Nelayan di Muaragembong Kesulitan Beli BBM Bersubsidi

Illustrasi : Nelayan menggunakan boat kecil berangkat melaut, di Desa Pantai Mekar, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Selasa (28/6). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ribuan nelayan di Kecamatan Muaragembong, tidak bisa melaut karena kesulitan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi dan pertalite.

Seperti yang terjadi di Desa Pantai Bahagia, sekitar 1.500 nelayan di wilayah tersebut, pendapatannya menurun drastis.


Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi mengatakan, di Kecamatan Muaragembong tidak ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Menurutnya, selama ini nelayan membeli BBM untuk melaut di SPBU Batujaya, Kabupaten Karawang. Namun saat ini, pihak SPBU tidak bisa melayani mereka karena mengalami kelebihan penjualan dari sektor pertanian.

“Di Muaragembong tidak ada SPBU, jadi nelayan biasanya beli BBM bersubsidi di Batujaya Karawang. Sekarang mereka kesulitan melaut, karena tidak bisa mendapatkan BBM,” ujar Ahmad, saat dimintai keterangan, Selasa (28/6).


Lanjut Ahmad, pihak desa sudah mengajukan surat permohonan pembangunan SPBU khusus untuk nelayan ke Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi dan BP Migas. Jika direalisasikan, maka lokasi pembangunannya berada di Desa Pantai Bahagia, atau Pantai Mekar.

“Nelayan yang menggunakan perahu jenis ketinting butuh lebih sepuluh liter pertalite perhari. Kalau yang pakai perahu jenis jukung, butuh 30 sampai 40 liter solar per hari, makanya kami minta supaya dibangun SPBU khusus untuk nelayan, karena tidak bisa melaut, sehingga akan berdampak pada pendapatan nelayan,” terangnya.

Sementara itu, Camat Muaragembong, Lukman Hakim, membenarkan hingga saat ini di wilayahnya tidak ada SPBU. Kondisi itu pun menjadi salah satu penyebab ribuan nelayan sulit melaut, karena tidak bisa mendapat pasokan BBM bersubsidi dari SPBU Batujaya Karawang.

“Surat permohonan pembangunan SPBU akan kami sampaikan ke Pak Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, draft-nya sudah ada. Jadi memang alasan utamanya, nelayan kesulitan mendapatkan BBM solar bersubsidi,” ucap Lukman.

Selain permohonan pembangunan SPBU, pihak kecamatan juga mengusulkan untuk mengaktifkan kembali fasilitas penyalur BBM bersubsidi yang telah vakum lebih dari 10 tahun di wilayah tersebut.

“Fasilitas penyalur BBM ini dulu sudah ada, tiba-tiba mandek, gak tahu sebabnya. Nah, ini supaya diaktifkan kembali. Jadi selain SPBU untuk umum, juga buat nelayan, karena ini kan untuk perekonomian nelayan juga,” beber Lukman. (pra/and)