perempuan
Radarbekasi.id – Lelaki dan perempuan mempunyai tugas yang sama dalam menegakkan kebenaran yang keutamaannya untuk memelihara dan merawat agama serta mencegah kemungkaran dalam kehidupan.

Suami (lelaki) selalu diibaratkan pemimpin, maka istri (perempuan) adalah sekretarisnya, maka kepercayaan dan kejujuran akan bermakna begitu dalam. Tanggungjawab suami pun menjadi sesuatu yang mendasari berbagai keputusan dalam keluarga. Begitu pula peran istri sebagai pemegang rahasia rumah tangga dalam baik dan buruknya kondisi rumah tangga, termasuk peran dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Keharmonisan keluarga akan terwujud jika terjadi saling mengerti antara suami dan istri sebab keduanya memiliki hak dan tanggungjawab yang sama. Jalan menuju harmonis tak pernah mudah bahkan penuh onak dan duri.

Terkadang di beberapa keluarga terdapat perempuan (istri) yang kerja keras banting tulang seperti lelaki (suami). Sebab bisa saja ada beberapa akibat yang menyebabkan istri (perempuan) menjadi kepala rumah tangga misalnya suaminya tidak bisa bekerja karena sakit atau akibat perceraian. Maka peran perempuan mengambil alih peran sebagai kepala rumah tangga, sebab tak semua perempuan berstatus orangtua tunggal.

Tak dipungkiri bahwa perempuan sebagai madrasah pertama untuk anakanaknya, peran besar dalam membentuk watak, karakter dan kepribadian anakanaknya. Sebagai sekolah pertama sebelum anakanaknya tumbuh mengenyam pendidikan di luar rumah. Bahkan dari perempuanlah, kecerdasan emosional dan spiritual terbangun dalam tumbuh kembang kasih sayang. Sebab itu pulalah maka ibu akan mewariskan 1 sel kromosom kecerdasan untuk anaknya.

Namun seiring berjalannya waktu peran ibu mulai bergeser olah pembantu rumah tangga, babysister dan guru, terutama jika peran ibu juga sebagai wanita karir atau jika berstatus orangtua tunggal yang harus menafkahi sendiri anakanaknya.

Walau pun rumah tangga dalam kondisi perceraian tapi peran ibu tak akan pernah terganti di hati anakanaknya. Hanya peran istri kepada suami atau sebaliknyalah yang berhenti setelah terbitnya akte perceraian. Butuh orangtua agar kompromi dan memenuhi cinta dalam tumbuh kembang anakanak terdampak perceraian.

Perempuan Dalam Situasi (Pandemi)
Suami, istri dan anak dalam naungan keluarga adalah unit sosial utama dan terkecil dalam kelompuk masyarakat sehingga menempatkan rumah sebagai satusatunya tempat berkumpul yang paling aman dan menyehatkan sekaligus pemulihan selama pandemi Covid-19, sangat besar peran perempuan sebagai penyangga rumah tangga dan menyeimbangkan berbagai ketimpangan kondisi selama pandemi.

Bahkan menurut survey yang dilakukan oleh Prof. Dr. Euis Sunarti, Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga/Pendiri Penggiat Keluarga (Giga), telah terjadi perluasan kerentanan dan krisis keluarga berbentuk tekanan ekonomi, ketidaktahanan pangan, gejala stress dan gangguan kesejahteraan psikologis selama pemberlakuak pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Survey tersebut juga mengungkapkan bahwa hanya 53 % keluarga saja yang memiliki ketersediaan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan keluarga kurang dari 2 bulan, 78 % mengalami penurunan pengeluaran pangan dan 76 % tingkat kesejahteraan keluarga menurun. Bahkan satu sampai dua keluarga mulai mengurangi sumber protein bahkan 20 % keluarga telah mengurangi porsi makan.

Di beberapa keluarga mulai merasakan gampang sedih, waswas, cemas, sulit konsentrasi, phobia, ketakutan yang berlebihan tentang kematian disebabkan oleh informasi yang kadang ditelan mentahmentah tanpa menyaring kebenaran info yang didapat.

