Tiga Kecamatan di Kabupaten Bekasi Sering Dilanda Banjir Rob

ANCAMAN BANJIR ROB: Foto udara banjir rob di Desa Pantai Mekar Muaragembong Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu. Wilayah Muaragembong masih dihantui banjir rob setiap tahunnya. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI –  Aktivitas warga di pesisir pantai utara Kabupaten Bekasi sejak dua bulan terakhir terganggu. Ya, pasalnya wilayah tersebut terendam banjir rob atau air laut. Meskipun kondisi air pasang surut, namun banjir tersebut mengganggu aktivitas keseharian warga. Di Kabupaten Bekasi ada tiga kecamatan yang  menjadi langganan banjir rob setiap tahunnya. Yakni kecamatan Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya.

“Ada tiga kecamatan yang sering dilanda air rob. Cuma intensitas tertinggi itu ada di Muaragembong, Desa Pantai Bakti dan Pantai Bahagia,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bekasi, Muhammad Said, kepada Radar Bekasi, Rabu (4/1/2023).


Berdasarkan laporan yang dirinya terima, banjir rob yang melanda tiga wilayah itu sudah hampir dua bulan. Menurutnya, banjir rob itu tergantung air pasang dari laut. Sehingga dalam waktu dua bulan tidak setiap hari permukiman warga terendam banjir rob, karena terkadang surut. Lalu kemudian naik lagi ke pemukiman warga.

Dia Mengaku, saat ini BPBD tidak sampai mendirikan tenda pengungsian. Hanya sebatas mengirim logistik berupa bambu, karung, mie instan, air mineral, obat-obatan, dan sabun. “Kita sudah distribusi logistik ke Tarumajaya, Babelan, termasuk Muaragembong. Tapi tidak sampai mendirikan tenda pengungsian,” ucapnya.


Namun demikian, BPBD sudah menyiapkan petugas Desa Tangguh bencana (Destana) dan Pengurus Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) di setiap kecamatan. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) banjir rob ini bisa sampai bulan Maret sampai April.

“Untuk puncak rob sekitar Februari, ketinggian air bisa mencapai 60-80 cm,” katanya.

BACA JUGA: Atasi Rob, Usulkan Pembangunan Tanggul Laut

Sementara itu, Camat Muaragembong Lukman Hakim mengatakan, banjir rob kali ini merupakan lanjutan dari bencana serupa yang terjadi sepanjang Desember 2022. Gelombang bencana ini terjadi dalam jangka waktu berdekatan karena disertai dengan musim hujan.

“Ini rob lanjutan, gelombang kedua di bulan ini, dan kebetulan ini masih masuk periode angin darat. Eskalasi banjir rob memang saat ini menjadi meningkat tapi cepat surut dan kemudian meningkat lagi,” ucapnya.

Akibat banjir yang disebabkan naiknya permukaan air laut ke daratan ini menyebabkan sekitar 3.589 kepala keluarga dari lima desa terdampak. “Lima desa yang terendam banjir rob yakni Pantai Bakti, Pantai Sederhana, Pantai Harapanjaya, Pantai Bahagia dan Pantai Mekar. Ada 3.589 KK yang terdampak banjir Rob,” tuturnya.

Untuk penanganan jangka pendek, Lukman menuturkan, pihaknya sudah menyediakan lima titik lokasi pengungsian bagi warga yang terdampak banjir rob. Namun hingga saat ini warga lebih memilih bertahan di rumahnya meski terendam banjir rob.

“Lima titik lokasi pengungsian yang kita siapkan seperti di kantor kecamatan dan sekolah, tapi warga memilih bertahan di rumahnya, karena banjir rob sudah biasa bagi mereka,” ungkapnya.

Menurutnya, penanganan banjir rob seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah daerah, provinsi dan pusat. Penanganan yang dilakukan juga seharusnya disertai dengan program relokasi warga.

“Ini menjadi PR bersama, bukan cuma pemerintah tapi juga masyarakatnya harus siap. Kalau relokasi menurut saya warga Muaragembong mau dipindah, tapi memang perlu waktu,” tuturnya.

Banjir rob yang menjadi langganan di Muaragembong menyebabkan permukiman warga dan sejumlah fasilitas umum rusak. Selain itu, genangan air akibat meluapnya air laut ini membuat roda perekonomian warga setempat terganggu. Kerugian yang ditimbulkan akibat dari setiap kali terjadi banjir rob ini diperkirakan mencapai ratusan juta hingga milyaran rupiah.

