Disway

Sudi Jawa

Oleh: Dahlan Iskan

GELARNYA tidak hanya Jenderal Batak dari Tanah Jawa. Juga tidak hanya pangkat terakhirnya yang Letnan Jenderal. Atau jabatannya yang sampai Menteri Sekretaris Negara.

Sudi Silalahi juga kami kenal sebagai salah satu menteri yang paling rajin salat. Bahkan seperti dituturkan Dipo Alam: hanya Pak Sudi yang berani mengingatkan Presiden SBY. Yakni ketika sudah tiba waktunya salat Jumat.

“Hanya Pak Sudi yang berani. Saya tidak berani. Pak Hatta pun tidak berani,” ujar Dipo Alam, mantan ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia yang kemudian menjabat Sekretaris Kabinet. ”Pak Hatta” yang dimaksud adalah Hatta Rajasa, Menko Perekonomian yang kemudian menjadi besan Pak SBY.

Sudi Silalahi meninggal Senin malam (25/10/2021) lalu di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Sudi dirawat di situ selama satu Minggu. Awalnya menggembirakan. Membaik. Senin pagi sudah kelihatan sehat. Sudah bercanda dengan cucunya.

Senin malam Sudi memanggil anak laki-lakinya. Sang anak kaget. Demikian juga istrinya. Di situ Sudi menyampaikan banyak pesan: agar rajin salat, berbuat baik, dan rukun.

Dari nada pesannya, Sudi seperti mengisyaratkan akan meninggal dunia. Anak dan istrinya menangis. Beberapa jam kemudian Sudi meninggal dunia.

Saya sendiri sudah lama tidak bertemu Pak Sudi. Memang beberapa kali ada pertemuan semacam reuni anggota kabinet Presiden SBY. Tapi saya baru sekali bisa hadir –sekitar 4 tahun lalu.

Kontak terakhir saya dengan Pak Sudi terjadi tiga-empat bulan lalu. Saya meneleponnya: soal pengalaman disuntik Vaksin Nusantara.

Pak Sudi mengaku sehat-sehat saja. Saya sudah menuliskannya di Disway kala itu. Saya juga melihat fotonya yang segar bugar.

Setelah itu Pak Sudi beberapa kali menelepon saya. Beliau menjelaskan hubungannya dengan dokter Terawan. Tentu hubungan yang sangat dekat. Dokter Terawan adalah dokter kepresidenan. Hampir setiap kali Presiden SBY dinas ke luar negeri Sudi menyertai. Demikian juga dokter Terawan.

Sudi juga bercerita: sempat memfasilitasi pembelian mesin DSA untuk RSPAD. Sebelum itu Sudi sendiri menjalani ”brain wash” DSA di negeri asal penemuannya: Amerika Serikat. Yakni setelah ditemukan ada penyumbatan di saluran darah di otaknya. Terawan yang menemaninya.

Tapi bukan penyumbatan itu yang kambuh, yang menyebabkannya meninggal kali ini. Yang saya tahu Sudi juga punya sakit lain: yang banyak dialami laki-laki senior.

Suatu saat, sakitnya itu sempat membuatnya absen hampir dua bulan. Sampai harus diangkat Mensesneg ad interim. Kalau tidak salah ingat, Seskab Dipo Alam yang diminta merangkap jabatan Mensesneg.

Saya tidak pernah mendengar sakit lamanya itu kambuh kembali. Memang, ketika perjalanan pulang dari Amerika itu tiba di Kyoto, Sudi tergeletak di kelas ekonomi pesawat yang membawa rombongan presiden. Kencingnya berdarah. Sempat ada diskusi: dimasukkan rumah sakit di Kyoto atau terus dibawa pulang ke Jakarta.

Waktu itu Pak Sudi sudah pasrah. Bahkan sudah pamit-pamit. Sudah minta diampuni segala kesalahan.

Akhirnya dokter yang memutuskan: terus terbang ke Jakarta. Langsung masuk RSPAD. Kembali sehat. Kembali menjabat Mensesneg. Sampai selesai. Bahkan tetap sehat sampai pekan lalu.

Setelah pensiun Sudi tinggal di satu perumahan di Bekasi. Memang di situ rumahnya sejak lama. Agar tidak jauh dari lokasi Cilangkap –markas besar TNI.

Saya sendiri tidak pernah bertanya soal perkembangan sakitnya yang dulu itu. Termasuk apakah punya potensi berkembang menjadi kanker prostat.

Yang jelas Pak Sudi berhasil hidup sehat sampai umur 72 tahun. Ia lahir di Pematang Siantar, Sumut tahun 1949. Ia termasuk punya gelar Siantar-man –yang jadi kebanggaan orang sukses dari Siantar.

Ayahnya memang Batak Tapanuli. Ibunya yang Jadel –Jawa Deli. Yakni keturunan orang dari Jawa yang dipaksa ke Sumut untuk menjadi buruh kontrak di Deli. Di zaman Belanda. Perkawinan itu dilaksanakan secara Islam.

Sudi kecil amat miskin. Tapi tekadnya kuat. Sampai berhasil masuk AKABRI –satu angkatan dengan Pak SBY. Terus dekat dengan Pak SBY. Pun di zaman Pak SBY menjabat Menko Polkam. Pak Sudi sekretaris menkonya. Lalu sekretaris kabinet. Lanjut ke sekretaris negara.

Perkenalan pertama saya dengan Pak Sudi terjadi ketika beliau menjabat Pangdam V/Brawijaya di Surabaya.

Meski namanya Silalahi, Sudi mampu berbahaya Jawa halus. Gerak tubuhnya juga sangat Jawa. Itulah sebabnya ia mendapat gelar Jenderal Batak dari Tanah Jawa. Itu pula judul buku biografinya. Pak Sudi mengirimkan buku itu ke rumah saya. Satu bulan lalu. Lengkap dengan tanda tangannya.

Tapi “tanah Jawa” yang dimaksud di judul buku itu benar-benar Tanah Jawa. Sudi lahir di Tanah Jawa. Meski di Siantar, desa tempat kelahiran Sudi itu, di sana, disebut “Tanah Jawa”. Begitulah cerita dari Letjen Purn TB Silalahi kepada Disway tadi malam.

Tentu saya tidak bisa ikut melayat kemarin. Saya ucapkan duka lewat mas Bowo, putranya. Saya lihat ada Pak SBY di Taman Makam Pahlawan Kalibata kemarin siang. Juga Pak JK, Pak Budiono Wapres, Pak Hatta, Pak Dipo, dan Pak Menko Polhukam Mahfud MD sebagai inspektur upacara.

Hujan datang begitu deras saat jenazah tiba di TMP.

Hujan langsung tuntas ketika liang lahat ditimbun kembali.(Dahlan Iskan)

Related Articles

Back to top button