Berita Bekasi Nomor Satu

Pertaruhan Nasib Elit Parpol Bekasi di Dapil Jabar IX, Waswas Hitung Perolehan Suara

HITUNG SUARA: Anggota KPPS menghitung perolehan suara saat Pemilu 2024 di TPS 13 Kampung Ketapang Desa Kalijaya Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, Rabu (14/2). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Persaingan di daerah pemilihan (Dapil) IX pada kontestasi pemilihan legislatif (Pileg) Provinsi Jawa Barat kian sengit, setelah munculnya sejumlah raihan suara sementara berdasarkan real count Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Caleg dapil IX yang diisi para elit parpol asal Bekasi dan menjadikan Pileg sebagai tolok ukur menuju pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Bekasi menjadi gengsi tersendiri.

Sebab, para elit partai di Kabupaten Bekasi ini memandang pertarungannya di Pileg meliputi daerah pemilihan Kabupaten Bekasi layaknya laga “pramusim” sebelum terjun ke arena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bekasi, yang berlangsung di penghujung 2024. Apabila di laga “pramusim” ini gagal, tiket untuk bertarung di Pilkada Bekasi pun kian sulit didapatkan. Pasalnya, arena tarung ini hanya mencakup Kabupaten Bekasi.

Nama-nama seperti Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi, Akhmad Marjuki, Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, BN Holik Qodratullah, serta politikus ikonik milik Partai NasDem, Siti Qomariyah (Siqom), secara gamblang menyatakan kesiapannya untuk bertarung di Pilkada Bekasi.

Sejumlah nama pimpinan parpol seperti Ketua DPC PKB Kabupaten Bekasi, Muhamad Rochadi, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Bekasi, Romli HM ikut bersaing.

Sejumlah caleg petahana diantaranya Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Mohamad Nuh, politikus ikonik milik PDIP, Jejen Sayuti, dan penguasa Dapil Jabar IX Kabupaten Bekasi, Syahrir, memiliki hasrat besar untuk bertarung merebutkan posisi orang nomor satu di daerah yang memiliki kawasan industri terbesar se Asia Tenggara ini. Sehingga persaingan di Dapil IX makin terasa.

Berdasarkan hasil real count sementara KPU untuk Pileg DPRD Provinsi Dapil Jabar IX Kabupaten Bekasi 19 Feb 2024 hingga pukul 19.00 progres sudah 28 persen. Dari sana terlihat jumlah perolehan suara politisi Kabupaten Bekasi yang maju di Pileg Dapil Jabar IX diantaranya Muhamad Rochadi (PKB) meraih 1.377 suara.

BACA JUGA: Tunda Rekapitulasi Suara Pemilu di Kota Bekasi Sejak Minggu 17 Februari, Ketua KPU: Instruksi KPU RI

 

Kemudian Syahrir (Gerindra) 2.156 suara, Irpan Haeroni (Gerindra) 2.588 suara, BN Holik Qodratullah (Gerindra) unggul tipis di angka 3.149 suara. Jejen Sayuti (PDI P) 2.014 suara, Akhmad Marjuki (Golkar) meraih 3.531 suara. Lalu, Siti Qomariyah (NasDem), di angka 2.805. Mohamad Nuh (PKS) di angka 1.170 suara. Romli HM (Demokrat) mengantongi 1.922 suara.

Pengamat Politik Bekasi, Roy Kamarullah menilai, proses rekapitulasi suara ini momen krusial yang akan dijalani para Caleg. Selain memastikan perolehan suara mereka juga dibuat waswas dengan perolehan suara masing-masing.

“Kalau politisi itu tenang-tenangnya pada saat sudah diumumkan menang. Selama belum diumumkan dia menang, itu masih tidak tenang. Ya makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Keliling terus ngejar-ngejar C1, data atau baterai handphone harus penuh terus, handphone harus dua,” ujar Roy Kamarullah, kepada Radar Bekasi, Senin (19/2/2024).

Saat ini kata Roy, masih dalam tahap rekapitulasi penghitungan suara, semuanya belum ada yang pasti, kecuali nanti melalui penghitungan berjenjang di KPU, hasil dari itu baru bisa dinyatakan valid.

”Sementara untuk hasil perolehan suara yang sekarang beredar anggap saja quick count,”paparnya.

