Warga Sekitar Daerah Aliran Sungai Kabupaten Bekasi Diimbau Waspada Bencana

RUMAH PENDUDUK: Sejumlah rumah penduduk berada di Daerah Aliran Sungai (DAS), bantaran Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL), Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Selasa (11/10). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Memasuki musim penghujan dengan intensitas tinggi, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, khususnya yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Sebab, sungai di Kabupaten Bekasi memiliki karakteristik tersendiri, dan terdapat siklus lima hingga sepuluh tahunan. Kondisi ini yang harus diantisipasi dengan kesiapsiagaan.


“Tidak ada istilah bebas banjir di DAS, dikarenakan karakteristik sungai, dan hujan memiliki siklus tahunan, lima tahun, sepuluh tahun, selain itu manajemen sungai di Kabupaten Bekasi masih lemah, serta ada fenomena climate changes,” kata Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan.

Menurut dia, tingginya potensi banjir di DAS, tidak lepas dari Kabupaten Bekasi yang berada pada wilayah hilir Citarum. Hingga kini, program revitalisasi sungai terpanjang di Jawa Barat ini, yakni Citarum Harum, belum sampai ke wilayah hilir. Sehingga potensi banjir masih tetap tinggi.


Sebagaimana diketahui, banjir terbesar akibat luapan Citarum pun sempat terjadi di Kecamatan Pebayuran pada awal 2021 lalu. Ketika itu, puluhan ribu Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi karena rumah mereka hancur diterjang derasnya aliran Sungai Citarum.

Berdasarkan catatan BBWS Citarum pada 2021, terdapat 55 titik tanggul kritis pada DAS Citarum. Sebanyak 49 titik diantaranya, berada di Kabupaten Bekasi.

“Titik kritis ini sudah kami upayakan agar segera diperbaiki,” terang Dani.

Disamping kesiapsiagaan, dirinya juga mengimbau masyarakat dan komunitas, turut mengantisipasi bencana. Masyarakat diminta menjaga saluran air dan membersihkan sampah yang menumpuk di saluran pembuangan.

“Yang paling penting, masyarakat mau menjaga saluran air, sumur resapan di rumah masing-masing. Langkah berikutnya harus memahami upaya apa yang dilakukan sebelum dan sesudah bencana, agar tidak menimbulkan korban jiwa,” imbuhnya.

Kata Dani, sebelumnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi telah melakukan berbagai upaya pencegahan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, diantaranya dengan melakukan mitigasi bencana secara struktural dan nonstruktural, aktivasi posko siaga darurat, serta kesiapsiagaan personel.

“Pokoknya, saat menghadapi bencana, harus memberikan perlindungan kepada masyarakat. Ini penting diantisipasi, karena Kabupaten Bekasi termasuk daerah dengan indeks risiko bencana sedang tinggi,” bebernya.

Menurut Dani, dalam beberapa tahun terakhir, banjir menjadi bencana yang kerap terjadi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bekasi. Salah satu banjir terparah berada di wilayah utara sepanjang DAS. Meskipun telah dilakukan mitigasi, namun tidak ada DAS yang bisa dinyatakan bebas banjir.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis mengungkapkan, pihaknya telah menerjunkan seluruh personel untuk mengantisipasi bencana di setiap titik rawan. Penyiapan personel dilakukan lantaran curah hujan dalam beberapa pekan terakhir terus meningkat.

“Selain personel, juga mulai ada pendirian posko dan dapur umum, pengiriman perahu karet, karung plastik, pemberian bantuan logistik, dan rehabilitasi tanggul yang rusak. Berbagai penanganan akan kami sinergikan bersama TNI/Polri, mulai dari evakuasi penyelamatan, hingga memperbaiki tanggul yang rusak,” terang Muchlis.

Pihaknya pun telah melakukan patroli ke sejumlah titik rawan, seperti sungai, tebing, tanggul dan saluran air lainnya.

“Jalur-jalur evakuasi telah disiapkan, termasuk tempat pengungsian serta pemasangan rambu evakuasi sebagai tanda bahaya di desa rawan bencana. Ini merupakan salah satu upaya kami dalam mengantisipasi bencana,” pungkasnya. (and)