Cikarang

Kekeringan Tak Kunjung Ada Solusi

RADARBEKASI.ID, SUKAWANGI – Kekeringan setiap musim kemarau panjang yang terjadi di Kampung Kedung Ringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, belum ada solusinya.

Di mana, selama delapan tahun, warga harus memanfaatkan air yang berwarna hitam dan bau, untuk kebutuhan sehari-hari.

Warga Kampung Kedung Ringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Suryati mengatakan, kekeringan yang melanda wilayahnya, sudah lama, hampir delapan tahun. Dan selama ini, tidak ada penanganan sama sekali dari pemerintah desa maupun kabupaten. Bahkan, untuk bantuan air bersih, baru datang belakangan ini.

“Untuk bantuan air bersih, datangnya baru-baru ini oleh pemerintah. Padahal, kekeringan sudah lama, hampir delapan tahun, tidak ada penanganan sama sekali,” tuturnya kepada Radar Bekasi, Selasa (21/9).

Menurut dia, air di wilayahnya berwarna hitam dan bau. Meski demikian, selama delapan tahun, warga tetap memanfaatkan air tersebut untuk mencuci dan mandi. Sebab, memang tidak ada air lagi, walaupun harus mengalami gatal-gatal. Misalkan, kalau air mau bersih, harus mengebor sumur 120 meter. Dan itu juga harus menggunakan mesin jet pump.

Diakui Suryati, saat musim hujan, warga tidak kesulitan air bersih. Karena warga memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan mencuci dan mandi. “Kalau musim hujan, warga tak kesulitan air bersih, karena warga menampung air hujan,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bekasi, Herman Hanapi menilai, pemerintah sudah berupaya untuk peduli terhadap warga yang mengalami kekeringan.

Kata dia, setiap tahun, dalam kondisi warga kekurangan air bersih, pemerintah pasti menangani. “Yang jelas, kepedulian dari pemerintah sudah dilakukan untuk mengatasi kekeringan di masyarakat,” ucapnya.

Untuk mengatasi persoalan kekeringan ini, Herman menegaskan, ada dua alternatif. Pertama, memfungsikan Kali Cikarang, dengan kondisi air yang tidak bau limbah. Maka dari itu, Penjabat Bupati, turun ke lapangan memastikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang ada sudah benar apa belum.

“Jadi, pada saat dialirkan, air sudah bisa dipakai untuk pertanian, atau mungkin kalau itu bagus, bisa dipakai untuk mandi atau konsumsi oleh masyarakat,” bebernya.

Kemudian yang kedua, membuat sumur bor. Namun itu membutuhkan kajian, berapa meter kedalaman sumur bor tersebut untuk bisa mendapat air buat dikonsumsi. Pasalnya, ketika saat musim kemarau berbalik, dari laut kesini (perkampungan) airnya. Misalkan seperti itu, air tidak bisa dikonsumsi.

“Ada berbagai alternatif yang kami coba,” katanya.

Sejauh ini, ada beberapa wilayah yang dilanda kekeringan di Kabupaten Bekasi, seperti Kecamatan Sukawangi, Bojongmangu, dan Muaragembong. Untuk penanganan sementara, wilayah tersebut Pamsimas atau distribusi air bersih terus berjalan. “Solusi sementara, bantuan air bersih dari beberapa dinas,” tandas Herman.

Sementara itu, Anggota DPRD Jawa Barat, Syahrir mengungkapkan, persoalan kekeringan di wilayah Kabupaten Bekasi, memang sudah terjadi berulang kali. Maka dari itu, hampir setiap tahun, dirinya rutin memberikan air bersih untuk masyarakat.

“Kekeringan di wilayah ini memang berulang-ulang, hampir setiap tahun saya melakukan kegiatan ini (memberikan air bersih). Ini antisipasi kami secara spontan,” ujar Sharir, usai memberikan bantuan air bersih untuk warga di Desa Sukaringin.

Dalam persoalan kekeringan ini, dirinya menerima masukan bahwa ada beberapa kali yang memang harus menjadi atensi sepenuhnya. Dirinya akan mendorong Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk berkomunikasi, bagaimana memenuhi atau mengembalikan fungsi kali atau sungai untuk mengalirkan air bersih untuk masyarakat.

“Ada masukan, beberapa kali yang memang harus menjadi atensi sepenuhnya, dan ini akan kami dorong ke BBWS, agar memenuhi atau mengembalikan fungsi kali untuk mengalirkan air bersih untuk masyarakat,” pungkasnya. (pra)

Related Articles

Back to top button