Dari sekian banyak penghitungan baik ditingkat TPS maupun PPK yang mau menghadapi pleno, sudah dapat dilihat besaran suara sementara walaupun belum bisa mewakili hasil secara keseluruhan.

Namun Roy menilai gambarannya sudah bisa dilihat dari penghitungan sementara tersebut, partai mana saja yang mendominasi di Dapil Jabar IX Kabupaten Bekasi. Tentunya, hasil Pileg di tingkat provinsi ini akan menjadi barometer bagi para politisi yang punya keinginan melangkah di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bekasi.

BACA JUGA: KPU Telusuri Pemotongan Anggaran Operasional TPS di Desa Sumberjaya Tambun  

“Ini menjadi barometer, tidak hanya menjadi barometer dirinya sebagai Bacalon atau orang yang berkeinginan, tetapi juga menjadi barometer partai pengusungnya. Karena partai tidak mungkin akan mengusung calon yang elektabilitasnya di Pileg ini tidak bisa diandalkan,” tuturnya.

Dirinya menilai, bagi calon yang akan maju di Pilkada melalui jalur politik, kemungkinan besar akan ada yang terhenti di Pileg. Dalam artian, langkahnya tidak berlanjut ke Pilkada. Pasalnya, karir politiknya telah selesai karena pada pertarungan di arena tarung Jabar IX tidak dapat merebut kursi DPRD. Mengingat, wilayah Dapil Jabar IX ini hanya mencakup Kabupaten Bekasi saja.

“Jadi keinginannya akan pupus karena gagal merebut kursi. Karena itu akan menjadi tolok ukur. Saya pikir lebih dari dua orang yang gagal merebut kursi DPRD Provinsi. Terutama yang punya keinginan maju di Pilkada Bekasi,” katanya.

Kegagalan elit partai yang berkeinginan maju di Pilkada Bekasi ini disebabkan karena beberapa hal. Diantaranya, mereka harus menumbangkan para pemilik kursi (petahana) yang kembali bertarung di Pemilu 2024, seperti Faizal Hafan Farid (PKS), Jejen Sayuti (PDIP), Irpan Haeroni (Gerindra), Syahrir (Gerindra), dan Achdar Sudrajat (Demokrat). Kemudian, strategi yang diterapkan kurang begitu dapat diandalkan.

Terpenting, Roy menegaskan, kompetitor yang turun di Pileg 2024 ini tidak seperti sebelumnya. Hal itu mengingat, tidak hanya partai besar yang diisi oleh tokoh. Melainkan partai menengah ke bawah seperti PKB, NasDem, dan PAN, juga banyak diisi oleh Calon Legislatif (Caleg) tokoh dan pastinya turut mempengaruhi hasil. Roy melihat dari perolehan suara sementara, dimana partai-partai kecil pun mampu meraup suara, tidak seperti Pemilu sebelumnya.

“PKB, NasDem, dan PAN, ada kenaikan persentase. Bahkan dari yang sekarang partai menengah, bisa menjadi papan atas di Kabupaten Bekasi, khususnya. Ini mengganggu elektabilitas partai-partai besar yang sudah pede ingin masuk di Pilkada 2024. Untuk sekarang mempertahankan saja berat, apalagi nambah. Saya melihat partai yang bisa masuk ke provinsi pada 2024 ini seperti PKB dan NasDem,” ungkapnya.

Terpisah, Caleg DPRD Provinsi Dapil Jabar IX Kabupaten Bekasi, dari partai NasDem, Siti Qomariyah, optimis mampu merebut satu dari tujuh alokasi kursi di arena tarungnya.

Meski harus bersaing dengan para petinggi partai, perempuan yang dinobatkan sebagai Komandan Emak-Emak Bekasi Mandiri ini yakin, dirinya mampu mengisi kekosongan kursi partainya di Provinsi Jabar, dengan kerja-kerja yang sudah dijalankan selama ini.

“Insya Allah saya bisa mengisi kekosongan kursi Partai NasDem di provinsi. Sekarang masih sedang penghitungan di kecamatan, mudah-mudahan perolehan suara saya sesuai yang diharapkan,” ucap Siqom, sapaan akrabnya. (pra)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Solverwp- WordPress Theme and Plugin