Metropolis

Kesulitan Pasokan Daging, Pedagang Bakso Merugi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pedagang bakso mengaku kesulitan untuk mendapatkan bahan baku daging sebagai pembuatan bakso yang selama ini menjadi barang dagang mereka. Kerugian yang dialami oleh ratusan pedagang bakso di Kota Bekasi ini ditaksir mencapai belasan juta rupiah.

Ketua Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso (Papmiso) Kota Bekasi, Maryanto menjelaskan bahwa 600 pedagang bakso yang menjadi anggotanya sudah tidak menjual bakso selama dua hari hingga Kamis (21/1).

Belum pulihnya pasokan daging karena pedagang memilih mogok membuat para pedagang bakso harus rela kehilangan omset.

“Diatas 60 persen (omset yang hilang), iya sekitar belasan, diatas Rp11 sampai Rp12 juta itu hilang (selama tiga hari),” katanya.

Para pedagang bakso kesulitan mencari daging sapi sebagai bahan baku, termasuk dirinya kini memanfaatkan bakso Frozen yang disimpan dalam lemari es. Bagi pedagang yang tidak punya alternatif lain terpaksa menghentikan sementara aktivitas jualan mereka.

Selama pemerintahan Presiden Joko Widodo, baru kali ini mengalami lonjakan harga daging hingga membuat para pedagang memilih mogok. Di tengah tingginya harga daging, pedagang bakso tidak bisa menaikkan harga jual ditengah lemahnya daya beli.

“Dampak dari mogoknya pedagang daging itu kan berdampak kepada turunan dari produk daging itu sendiri. Sebagai contoh untuk pedagang baksi,” tambahnya.

Di wilayah Jabodetabek, ia menjelaskan konsumsi daging dari para pedagang 70 persen untuk bahan baku bakso. Pihaknya meminta kepada pemerintah Kota Bekasi untuk menyampaikan situasi yang terjadi saat ini kepada pemerintah pusat, lantaran saat ini penopang ekonomi nasional paling kuat adalah pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di hari yang sama, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mendatangi langsung loss pedagang daging sapi di kawasan Pasar Baru Bekasi. Menurutnya, banyak sektor industri turunan yang terdampak oleh mogoknya para pedagang daging.

“Harapannya pemerintah segera mengambil langkah strategis, dan mampu memberikan harga yang representabel, dan bisa memenuhi kebutuhan konsumsi daging di Kota Bekasi,” katanya.

Hasil dialog Tri bersama dengan pedagang daging menghasilkan kesimpulan bahwa ada kenaikan harga yang signifikan dirasakan oleh para pedagang, lebih berat ini terjadi pada saat pandemi. Pihaknya berencana untuk membuat risalah dan melaporkan situasi yang terjadi saat ini kepada pemerintah pusat.

“Kami akan membuat risalah dan laporan ke pemerintah dan menteri perdagangan, agar bisa ada solusi untuk stabilisasi harga daging,” ungkapnya.

Melalui siaran pers yang diterima oleh Radar Bekasi, Sekertaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag), Suhanto menjamin stok daging cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Tingginya harga sapi bakalan (hidup) yang diimpor dari Australia satu semester terakhir disebabkan oleh repopulasi, pemenuhan permintaan konsumsi dalam negeri, dan peningkatan permintaan dari negara lain terutama pada tiga bulan terakhir.

“Sebagai upaya menindaklanjuti mogok sebagian pedagang daging sapi di wilayah Jadetabek, dalam jangka pendek Kemendag telah berkoordinasi dengan pemasok daging sapi dan APDI untuk memastikan kelancaran distribusi pasokan dan ketersediaan daging di pasar di wilayah Jadetabek,” terangnya.

Selain memastikan ketersediaan daging sapi bagi kebutuhan nasional, pemerintah disebut akan mempersiapkan strategi baru sebagai alternatif memenuhi permintaan daging sapi. (sur)

Related Articles

Back to top button