Berita Bekasi Nomor Satu

Di Balik Barisan Merah Putih, Daya Ingat ODGJ di Yayasan Jamrud Biru Perlahan Kembali

LATIHAN UPACARA: Ratusan ODGJ mengikuti latihan upacara bendera di Yayasan Jamrud Biru, Mustikajaya, Kota Bekasi, Rabu (22/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan persiapan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus menjadi bagian dari terapi untuk melatih daya ingat, meningkatkan kedisiplinan, serta menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme para peserta. FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, suasana berbeda terlihat di Yayasan Jamrud Biru, Mustikajaya, Kota Bekasi, Rabu (22/7). Ratusan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berdiri tegak mengikuti latihan upacara.

Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar persiapan menyambut 17 Agustus, melainkan perjalanan untuk mengingat kembali siapa diri mereka dan membangun kembali kepercayaan diri.

LAPORAN: RAIZA SEPTIANTO

MUSTIKAJAYA

Derap langkah terdengar berulang di halaman Yayasan Jamrud Biru, Kota Bekasi. Di bawah terik matahari, puluhan peserta berdiri berbaris mengikuti arahan instruktur.

Sebagian masih terlihat kaku saat meluruskan tangan. Ada pula yang sesekali kehilangan fokus. Namun, tidak ada yang memilih menyerah.

Mereka bukan anggota pasukan pengibar bendera (paskibra). Mereka adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tengah mempersiapkan diri mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Setiap gerakan harus dilakukan berulang kali. Instruksi sederhana terkadang perlu disampaikan dengan contoh langsung agar mudah dipahami. Kesabaran menjadi kunci dalam setiap sesi latihan.

“Kesulitan ada, karena pasien skizo terkendala bisikan halusinasi jadi butuh pengulangan-pengulangan dan percontohan yang baik, mereka beberapa terkendala motorik,” ujar Pengurus Yayasan Jamrud Biru, Suhartono.

Meski penuh tantangan, latihan tetap berlangsung dengan khidmat. Sekitar ratusan pasien mengikuti kegiatan tersebut dengan semangat yang terus tumbuh dari hari ke hari.

“Tapi alhamdulillah berjalan dengan baik dan mereka cukup khidmat,” katanya.

Bagi Suhartono, latihan upacara bukan sekadar mengajarkan baris-berbaris. Ada tujuan yang lebih besar, yakni membangkitkan kembali memori para pasien yang pernah hidup normal sebelum mengalami gangguan kejiwaan.

“Untuk meningkatkan jiwa nasionalisme dan ini menjadi sebuah Therapy daya ingat di mana para pasien jiwa pernah normal dulu dan ikut di kegiatan seperti ini saat mereka sehat,” tuturnya.

Latihan telah dimulai sejak pekan ini dan akan terus dilakukan setiap dua hari sekali hingga pelaksanaan upacara.

“Dari kemarin di laksanakan dan 2 hari sekali kami lakukan pelatihan ini agar mereka selalu ingat di pelaksanaan nya nanti,” ucap Suhartono.

Di balik latihan itu, tersimpan momen yang tak mudah dilupakan. Beberapa peserta terlihat tersenyum sepanjang latihan. Sebagian lainnya bahkan tak kuasa menahan air mata.

“Mereka senang dan ada juga yg menangis haru, mungkin ada yg mereka ingat bahwa mereka pernah normal dulu dan mengikuti upacara seperti ini,” katanya lirih.

Saat upacara nanti, seluruh peserta akan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman busana itu menjadi simbol bahwa kemerdekaan adalah milik semua, tanpa memandang kondisi fisik maupun mental.

“Kemerdekaan Republik Indonesia ini milik seluruh rakyat Indonesia dan milik para penyandang disabilitas mental (ODGJ). Agar para pasien jiwa pun merasakan hari ulang tahun Republik Indonesia yg ke-81 ini dan menjadi dasar jiwa nasionalisme mereka hidup dan mereka pun bisa menjadi kekuatan daya ingat mereka yg selama ini hilang,” ujar Suhartono.

Di Yayasan Jamrud Biru, kemerdekaan dimaknai lebih dari sekadar upacara. Kemerdekaan adalah kesempatan bagi para penyandang disabilitas mental untuk kembali merasa diterima, dihargai, dan memiliki tempat di tengah masyarakat. Harapan itu pun disampaikan Suhartono menjelang peringatan HUT ke-81 RI

“Semoga di HUT ke-81 RI nanti, pemerintah lebih memperhatikan ODGJ dengan lebih baik lagi dan masyarakat pun tidak lagi mendiskriminasi dengan stigma negatif. Bahwa ODGJ pun bisa kembali pulih dan sembuh bila di obati dan di bina,” pungkasnya.

Di halaman yayasan itu, aba-aba latihan kembali terdengar. Barisan kembali dirapikan. Mungkin gerakan mereka belum sempurna.

Namun, di balik setiap langkah, ada semangat untuk pulih. Dan di balik hormat kepada Sang Merah Putih nanti, tersimpan harapan agar mereka kembali dipandang sebagai manusia yang memiliki hak yang sama: merasakan kemerdekaan. (*)