Terdapat pula temuan konten porno yang mudah menyusup selama anakanak bermain game, menikmati youtube, selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mau pun saat berselancar di sosial media. Banyak kejadian konten porno dalam bentuk foto atau pun komik yang terpaksa dinikmati anak-anak yang belum cukup umur.

Sampai bulan kedua penerapan PSBB juga terjadi peningkatan energi positif yang terjadi dalam keluarga seperti tumbuh kembangnya kasih sayang, meningkatnya kepercayaan, kesabaran dan membaiknya pola asuh anak, dalam persentase yang kurang dari 3 % keluarga. Meski begitu belum ada laporan peningkatan angka perceraian melebihi nilai ratarata sebelumnya sebesar 1.170 kasus perhari.

Pandemi memang memberikan kemudahan dalam percepatan era 4.0 dengan penuh kegagapan pengetahuan tentang pemanfaatan dunia digital sebagai media tehnologi, informasi dan komunikasi (tik). Salah satu dampak negatif yang sangat dirasakan dalam pesatnya tik antara lain banyaknya hoaks yang berkaitan dengan informasi dan konten di berbagai media sosial.

Bulan kedua pandemi makin menunjukkan kerentanan yang cukup tinggi, sebab keyakinan keluarga (harus) mampu mengatasi masalah saat pandemi sebagai faktor pelindung yang penting. Kepercayaan tinggi yang bernilai positif akan dengan mudah menaikkan imun tubuh dan memudahkan menyiapkan solusi yang tepat sebagai jalan keluar dalam keluarga.

Level Literasi Yang Rendah
Konsep “di rumah saja” setidaknya dijadikan sebagai momentum introspeksi diri bagi keluarga dengan memanfaatkan bagaimana seni merawat keluarga menjadi kekuatan ampuh melawan virus Covid-19, pun menjadikan wahana keluarga untuk memingkatkan interaksi, komunikasi dan mengawal kematangan tiap individu hingga tiap anggota keluarga mencapai kecerdasan rohani yang semakin tinggi.

Hanya saja tak semua keluarga berhasil meningkatkan kualitasnya higga tak mampu mencapai tingkat kematangan diri (suami-istri) karena tidak optimal tindakan karena minimnya ketrampilan hidup dan ilmu pengetahuan.

Level literasi yang dimiliki sangat mempengaruhi capaian kematangan diri. Sebab literasi tak selamanya berarti membaca dan menulis saja, tapi juga berarti kemampuan memahami, menjelaskan dan menciptakan manfaat dalam lingkungan sekitar.

Fakta pertama, bahwa menurut UNESCO bahwa minat baca masyarakat di Indonesia sangat memprihatinkan di angka 0,001 %, artinya di antara 1000 orang Cuma 1 yang rajin membaca. Dalam riset bertajuk ‘World’s Most Literate Nations Ranked” yang dilakukan Central Connecticut State University pada Maret 2016.

Fakta kedua, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gawai atau urutan kelima dunia terbanyak dalam kepemilikan gawai. Lembaga riset digital marketing ‘Emarketer’, memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di ndonesia bisa lebih dari 100 juta orang. Wajar jika era pandemi jumlah pengguna aktif akan sangat meningkat jika dikaitkan dengan PJJ dan WFH.

Fakta ketiga, laporan Hootsuite bulan Februari 2020 (sebelum pandemi) menjelaskan bahwa terdapat 160 juta pengguna sosial media aktif, pengguna internet 175,5 juta di antara 272,1 juta jumlah penduduk Indonesia.

Fakta keempat, jika pada Februari 2020 rerata penggunaan internet 7 jam, 59 menit per hari. Rerata penggunaan sosial media 3 jam 26 menit. Rerata melihat televisi 3 jam 4 menit. Rerata mendengarkan musik 1 jam 30 menit lebih tinggi dari rerata waktu main game 1 jam 23 menit, masih menurut laporan Hootsuite 2020. Dan selama masa PSBB diberlakukan dapat dipastikan lalu lintas (traffic) dan pengguna baru mengalami kenaikan 30 sampai 40 % di area pemukiman dan 23 % di daerah tertinggal saat PJJ dan WFH menurut perhitungan kuartal Kominfo.

