Bantu Usaha Uwa Haji Bentik Terkenal, Mahasiswa KKN Unisma Buatkan Logo

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Usianya tak lagi muda, namun semangat mempertahankan jajanan tradisional terus membara. Ya, Uwa Haji Bentik biasa warga menyapa. Sejak 35 tahun lalu dia mengembangkan usaha kuliner tradisional khas betawi.

Di kediamannya yang beralamat di RT 05 RW 01 Kelurahan Mustikasari Kecamatan Mustikajaya ini, setiap harinya wanita berusia 65 tahun ini memproduksi beragam jenis jajanan tradisional khas betawi.


Kulit tangan yang sudah mengeriput, terlihat lincah mengolah adonan. Ratusan tape uli dan jajanan khas Betawi lainnya mampu ia garap, karena usaha tersebut merupakan sumber ekonominya untuk menyambung hidup. Dari sekian jajanan khas Betawi yang ia buat, ada yang paling terkenal yaitu tape uli. Dibuat dari bahan utama beras ketan yang berkualitas, jajanan ini paling diburu pelanggannya.

“Usia Uwa mah udah 65 Tahun, kadang kalo lagi ada pesanan banyak, bisa sampai 20 Liter beras ketan buat uli, rengginang, lepet juga. Kalo beras ketannya mah kita pake yang Rp15 ribu per liter yang bagus, biar yang beli pada enak gitu makannya, buat daun pisangnya juga yang bagus neng belinya jauh dari sini,” ujar Uwa Haji .


Proses Produksi cemilan khas betawi ini dibuat secara totalitas dari segi proses produksi dan bahan baku yang sangat diperhatikan dan dipastikan harus bagus. Jika, rengginang tidak setiap hari produksi karena membutuhkan waktu dua hari untuk proses penjemuran. Makanan tape uli pun memerlukan proses dua hari untuk proses fermentasi dan untuk kue lepet hanya dibuat setahun sekali atau 3 bulan sekali sebab daun sebagai bahan baku makanan ini sulit dicari.

Tidak Hanya tape uli yang ia produksi, berbagai jenis makanan khas Betawi lainnya ia buat. Jajanan Khas Betawi yang dibuat seperti kue lepet, akar kelapa dan asinan. Penjualannya dilakukan secara tradisional, dari mulut ke mulut.

Meskipun rasa jajanannya tak diragukan lagu, Namun pemasaran kurang meroket, sebab belum adanya logo atau merek sebagai identitas produk. Sehingga makanan yang ia buat hanya diketahui oleh orang- orang terdekat saja.
Selain itu, dengan tidak adanya identitas berupa logo atau stiker yang tertempel pada produk menyebabkan ada individu yang menggunakan foto asli pemilik produksi makanan khas betawi untuk bisnisnya, namun tidak membeli produk di rumah produksi asli.

“Ngga tape uli doang si ini mah kadang lepet, rengginang akar kelapa banyak neng pokonya yang makanan betawi dah. Tapi ini mah belum ada logo – logo gitu jadi pernah foto mpok di colong tapi dia ga beli di mpok, terus ada pembeli yang bilang ke mpo,” ujar mpo Dewi

Usaha Mikro Kecil menengah (UMKM) jajanan khas betawi ini mempunyai potensi untuk berkembang dan maju. Melihat kondisi tersebut, salah satu mahasiswa KKN Unisma Bekasi membuatkan dan memberikan logo dan stiker pada setiap makanan yang dibuat yakni rengginang, akar kelapa, tape uli, dan kue lepet. Logo dan stiker memuat nama merek, nomor telepon, alamat dan bahan – bahan yang digunakan dalam membuat produk. Deskripsi yang ada pada produk membantu dalam proses branding produk guna membentuk brand awareness dalam benak masyarakat.

Desain dari logo dan Stiker Uwa Haji Bentik dibuat secara sederhana dan relevan dengan produk yang dijual supaya pendefinisian terhadap produk cemilan khas betawi ini sampai dengan mudah ke konsumen. Dominan bergambar padi berisi beras, yang artinya semua makanan yang dibuat berasal dari beras ketan.

Pelaksanaan program ini mendapat respon positif dari keluarga Uwa Haji Bentik sebagai pemilik usaha ini dan para buruh lepas yang bekerja dalam membuat jajanan khas Betawi ini. Uwa Haji Bentik yang akrab disapa uwa ini merasa bersyukur dan senang mendapat bantuan dari Mahasiswa KKN karena telah memberikan logo dan stiker. Harapan dapat meningkatkan penjualan dan dapat dikenal secara luas makanan yang dibuat olehnya. (mif/aisyah)