Women20 Dorong Akses Ekonomi untuk Perempuan Pedesaan dan Penyandang Disabilitas

Chair Women20 Indonesia Hadriani Uli Silalahi (empat dari kiri), (Pj) Gubernur Papua Barat Komjen Pol. (Purn) Paulus Waterpauw (lima dari kiri), Staf Khusus Republik Indonesia untuk inklusi Pemuda dan Disabilitas Angkie Yudistia (enam dari kiri), Presiden KOWANI Giwo Rubianto M.Pd (tujuh dari kiri) bersama dengan pejabat Papua Barat, saat pembukaan acara pertemuan keempat W20 di Manokwari, Kamis (9/6). ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pertemuan Women20 (W20) di Manokwari, Papua Barat, 8-9 Juni 2022 menghasilkan sejumlah rekomendasi yang menekankan pada advokasi bagi perempuan pedesaan dan perempuan penyandang disabilitas dalam hubungannya dengan upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi inklusif serta akses untuk membangun ketahanan. Pertemuan tersebut juga telah mengidentifikasi tantangan bagi perempuan pedesaan dan perempuan penyandang disabilitas dalam menghilangkan akses yang tidak setara bagi perempuan pedesaan dan perempuan penyandang disabilitas agar mereka bisa berpartisipasi dalam perekonomian.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia I Gusti Bintang Puspayoga mengatakan, meskipun kemiskinan tidak pernah netral gender, faktanya, wanita merupakan sebagian besar orang miskin di dunia. Perempuan umumnya menghadapi diskriminasi, stigmatisasi, subordinasi, marginalisasi, dan bahkan kekerasan.


“Masalah-masalah ini telah menyebabkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang tidak setara atas sumber daya bagi perempuan, yang menyebabkan potensi yang mereka miliki kurang dimanfaatkan,” ujar Bintang.

Bintang menambahkan, saat ini tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia hanya 53,34 persen. Perempuan juga terkonsentrasi di sektor informal, yaitu 63,8 persen.


Bintang menambahkan, situasi bagi perempuan yang terpinggirkan, terutama perempuan penyandang disabilitas dan mereka yang tinggal di daerah pedesaan, jauh lebih buruk. Mereka menghadapi tantangan yang cukup banyak, seperti kurangnya layanan dan infrastruktur yang buruk di daerah pedesaan telah membuat akses ke informasi, pendidikan, perawatan kesehatan, dan pekerjaan formal.

Perempuan penyandang disabilitas menghadapi stigmatisasi dan diskriminasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan tanpa disabilitas. Mereka sering dipandang tidak berdaya, meskipun, sebaliknya, memiliki kekuatan dan potensi yang berharga seperti orang lain.

Untuk itu, Bintang melanjutkan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Dalam Negeri, serta pemerintah daerah bekerja sama mengembangkan program “Perempuan dan Desa Ramah Anak/Kelurahan” untuk mengarusutamakan hak-hak perempuan dan anak-anak dari tingkat akar rumput.

Melalui program ini, juga dipromosikan kewirausahaan bagi perempuan lokal dan perempuan lokal penyandang disabilitas. Hingga saat ini, total ada 142 Desa Ramah Perempuan dan Anak di 71 Kabupaten dan 33 Provinsi di Indonesia. Selain itu, 80 Desa/Kelurahan juga telah menginisiasi sendiri program ini. Kami juga berharap dari pertemuan ini dapat menghasilkan rekomendasi yang kuat dan dapat ditindaklanjuti yang dapat dikemukakan dalam agenda pengarusutamaan G20.

Dalam sambutannya, (Pj) Gubernur Papua Barat, Komjen Pol. (Purn) Paulus Waterpauw menyampaikan dukungan atas penyelenggaraan pertemuan W20 di Papua Barat. Dia yakin event ini akan memberikan nilai tambah bagi Provinsi Papua Barat dan akan membawa dampak positif dalam rangka pembangunan berkelanjutan, terutama untuk menangani kaum perempuan, anak, dan juga kelompok disabilitas.

Terkait pembahasan dalam pertemuan, Chair W20 Indonesia, Hadriani Uli Silalahi, menyampaikan, W20 memiliki komitmen untuk menjadikan topik perempuan pedesaan dan perempuan disabilitas sebagai legacy dari Indonesia yang di mulai dari Papua Barat. Topik tersebut sangat krusial untuk dibahas demi memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif demi membangun ketahanan baik untuk Indonesia dan untuk negara G20 lainnya. Kami berkomitmen untuk mendorong topik rekomendasi ini ke deklarasi pemimpin G20.

Di dalam kegiatan ini, dengan dukungan dari berbagai pihak, kami dapat memperlihatkan kolaborasi W20 dengan Ibu Angkie Yudistia dan juga organisasi-organisasi perempuan mengenai pameran program hasil pemberdayaan perempuan disabilitas. Selain itu, terdapat Expo UMKM dari perempuan pedesaan yang dilaksanakan di Manokwari City Mall. Untuk memastikan inklusifitas dari pembahasan materi, perwakilan dari perempuan pedesaan dan komunitas perempuan disabilitas ikut hadir, terlibat, dan memberikan suara mereka.