Fakta kelima, tiap orang di Bekasi memiliki akun facebook lebih dari tiga akun. Bekasi menempati urutaan ketiga dengan jumlah pengguna 18 juta akun dan Jakarta di urutan keempat dengan jumlah 16 juta sebagai pengguna facebook aktif berdasarkan laporan Hootsuite 2018. Jika bila jumlah pengguna sosial media dibandingkan dengan jumlah penduduk di Bekasi Raya (kabupaten dan kota) berdasarkan BPS 2017 sebesar 6,5 juta penduduk maka bisa dipastikan bahwa pengguna facebook di Bekasi memiliki lebih dari tiga akun.

Fakta keenam, tim Jabar Saber Hoaks (JSB) menerima aduan sebanyak 2.881 yang semuanya telah diklarifikasi sebagai hoaks sejumlah 1.855 selama periode Januari – Juni 2020. Penyebaran hoaks terkait Covid-19 tergolong cepat karena beredar melalui sosial media dan aplikasi percakapan.

Penguatan Peran Perempuan
Setelah bulan Oktober – Desember 2019 melakukan assesment terkait kondisi wilayah sasaran di Kecamatan Cikarang Timur, Kecamatan Tambun Selatan, Kecamatan Cibitung, Desa Sukadaya dan Desa Bojongmangu maka saya sebagai Relawan Tehnologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bergabung dalam berbagai unsur penggerak masyarakat ke dalam tim fasilitator Ketahanan Keluarga yang dinaungi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bekasi mulai melakukan pemetaan untuk memudahkan koordinasi.

Dengan melibatkan berbagai fasilitator DP3A yang terdiri dari beragam unsur komunitas atau relawan, antara lain Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Gerakan Organisasi Wanita (GOW), Relawan TIK dan Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) ini melakukan pembelajaran, pendampingan dan menularkan bebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan 26 subtema dengan 2 sesi tatap muka monitoring dan evaluasi (monev) di desa Sukadaya dengan peserta sebanyak 50 orang, 4 kali tatap muka di 3 kecamatan yang masingmasing dihadiri 25 orang serta 8 kali tatap muka di desa Bojongmangu sebagai wilayah Program Terpadu Peningkatan Peran Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) yang dihadiri 100 orang peserta.

Setelah masuk masa adaptasi kebiasaan baru PSBB, barulah kegiatan diaktifkan kembali dengan memberlakukan protokol kesehatan selama berkegiatan. Dengan tetap menjaga jarak dan mengurangi kerumunan (maksimal 25 orang), materi tetap fokus pada pembelajaran tatap muka dengan berbagai bahan ajar penguatan Ketahanan Keluarga dan semua peserta adalah perempuan yang telah lulus seleksi sebagai agen perubahan dalam keluarga dan lingkungannya.

Upaya pertama saya sebagai Relawan TIK sekaligus fasilitator Ketahanan Keluarga adalah pengenalan manfaat (baik dan buruk) intenet sebagai media luarbiasa yang paling luas jangkauan interaksi dan pengetahunannya dan memaksimalkan sosial media sebagai pemasaran.

Upaya kedua, memberikan pengenalan 1-2-3 nitizen cerdas yang mengenalkan apa serta bagaimana menjaga privasi, waspada hoaks dan melawan bully.

Upaya ketiga, pengasuhan di era digital dengan memberikan tips aman mendampingi anak di internet dan aplikasi parenting control yang bisa dimanfaatkan orangtua untuk mengontrol gawai anak.
Upaya keempat, privasi dan perlindungan data pribadi dalam bersosial media.

Dengan adanya upaya dalam pelatihan ini diharapkan ada penularan virus literasi di berbagai aspek kehidupan masyarakat terutama mampu membuat perempuan lebih berdaya serta menambah kekuatan dalam menangkal hoaks dan mengokohkan ketahanan keluarga, sehingga mampu menekan angka perceraian yang terjadi.

Kegiatan yang dilakukan selama hampir sebulan penuh sepanjang bulan Juli pun usai, tapi bukan berarti selesai pula sesi belajar bersama tapi terus lanjut menularkan virus literasi di mana pun saya memijak alam semesta.

“Sebab bagi saya, berjejaring dan memanjangkan manfaat adalah harga mati untuk merawat literasi”. (*)

Relawan TIK Kabupaten Bekasi

Related Articles

Back to top button