Pantai Pink Menakjubkan, Resort Kanawa Island Tinggal Kenangan

KARANG PINK--GM Radar Bekasi Andi Ahmadi menegang karang laut yang ditumbuhi karang berwarna merah maroon, (kiri). GM Keuangan Radar Bekasi Imam, saat melintasi dermaga Kanawa Island. MIFTAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, – Setelah menjelajah Kampung Loh Liang Pulau Komodo dan Desa Komodo, rombongan Tim gerakan Anak Negeri (GAN) Radar Bogor Group mengeksplor keindahan Pantai Pink dan Pulau Kanawa. Seperti apakah keseruan di dua tempat tersebut?

Laporan : Miftah
Nusa Tenggara Timur


Waktu menunjukan pukul 13.00 WITA, Kapal Pinisi Sipakatau Bulukumba yang membawa rombongan Tim Gerakan Anak negeri (KAN) Radar Bogor Group berjalan tenang.Tujuan kali ini ke Pantai Pink, yang berjarak 35 menit perjalanan kapal dari Pulau Padar.

Cuaca siang itu sangat cerah. Kapten Alfian mulai mengendurkan tuas gas. Suara kapal berbunyi pelan, kapal sebentar lagi akan berhenti. Dari kejauhan sudah terlihat pulau dengan garis pantai berwarna pink. Dari atas kapal, kilau pasir pantai yang berwarna pink sudah terlihat menggoda.


Tak ada nyiur di sepanjang pantai. Garis pantai hanya berisi pasir pink.

Air laut yang berwarna turquoise atau pirus makin kontras dengan pasir pantai. Semakin dekat dengan laut, pasirnya makin pink. Tapi semakin ke daratan warnanya mulai pudar, sedikit putih. Tapi tak menyurutkan keindahan pantai yang menjadi salah satu keunggulan destinasi wisata di Timur Indonesia ini.

Secara geografis, Pink Beach atau Pantai Pink masih terletak di Pulau Komodo yang merupakan Kawasan Taman Nasional Komodo dan secara administratif, destinasi primadona ini masuk dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa tenggara Timur. Masih satu daratan dengan Kampung Komodo, dan Loh Liang yang menjadi tempat untuk melihat hewan Komodo.

Kami kembali harus menaiki sekoci untuk ke bibir pantai. Tidak ada dermaga di sini, seperti di Pulau Padar, atau Kampung Komodo yang disiapkan dermaga. Begitu menginjakkan kaki di pantai, kami dibuat takjub dengan keindahan pantai yang membentang luas. Sejauh mata memandang, pasir lembut berwarna merah muda menghipnotis kami. Benar-benar menakjubkan.

Belum lagi air berwarna biru jernih dan bukit di belakangnya yang gagah perkasa menjulang tinggi di depannya terhampar ilalang yang indah dan cocok untuk sopt foto.

Tim GAN langsung menyebar. Mereka langsung berenang di bibir pantai yang landai. Sebagian dari mereka memilih duduk-duduk di warung sederhana sembari menikmati air kelapa muda. Sedangkan yang lainnya sibuk mengarahkan video kamera ke setiap sudut pantai untuk membuat konten.

Di sini ada aturan untuk mengunjungi Pantai yang satu ini, yaitu kapal tidak boleh mendekati bibir pantai. Hal tersebut bertujuan agar keadaan koral tetap baik. Warna air yang jernih membuat koral dan ikan terlihat meski pengunjung hanya berjalan beberapa meter sajar dari riak-riak pantai. Jadi saat tiba di dekat pulau, maka wisatawan akan menaiki perahu sekoci.

Selain itu, pengunjung tidak diperkenankan membawa pulang pasir,”Tidak boleh dibawa pulang. Walaupun dibawa sembunyi-sembunyi, nanti akan ketahuan di bandara,”kata pemandu kami, Asep kepada Radar Bekasi.

Keunikan utama Pantai Pink ini terletak pada pasir pantainya yang berwarna merah muda. Kenapa bisa pink? Gelombang laut memberi peranan penting pada proses pembentukannya. Terumbu karang yang ada di sekitar pantai sebagian besar berwarna merah. Gelombang besar yang terjadi menyebabkan sejumlah cangkang kerang tersebut pecah dan terseret ke pantai. Pecahan cangkang kemudian bercampur dengan pasir putih yang berasal dari batuan kapur yang berada di sekitar area pantai

“Warna pink pada pasirnya sendiri berasal dari butir-butir asli warna putih pasir, bercampur dengan terumbu karang berwarna merah yang sudah mati.”kata Asep menjelaskan.

Pantai ini juga memiliki keindahan panorama yang sangat menakjubkan. Hamparan rumput savana menyelimuti punggung bukit yang bersusun di belakang pantai. Terdapat hamparan padang savana yang luas di bagian daratannya. Beberapa pohon yang rimbun tumbuh berjarak di antara pasir pantai dan rumput savana. Di bawah pohon, masyarakat lokal memanfaatkannya untuk berjualan patung komodo dan barang kerajinan lainnya.