“Tambak ikan dan udang aja yang terendam banjir rob ratusan bahkan sampai ribuan hektar, jadi kalau sekali banjir rob kerugiannya bisa mencapai miliaran rupiah,” katanya.

BACA JUGA: 3.589 KK Terendam Banjir Rob di Muara Gembong

Pemerintah Kabupaten Bekasi sudah mengajukan pembangunan dinding besar di sepanjang pantai untuk mengantisipasi permukaan air naik ke daratan. Namun usulan tersebut belum diketahui kapan akan direalisasikan. Pasalnya, selama belum adanya dinding besar di sepanjang pantai membuat sejumlah wilayah terendam banjir rob, salah satunya Muaragembong.

“Kita sudah usulkan pembangunan giant wall ke Bappenas di sepanjang pantai, tapi memang belum ada gambaran kapan itu bisa dilaksanakan, karena kalau membendung banjirnya itu agak sulit. Jadi sementara penanganannya kita siapkan tempat-tempat evakuasi warga,” ujar Penjabat (Pj) Bupati Bekasi Dani Ramdan.

Terpisah, Penggiat lingkungan Bekasi, Dedi Kurniawan, mempertanyakan hasil penanaman pohon mangrove serentak yang rutin dilakukan sejumlah elemen di wilayah pesisir utara Kabupaten Bekasi. Pasalnya saat ini tidak ada yang menampilkan secara data berapa luas pohon mangrove yang ada di wilayah pesisir. Padahal setiap tahun rutin dilakukan penanaman pohon mangrove.

“Jadi kesalahan kita adalah, kita tidak pernah mereport hasil penanaman berupa data yang akurat, kita kalkulasi dan dikasih tabel. Misalkan dua bulan tinggi 5 cm. Itu tidak ada, saya lihat seremonial semua, hasilnya tidak ada, terus gunanya buat apa,” ucapnya.

Dirinya menegaskan, setiap tahun banyak dilakukan penanaman pohon mangrove di wilayah pesisir. Tapi hasilnya sangat tidak terukur, malahan jumlahnya semakin berkurang. Oleh karena itu dirinya mempertanyakan ini sebenarnya ada apa. Apa yang salah, perawatannya atau mereka tidak memberikan data yang akurat.

“Katakan lima tahun, dalam satu tahun tarolah dua ribu mangrove, berarti lima tahun sepuluh ribu mangrove. Kalau satu mangrove empat ribu persegi sudah sekitar empat hektar lebih. Sedangkan sekarang mana lokasi pohon mangrove yang empat hektar itu. Tidak ada sampai hari ini,” tukasnya.

BACA JUGA: Tangani Gempa Cianjur dan Banjir Rob Muaragembong

Pria yang akrab disapa Jhon Smoker ini menyampaikan, pohon mangrove itu ibaratkan benteng. Dimana, benteng itu bisa menyelamatkan penghuni di dalamnya. Dalam hal ini, pohon mangrove bisa menjadi benteng dari abrasi, tsunami, dan tempat ikan bertelur setiap tahunnya.

“Jadi bisa dibayangkan kalau tidak ada mangrove, apa jadinya di wilayah Utara Kabupaten Bekasi. Sedangkan dari data yang kami dapat dari sumber terpercaya, 400 hektar sudah hilang terkena abrasi, karena mangrovenya sudah sangat habis,” ucapnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan banjir rob, diprediksi terjadi pada 1 sampai 15 Januari mendatang. Peringatan ini berlaku di seluruh wilayah perairan, termasuk di pesisir wilayah utara Bekasi.

“Pada prinsipnya, ini kan berlaku di seluruh perairan ya, karena tanggal enam besok kan fase bulan purnama,” kata kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, Rabu (4/1/2023).

Selain fenomena bulan purnama pada 6 Januari, pasang air laut juga dipengaruhi oleh dorongan angin dan energi gelombang. Keduanya cukup kuat membantu air laut masuk ke daratan. Potensi rob di setiap wilayah berbeda-beda, hari dan jam. Eko menghimbau kepada masyarakat di wilayah yang kerap mengalami banjir rob agar siaga guna meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

“Masyarakat yang biasa terdampak rob harus bergegas menyiapkan diri untuk mitigasinya, agar dampaknya bisa diminimalisir,” tambahnya. (pra/sur)