Bekasi

Udah Capek Nongkrong, Kini Aktif di Lembaga Perlindungan Anak

Cerita Johana Delapan Tahun di Komunitas Punk

AJARKAN ANAK-ANAK : Johana mengajarkan anak-anak di Hutan Bambu Warung Bongkok Desa Sukadanau Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, Rabu (29/10). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Merasa sudah lelah dengan aktivitasnya di komunitas Punk, Johana (35) memilih keluar dan aktif di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

LAPORAN
KARSIM PRATAMA
CIKARANG BARAT

Perempuan kelahiran Semarang, Johana, harus mendapatkan cemohan dari teman maupun orang lain, saat memutuskan untuk meninggalkan kehidupan dari komunitas punk yang sudah dijalani selama delapan tahun.

Perjalanan panjang mulai 2002, saat kabur dari rumah dan harus berhenti sekolah, dirinya milih menjalani hidup bebas di dalam komunitas anak-anak punk. Sampai membentuk Kegiatan Tumpah Buku, dan bisa bekerja di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, tidak semudah yang dibayangkan.

“Jadi saya berpikir capek, karena rutinitas setiap hari kaya gitu. Tidak ada sesuatu yang baru,” ujarnya kepada Radar Bekasi saat ditemui di Destinasi Wisata Hutan Bambu, Cikarang Barat belum lama ini.

Dengan memakai kaos berwarna kuning, perempuan yang akrab disapa Jo ini mulai menceritakan perjalanan hidupnya. Dari kehidupan menjadi anak punk, sampai menjabat Kepala Bidang Sosialisasi Promosi di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia.

Sambil duduk secara lesehan yang beralaskan karpet, dirinya mulai menceritakan kisah hidupnya ini. Dimana, perjalanan saat memutuskan masuk ke dalam kehidupan anak punk pada 2002. Saat itu, dirinya memilih kabur dari rumah dan harus berhenti sekolah, demi memilih hidup bebas di luar.

Singkat cerita, pada 2009 Jo memutuskan untuk meninggalkan kehidupan dari komunitas punk. Dia mengaku, alasan meninggalkan komunitas tersebut, karena sudah merasa lelah dengan rutinitas setiap hari, yang hanya di isi dengan nongkrong dan menghadiri acara-acara punk. Pasalnya, dirinya tidak bisa bermain musik.

Berbagai anggapan atau resepsi dari teman tongkrongan anak-anak punk muncul, setelah dirinya memutuskan untuk menjalani hidup kearah yang lebih. Karena yang biasanya nongkrong sampai pukul 22.00 WIB. Tapi sekarang, dirinya hanya sampai pukul 20.00 WIB. Dimana, keputusan dia dinilai aneh.

Namun seiringnya waktu, keputusan dirinya itu bisa diterima oleh teman-teman tongkrongannya. Karena walaupun sudah berubah kearah lebih baik, dirinya tidak menjauh teman-temannya,”Saya itu awalnya dianggap aneh, itu saya anggap sebuah perjuangan. Kalau kita mau berubah, jangan setengah-setengah. Misalkan mau nyebur, nyebur saja sekalian,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan sekolah paket dan lainnya, di mulai merencanakan untuk membuat suatu gerakan. Tepatnya, pada 27 Juli 2016, dirinya bersama teman-temannya sepakat membuat Kegiataan Tumpah Buku.

Kegiataan Tumpah Buku menyediakan bacaan buku gratis kepada anak-anak. Menurutnya, ide itu muncul ketika koleksi buku miliknya ini jumlahnya cukup banyak. Sehingga dia berpikir, dari pada dijual atau yang lainnya, lebih baik dimanfatkan untuk kegiataan positif. “Buku-buku ini koleksi sendiri, karena dari pada dibuang, lebih baik saya manfatkan ke hal positif. Tapi sekarang ada juga buku dari donasi,” ungkapnya.

Dalam menjalankan kegiataan tersebut, dia memulai bergerak disetiap RT maupun RW. Lalu sesekali melakukan kegiatan diacara ulang tahun teman, termasuk pada kegiatan baksos. Untuk buku yang disiapkan, seperti character building (pembangunan karakter), tentang etika, kesehatan, dan lainnya.

Kemudian, perempuan yang juga berstatus sebagai single parent ini membeberkan, dalam menjalankan kegiatan tersebut tidak berjalan mulus. Karena padangan masyarakat mengenai kehidupan anak punk ini memang susah untuk dirubah, mengingat sudah lama.”Jadi awal mulanya orang memang begitu, tapi kan kebaikan itu tidak bisa ditutupi. Sama dengan kebusukan,” tuturnya.

Perubahaan diri sendiri agar menjadi lebih baik, harus dimulai dari lingkungan. Terutama, pada keluarga dan tetangga. Nantinya, orang-orang yang menilai buruk dirinya ini akan mengetahui sendiri kebaikannya, tanpa harus mengasih tahu.

“Memang ada orang yang percaya. Tapi ada juga yang enggak percaya. Bahkan, orang yang akan memberikan donasi berfikiran, takutnya di kemana-kemanain. Karena beranggapan, kami ini anak punk,” bebernya.

Lanjutnya, dari semua perjalanan yang sudah dialami, selama proses hijrah ke jalan yang lebih baik ini, ada hikmah yang begitu besar di terjadi oleh dirinya. Dimana, pada 2017 lalu, dirinya diterima bekerja di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, sebagai Kepala Bidang Sosialisasi Promosi.”Saya bersyukur, karena sudah mengalami hal itu. Sekarang saya bisa bekerja di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia,” ungkapnya.

Dirinya bekerja di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, atas bantuan dari temannya di komuntas punk yang sudah masuk terlebih dulu. Walaupun keputusan temannya tersebut sempat dipertanyakan oleh dirinya. Alasan yang membuat temannya ini memilih dia. “Saya sempat nanya, ko bisa percaya sama saya. Cuma dia (temannya) bilang, saya sudah melihat perjalanan kamu, konsisten kamu, sama kegiatan kamu itu. Jadi dari situ awalnya,” jelasnya

Pada hari Sumpah Pemuda Rabu (28/10) kemarin, dirinya bersama teman-teman punk membuka Kegiatan Tumpah Buku di Destinasi Hutan Bambu, Desa Sukadanu, Kecamatan Cikarang Barat. Dalam kunjungan tersebut, dirinya mengajak para pemuda untuk perduli dengan anak-anak.

“Pada hari Sumpah Pemuda ini, kami ingin mengajak para pemuda untuk perduli dengan anak-anak kecil. Kita perlu membuka ruang supaya anak-anak berani nanya dan berani protes,” tuturnya. (*)

Related Articles

Back to top button