Perkuliahan Daring jadi Kebiasaan Baru Dosen

ILUSTRASI: Sejumlah mahasiswa Universitas Bina Insani Kota Bekasi saat mengikuti perkuliahan secara tatap muka dengan prokes ketat. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI
ILUSTRASI: Sejumlah mahasiswa Universitas Bina Insani Kota Bekasi saat mengikuti perkuliahan secara tatap muka dengan prokes ketat. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perkuliahan secara daring sudah menjadi kebiasaan baru para dosen di Bekasi. Oleh karena itu, banyak perguruan tinggi swasta di wilayah ini belum memilih memberlakukan perkuliahan tatap muka terbatas pada semester ganjil 2021/2022.

Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Majelis Pengurus Daerah (ADI-MPD) Bekasi Raya Wawan Hermawansyah mengatakan, sekitar 70 persen dari total 54 perguruan tinggi swasta di wilayah Bekasi tetap memberlakukan perkuliahan secara daring.


Menurutnya, tenaga pengajar di perguruan tinggi saat ini sudah terbiasa mengajar secara jarak jauh. “Kuliah online ini sudah menjadi kebiasaan baru bagi sejumlah dosen. Makanya, belum banyak (perguruan tinggi) yang memilih kuliah tatap muka,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Kamis (7/10).

Wawan menyampaikan, perkuliahan tatap muka yang sudah dilaksanakan oleh sejumlah perguruan tinggi menerapkan metode hybrid learning atau secara daring maupun luring antara dosen dan mahasiswa dengan protokol kesehatan (prokes) ketat.


Dikatakan, infrastruktur yang memadai diperlukan agar perkuliahan dapat berlangsung dengan efektif. Hal ini harus disiapkan oleh perguruan tinggi yang belum memberlakukan hybrid learning.

“Dosennya sudah siap, tapi infrastruktur tidak memadai sama saja bohong,” ujarnya.

Lebih lanjut Wawan menyampaikan, banyak perguruan tinggi yang masih memantau percontohan dari pelaksanaan perkuliahan tatap muka yang sedang berjalan saat ini.

“Sistemnya sekarang liat dulu contohnya, apa dampaknya. Baru akan ditimbang-timbang lagi kesiapannya, sekarang masih banyak perguruan tinggi yang seperti itu, sehingga memutuskan untuk mempertahankan perkuliahan online,” katanya.

Sementara, Wakil Rektor 1 Universitas Bina Insani Kota Bekasi Shalahuddin mengaku, pihaknya rutin melakukan evaluasi perkuliahan tatap muka yang sudah berlangsung selama dua pekan ini.

“Kami lakukan evaluasi satu minggu sekali. Dari pelaksanaan evaluasi ada beberapa hal yang memang harus dilengkapi lagi,” katanya.

Menurut Shalahuddin, dalam perkuliahan tatap muka metode hybrid learning secara daring mahasiswa baru masih terkendala dengan kuota internet. Hal ini akan terus diperbaiki dan dioptimalkan.

Terkait infrastruktur maupun dosen yang mengajar, pihaknya memastikan tidak ada kendala apapun. Sebab, sebelum pandemi perkuliahan sering dilakukan secara digital.

“”Kalo untuk secara menyeluruh aman, karena dosen kami juga terbiasa dengan proses pembelajaran hybrid learning ini,” pungkasnya. (dew/oke)