Masnah Menjadi Pelita bagi Anak Sekitar TPA Sampah Bantargebang

Masnah

RADARBEKASI.ID, BEKASI  – Taman Baca Umum Al-Ikhlas yang berada di kecamatan Bantargebang, menjadi rumah baru bagi ratusan anak-anak yang setiap harinya beraktivitas di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Bantargebang.

Dengan segala keterbatasan yang ada, ratusan  anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu tersebut terlihat semangat mengais ilmu. Mereka percaya, dengan belajar yang tekun akan mampu merubah nasibnya di masa mendatang. Keterbatasan ekonomi anak-anak pemulung tersebut, menyulut semangat Masnah mendirikan Taman Baca Umum Al-Ikhlas. Gadis berjilbab ini setiap harinya dengan sabar mengajarkan anak-anak membaca, menulis dan berhitung.


“Dari apa yang saya rasakan dulu saya bertekad suatu saat nanti, bisa membantu anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Saya ingin menjadi sebuah jembatan bagi anak-anak disini untuk bisa bersekolah,” kata gadis asal Karawang ini.

Sejak 2011 Masnah mulai mengajar beberapa anak di wilayah bantargebang, dengan dasar pembelajaran membaca dan menghitung.   “Jadi saat sekolah SMP pulang sekolah itu saya mulai ngajarin anak-anak untuk baca dan menulis, sampai lulus SMK kegiatan itu masih saya lakukan,” tuturnya.


Namun saat itu masyarakat di wilayah Bantargebang membutuhkan roll model yang cukup, sehingga pada 2013 dirinya mulai mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi.

BELAJAR: Sejumlah anak-anak belajar di Taman Baca Umum Al-Ikhlas. ISTIMEWA

 

“Saat itu beberapa masyarakat masih menutup mata bahwa pendidikan menjadi hal nomer sekian, yang penting bisa makan sudah aman. Jadi mereka itu butuh roll model dan saya bertekad untuk menjadi role model atau contoh bahwa pendidikan itu adalah hal nomor satu yang harus diperjuangkan,” jelasnya.

Sementara atas niat yang cukup tinggi dirinya berhasil mendapatkan beasiswa dari salah satu universitas, dengan program studi yang saat itu sangat awam bagi dirinya, namun dengan rasa percaya diri dirinya yakin bisa menjalani pendidikan tersebut.

“Waktu itu saya dapat beasiswa di jurusan Psikologi, walaupun basic saya gak disitu. Tapi saya berusaha dengan niat membangun masa depan anak-anak di wilayah Bantargebang saya bertekad untuk menjalani itu,” terangnya

Tidak melepas tanggung jawabnya begitu saja, selama proses skripsi dirinya memutuskan untuk terus mengajar anak-anak di wilayah Bantargebang. Dari yang hanya memiliki 5 anak dirinya berhasil mengajak 30 anak lainnya untuk belajar saat itu.

“Jadi saat proses skripsi saya memutuskan untuk terjun mengajar lagi, dari awal cuma 5 siswa, alhamdulillah bertambah jadi 30 siswa karena tingkat kepercayaan masyarakat yang sudah mulai terbangun,” ucapnya.

Dengan bermodalkan rumah berukuran 6 x 6 meter dirinya membuka sekolah membaca dan menghitung, kepada sejumlah anak-anak di wilayah Bantargebang saat itu.

“Jadi waktu tempat tidur saya buat tempat belajar, yang penting ada tempat dan ada waktu. Tapi semua itu juga gak mudah dijalankan karena orang tua memilih anak untuk memulung, saat itu saya tidak tinggal diam saya hampiri orang tuanya dan saya berikan pemahaman agar mereka mengizinkan anaknya untuk belajar,” tuturnya.

Berkat kerja kerasnya selama ini mendesain masyarakat di wilayah Bantargebang, dikit demi sedikit bisa berubah dan mengizinkan anaknya untuk bersekolah.

“Sekarang kami punya 200 siswa dengan jumlah guru tambahan 4 orang, Alhamdulillah saya sangat bersyukur atas apa yang sudah berubah saat ini. Dari pertama yang saya lihat bahwa wilayah Bantargebang ini memiliki tingkat kepedulian pendidikan yang nol sekali, sekarang ini sudah mulai membaik,” pungkasnya. (dew)