Pengamat : Kendalikan Infalsi

Andi Muhammad Sadli

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sementara itu terpisah, Pengamat Ekonomi STIE Mulia Pratama, Andi Muhammad Sadli secara teoritis menilai bahwa kenaikan suku bunga adalah dampak dari pergerakan ekonomi global. Disamping itu, ada respon pasca pandemi, dimana permintaan mulai naik.

Satu sisi, inflasi harus dikendalikan agar tidak melebihi ambang batas. Sementara di sisi lain, perkembangan ekonomi berupa tingginya permintaan atau transaksi ekonomi harus tetap dijaga. Meningkatnya jumlah uang yang beredar akan berdampak pada inflasi, karena ada kecenderungan permintaan yang meningkat pada komoditas.


Pernyataan Menteri Keuangan kata Andi adalah sisi lain dari gejala ekonomi dewasa ini, kenaikan harga akibat inflasi ini juga terjadi pada komoditas lain seperti pangan. Dibenarkan bahwa peningkatan suku bunga akan berdampak pada turunnya minat masyarakat untuk membeli rumah, bahkan sebagiannya sulit untuk dapat membeli rumah.

“Kenapa, mungkin rata-rata kita itu kan diatas 70 persen kepemilikan rumah itu berdasarkan kredit ya. Sekarang saja, suku bunga itu kan sudah terlalu tinggi dalam kepemilikan rumah,” katanya.


Bank central atau Bank Indonesia (BI) bisa menjalankan beberapa alternatif yang bisa dilakukan, dengan instrumen yang dimiliki, misalnya Operasi Pasar Terbuka (OPT), menaikkan giro wajib minimum, dan instrumen lain hingga menaikan suku bunga.

Kehati-hatian dalam kebijakan menaikkan suku bunga ini berpotensi memperlambat perekonomian. Disebabkan oleh menipisnya uang yang beredar di masyarakat.

Pesan Sri Mulyani, Kata Andi, memberikan sinyak agar BI tidak tergesa-gesa menaikkan suku bunga. Karena naik sekalipun, sebagian orang akan tetap membeli rumah sebagai suatu kebutuhan.

“Jadi menurut saya, BI akan bergerak di dua sisi itu, satu sisi dia harus menjaga stabilitas harga atau inflasi yang tetap terjaga dalam batas yang ditentukan. Kalau kita menaikkan suku bunga itu berarti menekan pertumbuhan ekonomi,” tambahnya. (Sur)