Tiga Keadaan yang Perlu Diwaspadai

Achmad Muwafi, Lc Pengurus Pusat IKADI Bidang Dakwah Kepala SMPIT Baitul Halim Bekasi

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Abu Hatim ra. menuturkan, “Waspadailah dirimu pada tiga tempat (keadaan) yaitu apabila engkau melakukan sesuatu, maka ingatlah adanya pandangan Allah swt yang selalu tertuju kepadamu, apabila engkau berbicara, maka ingatlah adanya pendengaran Allah swt yang pasti mendengar apa yang engkau bicarakan, dan apabila engkau diam, maka ingatlah adanya pengetahuan Allah swt tentang apa tersimpan dalam lubuk hatimu.”
Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang menerangkan bahwa Allah swt Maha Melihat, di antaranya firman Allah swt, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Bertakwalah kalian kepada Allah swt dalam semua keadaan, dan tiada sesauatu pun yang samar bagi Allah swt dari setiap perbuatan dan semua ucapan kalian.”
Dikisahkan, ada seorang guru yang meminta kepada tiga muridnya untuk menyembelih tiga ekor ayam di tempat yang berbeda-beda yang yang tidak terlihat oleh siapapun. Ketiga muridnya pun membawa ayam mereka masing-masing ke tempat yang mereka anggap tidak ada yang melihat.
Murid pertama pergi ke puncak gunung, ketika tidak ada satupun yang melihatnya, maka ia segera menyembelih ayam tersebut. Setelah selesai, ia segera kembali untuk menghadap gurunya.
Murid kedua pergi ke gua. Setelah tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka ia segera menyembelih ayamnya, kemudian ia kembali menghadapa gurunya.
Sementara itu, murid yang ketiga masih belum berhasil menyembelih ayamnya. Ia tampak kebingungan untuk mencari tempat yang dimaksudkan oleh gurunya. Akhirnya ia kembali menghadap gurunya dengan membawa kembali ayam yang belum disembelih.
Sang guru bertanya kepadanya, “Wahai muridku, apakah kamu sudah dapat melaksanakan tugasmu?” Si murid menjawab, “maaf guru, saya tidak mampu melaksanakan tugas yang engkau perintahkan.” Sang guru bertanya lagi ”Mengapa kamu tidak dapat melaksanakannya?” Ia menjawab, “Saya tidak dapat menyembelih ayam di tempat yang tidak terlihat oleh siapapun, karena di dunia ini tidak ada tempat yang tidak dalam pengawasan Allah swt, di tempat mana pun di muka bumi ini, selalu dilihat dan diawasi oleh Allah swt.
Ketika Umar bin Khatab ra. menjadi seorang khalifah, setiap malam beliau selalu berkeliling untuk mengetahaui suasana dan kondisi rakyatnya, suatu ketika di malam yang gelap dan sepi, Umar bin Khatab ra. mendengar percakapapn seorang wanita penjual susu kepada anak perempuannya. “Anakku, coba kamu campurkan susu itu dengan air!”. Anaknya menjawab, “Amirul Mukminum Umar bin Khatab ra. telah melarang mencampur susu dengan air.”
Ibunya berkata, “Sudahlah anakku, campurkan saja susu itu dengan air!, kamu berada di tempat ayang aman, Khalifah Umar bin Khatab ra. tidak akan tahu apa yang kamu lakukan, dan tidak akan ada yang melaporkan itu kepada Umar bin Khatab.”
Mendengar perkataan ibunya, anak perempuan itu menjawab, “Ibu, walaupun Khalifah Umar bin Khatab ra. tidak mengetahuinya, tapi demi Allah saya akan sangat menghormati dan patuh kepada Umar bin Khatab ra, baik di hadapan orang banyak maupun di belakangnya.”
Karena kemuliaan akhlak yang dimiliki oleh wanita penjual susu tersebut, maka Khlaifah Umar bin Khatab ra. menikahkan putranya Ashim dengannya dan dari pernikahan mereka, Allah swt mengaugerahkan keturunan yang shalih.