Di Pantai tersebut ada enam warung berdiri. Mereka merupakan warga kampung Komodo yang mengais rezeki di pantai tersebut. Kopi, kelapa muda, mie instan, aneka minuman ringan mereka yang mereka jual. Satu butir kelapa muda dijual Rp30 ribu, yang biasanya hanya Rp10 sampai 15 ribu. Sementara kopi segelas Rp10 ribu yang biasanya disini dijual Rp3 ribu.

“Karena ongkos belanjanya yang mahal,”kata salah seorang pemilik warung, Ismail.

Selain itu, pengunjung maupun warga yang berjualan di pantai tersebut, wajib menjaga kebersihan pantai. Kendati demikian, kami masih melihat beberapa sampah seperti botol plastik ada di bibir pantai, namun tidak banyak.

Puas berada di Pantai Pink, Tim melanjutkan perjalanan mengeksplor keindahan Pulau Kanawa.

Pulau tropis seluas 28 hektar ini berjarak 28,6 km dari pantai pink. Pulau ini memiliki dermaga, namun untuk ke bibir pantai tetap menggunakan perahu sekoci. Karena takut merusak terumbu karang yang ada di sekitar pulau.

Dari kejauhan, Pulau Kanawa terlihat hanya sebuah bukit batu kecil yang biasa saja. Namun, setelah kapal mendekat, kami langsung berdecak kagum dengan keindahannya. Hamparan terumbu karang terlihat jelas dengan mata telanjang. Begitu juga ribuan ikan yang berenang di tepian dermaga seakan menyapa setiap pengunjung yang datang. Pantai pasir putihnya mengundang siapapun untuk bercengkrama disana.

Pulau ini mempunyai dua pantai pasir putih dan sebuah teluk. Tepat di tengah-tengah pulau menjulang sebuah bukit kecil. Jika menuju puncak bukit, wisatawan dapat melihat panorama 360 derajat Taman Nasional Komodo, gugus pulau di sekitarnya. Namun, tim GAN tidak menaiki bukit, hanya mengeksplor keindahan pantai saja.

“Tadinya ada resort di sini, saat ini sudah tak dikelola lagi. Terbengkalai. Sekarang juga sudah jarang yang naik ke atas bukit itu. Jadi jalannya sudah tertutup rumput. Kalau dulu banyak pengunjung ke bukit. Semenjak pandemi ini, pengunjung sangat sedikit. Bahkan tahun kemarin nyaris kosong (Pengunjung datang). Tapi kalau sekarang sudah mulai, namun hanya wisatawan lokal. Kalau luar negeri belum,”kata salah seorang pengelola Kanawa Island, Aras (55) kepada Radar Bekasi.

Ayah lima orang anak ini merupakan karyawan dari Kanawa Resort sejak 2011 lalu. Pulau Kanawa itu sendiri dikelola oleh Kanawa Island Resort yang disewa oleh warga luar negeri. Resor ini terdapat di bagian selatan pulau, sedangkan untuk bagian utara pulau dibiarkan alami untuk melindungi flora dan fauna asli pulau ini.

“Dulu ada 19 penginapan atau resort disini, tapi sekarang sudah kosong semua, semenjak pandemi tidak berpenghuni lagi, dibiarkan kosong. Saat ini hanya tinggal dua bangunan yang berdiri, untuk warung dan mushola,”kata Aras sembari menunjukan dua bangunan yang tepat di depan ujung dermaga.

Sebelum pandemi, lanjutnya, pengunjung mayoritas dari luar negeri. Biasanya mereka akan menyewa resort minimal satu minggu hingga sebulan. Setiap hari yang mereka lakukan selain berenang, snorkeling, diving, memancing dan mendaki bukit,”Sekarang sudah tidak ada lagi,”kata pria yang setiap bulan mendapat gaji Rp3,5 juta dari Kanawa Resort.

Di Sebelah timur pulau, terdapat bangkai kapal Pinisi yang sudah tak terpakai. Sebelumnya, ada lima kapal pinisi milik Kanawa Resort, namun saat ini semuanya sudah tak digunakan lagi,”Kalau dulu antri orang yang datang ke sini,”imbuhnya.

Ya, keindahan pulau kanawa dengan pasir putihnya yang lembut akan membius pengunjung, begitu juga tim GAN Radar Bogor Group. Mereka langsung berenang di tepian dermaga menikmati sejuknya air laut sambil bercanda dengan ribuan ikan. Snorkeling. Nyebur dan terus setengah menyelam ada juga tim membuka alat snorkeling dan memilih tidak mengenakan alat dan menyelam di lokasi yg kedalamnnya sekira tiga meter tersebut. Sementara itu yang lainnya, memilih menikmati keindahan alam Pulau Kanawa dari bibir pantai. Selfi dan berfoto ria.

Tak ketinggalan CEO Radar Bogor Group, Hazairin Sitepu (HS). Dengan menggunakan perahu kecil,–kano– mendayung ke tengah laut sendirian. Sambil memancing. “Ombaknya tenang, tak terlalu besar,”katanya usai turun dari perahu.

Sayangnya, tim GAN tidak bisa berlama-lama di pulau tersebut, karena harus ke dermaga Labuan Bajo sebelum petang. Tim meninggalkan pulau dengan seribu kenangan indah. (bersambung)