Heri Koswara Peduli Pendidikan Kaum Disabilitas

Heri Koswara

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Atas dasar itulah, Heri Koswara bertekad membuka sekolah informal bagi anak tuna rungu. Fasilitas pendidikan diberikan secara cuma – cuma alias gratis.

Kepada Radar Bekasi, Herkos, sapaan akrab pimpinan PKS Kota Bekasi menyampaikan, bahwa dirinya terlahir dari sebuah keluarga yang menganggap penting dunia pendidikan, dimana orangtua yang merupakan warga asli betawi tepatnya Jatiasih, Kota Bekasi. Pada jamannya, sang ayah memiliki cita-cita luhur untuk membangun dunia pendidikan kepada masyarakat sekitarnya.


“Dan beliau (sang ayah) merupakan satu dari sedikit orang yang bersekolah di kampung di masanya. Bahkan, beliau juga sempat masuk pesantren,” kata  pria yang menjabat sebagai Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi kini kepada Radar Bekasi, Rabu (18/1).

Kata Herkos, pentingnya dunia pendidikan baginya dan keluarga merupakan dorongan dari sang ayah. Dari sang ayah pula, pentingnya pendidikan membekas pada dirinya yang kini diamanatkan meneruskan cita-cita mulia sang ayah mengurus sebuah yayasan pendidikan yang didirikannya sejak tahun 1983, dengan tujuan awalnya adalah ingin membangun pendidikan masyarakat di sekitar.


“Dan Alhamdulillah, dari awal yayasan yang dulu dikelola secara tradisional kurang maju. Kini, saya dan beberapa keluarga yang kelola lebih modern dan berkembang hingga punya tiga cabang, salah satunya di Sentul, Bogor,” jelasnya.

Menurutnya, secara keseluruhan total siswa yang mengenyam pendidikan di Yapidh dari TK sampai Perguruan Tinggi, termasuk juga pesantren itu ada sekitar 3000 orang. “Untuk khusus santri pesantren yang menginap itu, sekitar 800 orang (SMP-SMA),” sambungnya.

FOTO BERSAMA: Heri Koswara foto bersama para pendekar. ISTIMEWA

Menurutnya, tiga hal penting yang tak boleh ditinggalkan meskipun kebijakan pemerintah pusat kerap berubah-ubah, sehingga tata kelola di dalam mendidik siswa menjadi tidak fokus. Pertama adalah membangun aspek kecerdasan intelektual. Artinya, peserta didik harus terus terpancing untuk bagaimana dia mengasah otaknya biar betul-betul menjadi anak yang cerdas secara intelektual.

“Kedua, mengasah, mengatur berkaitan budi pekerti lewat pendidikan agama. Dan inilah yang kita rasakan sekarang kekurangannya, karena semakin hari, malah semakin dijauhi. Sama halnya dengan akhlak, dalam islam Akhlak itu lebih tinggi dari ilmu,maka bisa kita lihat orang yang berilmu atau pinter tapi nggak ada akhlak kita lihat saja saat ini,” tuturnya.

“Terakhir, adalah membangun kecerdasan dan ketahanan fisik kepada peserta didik. Ini yang juga menjadi kekurangan akibat banyak anak lebih senang memainkan gadgetnya. Tapi, selain itu juga sekarang  ini banyak sekolah yang minim sarana dan prasarana yang bisa menunjang peserta didik. Jadi, seolah-olah sekolah cuma memikirkan menampung para siswa-siswi sebanyak-banyaknya, tapi tidak diimbangi sarana dan prasarana memadai,” pungkasnya. (mhf)