Bekasi

Bebas Ambil Nasi Bungkus, tapi Dilarang Berkerumun

Mereka yang Membantu Sesama di Tengah Korona

BUKA MULAI PAGI: Yayasan Kanuswa menyediakan ratusan bungkus makanan gratis untuk ojol dan fakir miskin saat wabah korona. (YAYASAN KANUSWA FOR JAWA POS)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Persebaran virus korona membangkitkan kepedulian terhadap sesama. Beragam bentuknya. Misalnya, yang dilakukan beberapa orang ini. Mereka membantu orang-orang yang terimbas langkah pencegahan Covid-19.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

Rumahnomor 20 di Jalan Kertajaya VD itu tak pernah sepi didatangi pengemudi ojek online. Satu per satu masuk. Lantas, mereka keluar dengan membawa bungkusan.

Ratusan nasi tertata rapi di meja di halaman depan. Bergantian penghuninya keluar masuk menambah stok nasi bungkus itu. Saat ada yang datang, tinggal diambilkan. Ada yang satu, dua, bahkan lima bungkus.

Pemandangan yang sama bakal terus terlihat hingga besok (31/3). Saban hari ada 500 bungkus nasi yang dibagikan kepada pengemudi online atau siapa saja yang membutuhkan. Rumah tersebut dibuka mulai pukul 05.00 pagi.

Gerakan itu digagas Yayasan Ksatria Nuswantara Arundaya (Kanuswa) bersama Komunitas Remaja Berbagi (Rabi). Para anggotanya adalah mahasiswa. Rata-rata dari Universitas Airlangga. Selama tiga hari mereka bakal menyediakan nasi gratis. Siapa pun boleh datang dan ambil. Tidak ada batasan.

Uniknya, pembagian tersebut disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang mengambil.

Kalau ada empat, ya boleh ambil empat bungkus. ”Kalau punya istri dan anak, masak cuma dikasih satu,” ujar Ketua Kanuswa Ardini Qoyyimun.

Memang kegiatan seperti itu dilakukan sejak Kanuswa berdiri dua tahun lalu. Saat itu, minimal satu bulan sekali ada bagi-bagi nasi. Sasarannya orang yang rentan mengalami problem sosial. ’’Juga kami bagikan ke keluarga penunggu pasien di RSUD dr Soetomo,” paparnya.

Khusus kali ini memang bertepatan dengan persebaran Covid-19 yang dari ke hari kian meluas. Mereka melihat banyak pengemudi ojol yang terdampak. Pendapatan yang biasanya Rp 200 ribu sehari sekarang separo pun tidak sampai.

Untuk kegiatan bulanan, memang sasarannya juga para ojol. Mereka sudah memiliki daftar 450 orang. Rata-rata merupakan orang tua tunggal karena istri atau suaminya sudah meninggal dan masih punya tanggungan anak. ’’Kami bantu rutin dengan memberikan sembako dan makanan lain,” ujarnya.

Per hari 50 kilogram beras habis untuk keperluan itu. Dini, sapaan ketua Kanuswa, mengatakan bahwa dirinya bersama tim lebih memilih memasak sendiri. Untuk memotong biaya produksi. Dengan begitu, nasi yang dihasilkan bisa lebih banyak. ”Dibantu 10 orang. Lima orang bagian menyiapkan kebutuhan dapur dan lima orang untuk mengemasnya,” tambah pembina Kanuswa Galuh Kusumo.

Memang tenaga yang memasak sengaja dibatasi. Hal itu bertujuan untuk menjaga sterilisasi tempat dan nasi yang dibungkus. Di depan rumah juga terdapat bilik khusus sterilisasi yang disediakan secara mandiri oleh Kanuswa. ”Kami sengaja beli. Kami tidak mau warga di sini khawatir dengan aktivitas pembagian nasi ini,” paparnya.

Karena itu, yang datang juga diatur. Jangan sampai menunggu lama dan malah berkerumun. Galuh mengatakan, pembagian dilakukan secara cepat dan efektif. ”Alhamdulillah dalam pembagian tidak sampai berkerumun. Setengah jam sudah habis dibagikan,” ujarnya.

Soal dana yang digunakan, mereka memang tidak pasang donasi khusus. Murni dari yayasan. ”Yang penting, kami pasang badan dulu. Toh, kita hidup kalau tidak bermanfaat untuk orang lain terus untuk apa? Istilahnya, ini buat sangu kelak,” jelasnya.

Selain berbagai gerakan melalui yayasan, ada juga orang-orang yang melakukannya secara mandiri. Misalnya, yang dilakukan pasangan Levina Faby Naomi Christy dan Richard Handiwiyanto. Mereka rutin memberikan makanan untuk pengemudi ojol dan keluarganya.

Levi, sapaan Levina, menyatakan sering membelikan makanan untuk para ojol. Caranya melalui pemesanan di aplikasi. ”Saya pesan, namun minta mereka bawa pulang saja. Bayarnya saya pakai dompet digital di aplikasinya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, saat perlu diantar ke rumah, jumlah pesanan sengaja dia lebihkan. Nah, porsi lebih tersebut dia berikan kepada pengemudi. Hal seperti itu dilakukan pasangan notaris dan pengacara tersebut setiap hari. Minimal sehari sekali. ”Namun, pasti lebih. Sebab, saban hari bisa pesan makanan pakai aplikasi 3–4 kali,” ungkapnya.

Memang salah satu pertimbangan membantu dengan cara itu adalah lebih efektif. Dia mengatakan, banyak kegiatan yang bisa dilakukan dengan cara memberikan langsung. Misalnya, membagikan masker. Namun, cara itu dinilai tidak efektif. Malah menimbulkan risiko besar bagi si pemberi maupun yang menerima.

Selain itu, menurut dia, pengemudi ojol merasakan dampak yang besar akibat imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Pendapatan mereka turun drastis. ”Kalau seperti ini, minimal kita bisa membantu mereka untuk mendapat penghasilan,” paparnya.

Berbagai ekspresi dia rasakan saat mereka menerima bantuan tersebut. Ada yang kaget kok kenapa bisa dibelikan makanan sebanyak itu untuk pengemudi dan keluarganya. ”Senang bisa melihat mereka bahagia,” ujarnya.( */c6/git)

Related Articles

Back to top button