Puspa, Muda Berwajah Tua

Puspa Sari

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setiap orang pasti akan menua seiring bertambahnya usia. Tetapi jika proses penuaan itu terjadi terlalu cepat dan aneh, siapapun pasti akan merasa panik. Seperti yang dialami wanita bernama Puspa Sari ini. Bagi yang pertama kali bertemu dengannya, pasti akan mengira Puspa adalah seorang wanita tua dengan usia diatas 60 tahun. Namun nyatanya, dia masih berusia 28 tahun.

Ya,wanita yang saat ini tinggal di Cibitung Kabupaten Bekasi ini, merupakan sosok yang menyedot perhatian pengguna media sosial belakangan ini, karena fisiknya yang kerap dikira seorang nenek.


Radar Bekasi berkesempatan untuk bertemu dan berbincang langsung dengan Puspa. Ya, semua nampak seperti apa yang dibicarakan warganet di media sosial, kulit wajahnya tampak kendur, berkeriput, begitu pula pada kulit bagian tubuh lainnya.

Puspa mengaku elastisitas kulit bagian tubuhnya yang lain tidak seperti perempuan seusianya. Tapi tidak dengan kondisi fisik yang lain, ia tidak nampak seperti manusia yang telah memasuki usia senja pada saat berdiri, berbicara, mendengar, ataupun berjalan, selayaknya perempuan berusia 28 tahun.


Puspa bercerita, semua bermula pada saat ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD), saat itu usianya 10 tahun. Wanita asal Kabupaten Pasaman Barat ini mengaku sempat merasakan reaksi kulit yang dikenal dengan Biduran.

Seiring waktu, perubahan secara fisik terjadi pada kulit telinganya, elastisitas kulit telinga Puspa berkurang, mulai mengendur. Melihat ada perubahan pada tekstur kulit Puspa, keluarga membawanya untuk mendapat pemeriksaan medis oleh dokter.

Kesimpulan awal, Puspa tidak hanya mengalami alergi sehingga menimbulkan reaksi pada kulit yang semual disimpulkan Biduran. Tapi, ada informasi lain yang didapat hasil pemeriksaan medis, Puspa disebut mengidap penyakit yang sangat langka.

“(Perubahan tekstur kulit) yang pertama itu di telinga saya. Jadi setelah diperiksakan ke pakarnya, oh kamu ini kelainan sindrom, bukan cuma alergi biasa,” kata Puspa seraya mengingat awal terjadi perubahan fisik pada dirinya.

Pemeriksaan pertama, hasil pemeriksaan dokter belum memastikan sindrom apa yang menjangkit Puspa. Kulit telinga mulai kendur, mulai terlihat seperti nenek-nenek, itu yang disampaikan oleh teman-teman SDnya dulu.

Waktu terus berjalan, hingga Puspa naik ke tingkat pendidikan selanjutnya, sampai akhirnya menyelesaikan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan lingkungan sekolah yang ia sebut relatif nyaman, tidak ada kekerasan dalam bentuk verbal maupun non verbal yang ia rasakan selama menempuh pendidikan wajib 12 tahun.

Tamat SMA, perlahan lapisan kulit di seluruh badan Puspa menyerupai kondisi yang awalnya hanya di telinga, perubahan tekstur kulit terjadi sangat cepat di area telinga, wajah, dan leher. Puspa kembali menjalani pemeriksaan medis, hingga ia disarankan untuk berobat ke luar negeri.

“Karena memang penyebabnya penyakit langka yang aku alami ini katanya belum diketahui sampai sekarang,” ungkapnya.

Setelah lulus SMA tahun 2014, Puspa tinggal di Malaysia selama tujuh tahun, di sana ia bekerja sebagai juru masak restoran, juga menjalani pengobatan. Ia bertolak ke Malaysia tidak lama setelah tamat SMA, bersama dengan sanak family yang merantau di negeri Jiran.

“Karena kan aku ada rujukan juga kan ke luar negeri untuk berobat, aku dibawa kesana berobat. Kurang lebih 7 tahun,” tambah wanita kelahiran 20 Juli 1994 itu.

Selama menjalani pengobatan di Malaysia, ia mendapatkan kesimpulan bahwa ia mengidap penyakit genetik langka, Progeria. Hanya saja belum sampai pada kesimpulan berikutnya, belum diketahui apa jenis sindrom Progeria yang diderita, sampai saat ini belum dapat dipastikan jenis sindrom yang ia derita selama 19 tahun belakangan.

Tahun 2021, Puspa kembali ke Indonesia, kemudian ia tinggal dengan kakaknya di Cibitung, Kabupaten Bekasi sejak bulan Februari 2022. Meskipun kasat mata kondisi fisiknya seperti nenek-nenek, tapi kondisi kesehatan Puspa tidak sama sekali bermasalah, ia merasa selama ini dalam kondisi bugar.

“Alhamdulillah untuk sakit itu jarang banget,” tukasnya.

Anak ke empat dari enam bersaudara ini memastikan, bahwa apa yang ia alami saat ini bukan faktor keturunan. Karena, hanya dia yang mengalami kondisi seperti ini di lingkungan keluarganya.

Sementara itu, adik sepupunya, Syldia (24) menilai Puspa merupakan sosok pekerja keras dan penuh percaya diri.”Kalau pandangan saya, Kak Puspa pekerja keras dan sangat percaya diri, walaupun kondisinya berbeda dengan keluarganya,” ungkapnya.

Selama ini, ia dan keluarga besar lainnya selalu mendukung Puspa. Doa yang terbaik tidak pernah luput untuk Puspa, meskipun tidak bisa sepenuhnya membantu dari sisi ekonomi, keluarga tetap mengerahkan segenap kemampuan terbaik untuk Puspa.

“Tidak sama sekali (pernah mendengar Puspa mengeluh), dia wanita yang kuat, mandiri, pekerja keras, dan yang paling penting dia orang yang percaya diri,” tambahnya.

Sekedar diketahui, Progeria adalah penyakit bawaan langka yang menyebabkan anak mengalami penuaan dini sejak 2 tahun pertama kehidupannya. Namun ada sejumlah kasus proses penuaan dini diatas dua tahun. Anak yang menderita progeria biasanya mengalami kebotakan, memiliki kulit yang keriput, dan tubuhnya berukuran lebih kecil daripada anak seusianya.

Progeria merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi dan merupakan penyakit langka didunia. Di seluruh dunia, hanya 1 dari 4 juta bayi yang dilahirkan dengan kondisi ini. Progeria disebabkan oleh kelainan genetik yang membuat penderitanya mengalami penuaan dini dengan kondisi fisik penderita seperti mengalami lompatan usia hingga 8 kali orang normal.(Sur)