Jalur Tikus Mudik Bekasi

Illustrasi: Penumpang ketika menuju bus yang akan digunakan untuk mudik di Terminal Induk Bekasi, Rabu (29/7). Jelang Hari Raya Idul Adha jumlah penumpang mulai ada peningkatan. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga yang akan mudik tahun ini menggunakan kendaraan pribadi, mesti antisipasi adanya kemacetan di jalur utama. Jalur alternatif atau jalan ’tikus’, akan menjadi pilihan pemudik untuk menghindari macet. Sementara itu, ratusan Petugas gabungan dari TNI, Polri, dan Pemerintah Kota (Pemkot) mulai bersiaga mengamankan dan melayani pemudik sejak 22 April kemarin. Total ada 8 Pos Pengamanan (Pospam) dan Pos Pelayanan (Posyan) di Kota Bekasi.

Delapan Pospam dan Posyan tersebar di kawasan Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Medan Satria, Jatisampurna, dan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Jalur utama yang familiar menjadi rute perjalanan pemudik menggunakan kendaraan pribadi adalah di jalur utama Kota Bekasi.


Diantaranya Jalan Sultan Agung, Jalan Ahmad Yani, Jalan Ir H Djuanda, Jalan Cut Mutia, Jalan Narogong, Jalan Chairil Anwar, Jalan Diponegoro, Jalan RE Martadinata, hingga masuk ke wilayah Karawang. Kemarin, beberapa titik di jalan utama macet di samping jalan-jalan lingkungan, peta elektronik memberi tanda warna merah.

Ya, Mulai tanggal 28 April mendatang, pemerintah memprediksi kepadatan lalu lintas akan terjadi lantaran tingginya jumlah pemudik menggunakan kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua. Ada beberapa alternatif jalur di Kota Bekasi yang bisa dilintasi oleh para pemudik untuk sampai di Kabupaten Karawang, jalur alternatif yang bisa dilalui tersebar di wilayah Utara dan Selatan Kota dan Kabupaten Bekasi.


Kemarin, Salah satu pemudik dengan kendaraan roda dua sudah tiba di Ngawi, Jawa Timur, mereka berangkat dari Kota Bekasi Rabu (20/4) pukul 00:00 WIB.

“Satu takut padat, yang kedua juga biar jalannya santai, yang ketiga karena kita jalan ini naik motor Smash tahun 2004 jadi pertimbangan aja takut ada apa apa. Mulai ketemu pemudik pertama itu di Brebes,” kata warga Kota Bekasi yang tengah dalam perjalanan Mudik, Rama Fiqri Rahman Amin (25), Minggu (24/4).

Untuk menuju kampung halaman di Pasuruan, Jawa Timur dalam kondisi lalu lintas normal membutuhkan waktu 20 jam. Rama mudik bersama satu rekannya yang juga merantau ke Kota Bekasi, perjalanan seakan terlampau lama lantaran setiap tiga jam mereka berhenti untuk sekedar beristirahat atau menghindari guyuran hujan, selama perjalanan mereka tidur di stasiun pengisian bahan bakar dan di warung sepanjang jalan.

Lalu lintas selama perjalanan diakui relatif sepi, belum banyak pemudik yang mereka jumpai selama perjalanan.”Kalau selama perjalanan, untuk pemudik sendiri masih sepi, ada paling ketemu dua sampai tiga pemotor, nanti ketemu lagi segitu. Masih sepi, jalanan masih lancar kok,” tambahnya.

Pengamanan dan pelayanan kepada pemudik yang melintas di Kota Bekasi dimulai Jumat (22/4), ratusan petugas gabungan disiagakan di beberapa pos di sepanjang rute perjalanan mudik. Kegiatan dilakukan lebih awal lantaran pemudik sudah mulai bergerak sebelum H-7 lebaran.

“Personil yang bertugas di pos pengamanan dan pelayanan yang berjumlah 795 baik itu Polres, Kodim, dan Pemkot,” Kata Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol Hengki.

Akhir pekan kemarin lalu lintas di sejumlah ruas jalan padat, hanya saja kepadatan lalu lintas belum dipenuhi oleh pemudik.”Belum ada yang nampak hiruk pikuk di sekitar Kota Bekasi sendiri. Masyarakat euforia untuk pergi ke mall berbelanja untuk kebutuhan lebaran,” tambahnya.

Kepolisian menghimbau kepada pemudik untuk memastikan kesehatan badan dan kendaraan sebelum memulai perjalanan, petugas mempersilahkan pemudik untuk beristirahat di Pospam dan Posyan sepanjang perjalanan mudik.

Pemerintah kota mencatat beberapa potensi bencana selama masyarakat pulang ke kampung halaman, diantaranya bencana banjir. Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto meminta beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk tetap bersiaga selama libur lebaran, diantaranya Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Kesehatan (Dinkes), dan Pemadam Kebakaran (Damkar).

Ia meminta petugas untuk mengantisipasi genangan yang terjadi ruas jalan nasional yang ada di Kota Bekasi. Sementara penanganan kerusakan jalan dilakukan oleh petugas Unit Reaksi Cepat (URC).”Kalau itu terjadi hambatan, akan mempengaruhi perjalanan pemudik,” ungkapnya.

Rumah di sepanjang bantaran kali yang ditinggal pemiliknya mudik juga menjadi perhatian saat terjadi bencana banjir.

Salah satu pos pelayanan terletak di Terminal Induk Bekasi Timur. Dipastikan terjadi peningkatan aktifitas di lingkungan terminal induk setelah dua tahun masyarakat tidak boleh mudik.

“Sampai hari ini memang belum terlihat ada lonjakan, mungkin kalau dari data kami yang ke Sumatera sekitar 20 persenan sudah ada peningkatan,” terang Kepala Dishub Kota Bekasi, Dadang Ginanjar.

Lonjakan penumpang diprediksi akan terjadi pada tanggal 28 dan 29 April mendatang. Total ada 240 armada bus yang disiapkan untuk memfasilitasi pemudik, bantuan bus diklaim telah disiapkan jika lonjakan penumpang yang terjadi cukup tinggi. (Sur)