Harga Pertamax Naik, Pemerintah Dianggap Gagal

JALAN RUSAK: Kondisi jalan rusak dibiarkan, sementara trotoar diperbaiki, di Jalan Inspeksi Kalimalang, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Selasa (29/3). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masyarakat Kabupaten Bekasi mengeluhkan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax yang akan mulai diberlakukan pada bulan April 2022 mendatang dari Rp14.526 per liter menjadi sekitar Rp16.000 per liter,.

Pasalnya, dengan kenaikan harga tersebut, akan mempersulit ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Terlebih, bahan pokok sudah terlebih dulu merangkak naik, seperti minyak goreng dan yang lainnya.


Warga Sukawangi, Bojo Sanjaya (27) mengatakan, sangat menyesalkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.000 per liter. Walaupun sebenarnya, dia tidak setiap hari menggunakan Pertamax. Namun pria yang bekerja sebagai karyawan di Karawang ini menuturkan, dengan kenaikan harga Pertamax, semua orang akan beralih ke Pertalite, dan imbasnya akan terjadi kelangkaan.

“Dugaan saya, kalau harga Pertamax naik, akan berimbas ke Pertalite, karena hampir semua orang akan beralih. Akibatnya Pertalite langka,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (30/3).


Seperti yang sudah terjadi sekarang, vaksin booster menjadi persyaratan untuk masyarakat mudik Lebaran. Tapi untuk mendapatkan vaksin booster, masyarakat sangat sulit, alasannya karena persedian yang habis. Begitu juga persoalan kenaikan harga Pertamax ini, nanti persedian Pertalite akan langka, akhirnya masyarakat terpaksa membeli Pertamax.

“Kalau saya lihat siklusnya bakal seperti itu. Ini yang saya khawatirkan,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi, Ani Rukmini menilai, secara umum pemerintah ini sukanya naik-naikin harga. Sebelumnya harga minyak goreng naik, termasuk bahan-bahan pokok lainnya. Sekarang, harga Pertamax mau ikut dinaikkan. Padahal, bentuk tanggung jawab pemerintah tugas dasarnya mensejahterakan masyarakat, tapi sekarang jelas itu tidak terlihat.

“Saya pikir bentuk tanggung jawab pemerintah tugas dasarnya mensejahterakan masyarakat, tidak kelihatan saat ini. Bagaimana bisa, kalau semua harga dinaikin, berarti akan berakibat daya beli turun,” ucapnya.

Walaupun Pertamax itu konsumsi kelas menengah ke atas, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai, tetap saja akan berimbas ke masyarakat bawah. Akhirnya, orang-orang kembali ke Pertalite. Nanti kemungkinan Pertalite langka dan harganya dinaikkan. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat bisa stres.

“Jadi, bagaimana masyarakat nggak stres. Satu sisi masyarakat harus nurut, kalau kita ngomong keras sedikit, dianggap pembangkangan,” sesalnya.

Sekadar diketahui, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi menyampaikan, harga minyak dunia pada Maret jauh lebih tinggi dibanding Februari, sehingga memicu harga Pertamax melambung.

“Dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 bulan April 2022, akan lebih tinggi lagi dari Rp 14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp16.000 per liter,” ucapnya. (pra)