Sementara itu, dalam penyampaian kesimpulan pertemuan W20 Presidensi Indonesia yang keempat ini, Co-Chair W20 Indonesia, Dian Siswarini, mengatakan, “Sebagian besar pembicara menunjukkan peran integral perempuan untuk menjadi kekuatan pendorong tidak hanya dalam mencapai pemulihan ekonomi dari pandemi, tetapi juga sebagai fondasi stabilitas ekonomi jangka panjang kita. Banyak tantangan yang dihadapi perempuan yang menghambat mereka untuk berpartisipasi aktif dalam perekonomian, terutama tantangan perempuan yang kurang beruntung, terutama mereka yang memiliki disabilitas dan di daerah pedesaan di bawah pandemi Covid-19, dan hambatan bagi mereka untuk memasuki pasar tenaga kerja.

Untuk itu, Dian menekankan, bahwa para pemimpin G20 harus segera mengambil tindakan. Pertama, menghilangkan hambatan bagi perempuan yang kurang beruntung, terutama mereka yang memiliki disabilitas dan di daerah pedesaan, untuk memasuki pasar tenaga kerja dan mengamankan basis ekonomi yang cukup untuk menopang kehidupan mereka bahkan di bawah krisis. Kedua, menghilangkan akses yang tidak setara bagi perempuan pedesaan dan perempuan penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam ekonomi dan membangun ketahanan.

Ketiga, meningkatkan literasi digital dan keuangan bagi perempuan pedesaan dan perempuan penyandang disabilitas. Keempat, menciptakan asosiasi bisnis perempuan merupakan bagian integral dari membuka akses ke pasar dan meningkatkan dukungan antara pengusaha perempuan, seperti bantuan teknis dan keuangan kepada UMKM. Dan yang terakhir, mengurangi peraturan kaku yang datang dari berbagai pemangku kepentingan termasuk sektor swasta dan publik untuk meningkatkan potensi penuh para perempuan penyandang disabilitas dan di pedesaan.

Pesan Moral dari Manokwari

Dalam pertemuan W20 di Manokwari, dihasilkan beberapa poin pesan untuk pemimpin dan masyarakat dunia terkait perempuan pedesaan dan disabilitas, antara lain pertama, terus mendorong terbentuknya dunia yang damai dan bumi yang layak huni, bebas dari diskriminasi, konflik dan perang serta penghentian tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kedua, mendorong diberikannya perhatian lebih dan adanya kebijakan untuk peningkatan kapasitas perempuan pedesaan dan disabilitas. Ketiga, memberikan kesempatan dan akses seluas-luasnya bagi perempuan pedesaan dan penyandang disabilitas untuk mendapatkan pelayanan dasar.

Keempat, mempercepat pembentukan kebijakan yang lebih permanen melalui legislasi atau regulasi yang melindungi dan meningkatkan kapasitas perempuan pedesaan dan penyandang disabilitas. Kelima, memberikan dukungan penuh Langkah-langkah konkrit dalam upaya peningkatan kapasitas perempuan pedesaan dan penyandang disabilitas oleh pemerintah masing-masing negara, seperti akselerasi digitalisasi untuk peningkatan literasi dan inklusi digital masyarakat, termasuk perempuan di pedesaan dan perempuan dengan disabilitas.

Dan yang keenam, secara khusus terkait event W20, memberikan dukungan kebijakan Negara membangun dari pinggiran sesuai Visi Presiden Indonesia Bapak Joko Widodo, dalam hal mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan pelayanan dasar seperti pendidikan dan Kesehatan, bagi perempuan pedesaan dan penyandang disabilitas sesuai semangat pembangunan berkelanjutan.

Keramahan dan Kearifan Lokal Papua Barat Sapa Delegasi W20

Selama gelaran pertemuan W20, para peserta benar-benar merasakan keramahan dan kearifan lokal di Manokwari dan Papua Barat secara umum. Sambutan dari masyarakat setempat sudah dimulai dari kedatangan para delegasi di Bandara Rendani, Manokwari. Para tamu disambut dengan seremoni Injak Piring atau Mansorandak, di mana tradisi ini dilakukan kepada tamu-tamu kehormatan sebagai ungkapan syukur karena telah sampai di Tanah Papua dengan selamat.

Selanjutnya, pada pembukaan acara pertemuan, kembali para delegasi dan peserta mendapatkan suguhan seni tradisi Tarian Persatuan oleh Sanggar Tari Papua Melanesia. Nyanyian lagu-lagu Tanah Papua juga menghibur selama jamuan makan, di mana makanan-makanan tradisonal Papua juga tersaji.

Berikutnya para tamu diajak menyeberang ke Pulau Mansiman yang berada di lepas pantai Manokwari. Letaknya sekitar 6 Kilometer dari Kota Manokwari. Untuk mencapai pulau ini hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit menggunakan kapal mesin. Sesampainya di pulau yang Indah ini, para delegasi disambut dengan beberapa upacara adat setempat, seperti tradisi injak piring dan nyanyian selamat datang oleh anak-anak papua. Selain mengunjungi beberapa situs yang ada di pulau itu, peserta juga akan diajak melakukan pelepasan tukik (anak penyu).

Kunjungan ke Pulau Mansinam di Manokwari Papua Barat tersebut melanjutkan visi W20 Indonesia untuk ikut mempromosikan daerah-daerah eksotis di Tanah Air, termasuk yang menjadi destinasi wisata prioritas Indonesia. Sebelumnya pertemuan berturut-turut telah dilaksanakan di Likupang, Sulawesi Utara, lalu Batu, Jawa Timur dan Banjarmasin Kalimantan Selatan. (oke/jpc)