Bekasi

Vaksinasi di Bojongmangu Masih Rendah

RADARBEKASI.ID, CIKARANG PUSAT – Tren kenaikan kasus Covid-19 dilaporkan mulai melonjak di sejumlah negara dan beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bekasi. Bahkan, beberapa pekan terakhir terjadi lonjakan kasus. Sementara capaian vaksinasi di kabupaten Bekasi tertinggi di Kecamatan Tambun Selatan, terendah di kecamatan Bojongmangu.

 

Saat ini, Kecamatan Tambun Selatan menjadi wilayah tertinggi kasus aktif di Kabupaten Bekasi, yakni sebanyak 18. Dari data yang ada, vaksinasi di Tambun Selatan dosis pertama 96.684, sementara dosis kedua sebanyak 125.594, (lihat grafis).

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Masrikoh mengatakan jumlah penduduk yang padat menjadi alasan Kecamatan Tambun Selatan sebagai wilayah terbanyak kasus aktif di Kabupaten Bekasi. Dia mencontohkan, Jawa Barat jumlah penduduknya besar, kasus aktifnya juga tinggi pasti tinggi.

 

“Karena jumlah penduduknya padat. Segala sesuatu kalau jumlah penduduknya banyak, pasti akan banyak. Jadi perhitungannya dari jumlah penduduk. Tambun Selatan dari awal Covid-19 merebak di Kabupaten Bekasi memang tertinggi,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Selasa (30/11/2021).

 

Hal itu berbanding terbalik di Kecamatan Bojongmangu. Dimana wilayah tersebut menjadi kecamatan paling sedikit pencapaian vaksinasi di Kabupaten Bekasi. Dari data yang ada, tingkat vaksinasi dosis pertama sebanyak 10.819, dan dosis kedua 9.886. Kemudian, untuk kasus aktif Covid-19 nol, tidak ada sama sekali.

 

Menurut perempuan yang akrab disapa Ikoh ini, penyebab Kecamatan Bojongmangu menjadi wilayah tingkat vaksinasi terendah disebabkan beberapa faktor, salah satunya jumlah penduduk yang sedikit, kemudian banyak yang comorbid, lansia. Termasuk pendidikan masyarakatnya juga rendah.”Masih aga susah untuk dilakukan vaksinasi, mungkin bertahap kita tetap mengedukasi ke masyarakat untuk kita bekerjasama,” katanya.

 

Sebelum Bojongmangu, Kecamatan Muaragembong juga sama, tingkat vaksinasinya rendah. Tetapi secara perlahan masyarakatnya bisa diedukasi, walaupun dengan menggunakan bingkisan maupun lainnya. Sebagian besar warga lanjut usia enggan divaksin.

 

Namun demikian, Ikoh menegaskan cakupan vaksinasi di setiap wilayah berbeda-beda, tergantung jumlah penduduknya, tapi memang semua sudah diatas 50 persen. Mulai dari 60 sampai 70 persen di masing-masing wilayahnya.”Cakupan vaksinasi di masing-masing wilayah sudah diatas 50 persen,” ucapnya.

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku, total 19 kabupaten/kota mengalami kenaikan kasus dengan lama waktu yang berbeda-beda. Menurutnya, kenaikan ini salah satunya dipicu menurunnya kemampuan testing dan tracing terhadap kontak erat kasus terkonfirmasi serta berkurangnya kesadaran masyarakat menerapkan prokes 5M.

 

”Kita juga memperhatikan mengenai kota-kota tersebut apa yang harus diperbaiki, yaitu tracing dan testingnya. Testing harus dilakukan terhadap orang-orang kontak erat hasil dari tracing. Kami melihat kota-kota yang ada kenaikan, disiplin untuk tracing dan testingnya sangat rendah,” terang Budi.

 

Merespons hal ini, Budi meminta kepala daerah agar memperkuat 3T (Testing, Tracing dan Treatment), menegakkan protokol kesehatan 5M dan menggenjot cakupan vaksinasi terutama pada kelompok-kelompok yang rentan terpapar Covid-19.

 

Terkait dengan vaksinasi, per 26 November 2021 pemerintah telah menyuntikkan 231,8 juta dosis vaksin Covid-19 dengan rincian 137,5 juta orang menerima dosis pertama, 93,1 juta orang telah mendapatkan dosis kedua, dan 1,2 juta tenaga kesehatan sudah menerima vaksin dosis ketiga (booster).

 

Dalam tiga minggu terakhir, laju vaksinasi mengalami penurunan. Hal ini salah satunya disebabkan adanya ketakutan masyarakat menggunakan vaksin yang tersedia terutama vaksin dengan platform mRNA.

 

Oleh karena itu, Budi meminta masyarakat untuk segera vaksinasi Covis-19. Dia menghimbau masyarakat tidak perlu ragu dengan vaksin yang ada.”Tidak usah khawatir vaksin ini terbukti aman, jangan sampai apa yang terjadi di Eropa terjadi di Indonesia,” pungkasnya.

 

Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah meminta agar vaksinasi dipercepat. Menurutnya, jika herd immunity terbentuk, mobilitas terjaga dan tidak ada varian baru, maka kasus akan terus melandai. Lalu, jika herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi dan kepatuhan protokol kesehatan cukup baik, hasilnya akan ada peningkatan jumlah kasus.

 

Kemudian, skenario apabila herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi dan kepatuhan protokol kesehatan rendah, ada potensi kenaikan sampai 260 ribu kasus. Lebih parahnya adalah herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, kepatuhan protokol kesehatan rendah, serta ada varian baru, diperkirakan kasus di Indonesia akan meningkat sebesar 408 ribu kasus.

 

“Skenario lain dengan adanya peningkatan infektivitas virus, cakupan vaksinasi yang rendah, mobilitas yang tinggi dan kepatuhan prokes rendah, maka jumlah kasus aktif dapat meningkat mencapai 260 ribu sampai 408 ribu kasus,” ujarnya.

 

Untuk itu, menurutnya yang harus dipercepat agar menghindari prediksi tersebut adalah percepatan vaksinasi, lalu juga mobilitas yang terkendali. Begitu juga untuk kepatuhan terhadap prokes di lapangan berjalan dengan baik.

 

“Apapun varian baru seperti Omicron, itu kan tergantung pencegahan dari kita, sejauh mana kita meningkatkan 3M itu paling penting, di luar 3T yang diperbanyak. Sebelum masuk booster, dua dosis penuh juga harus cepat,” tandas dia.(pra/jpg)

Related Articles

Error, no group ID set! Check your syntax!
Back to top button