BEKACITIZENOpini

Lestarikan Tanjidor agar Budaya Lokal Tidak Luntur

Oleh: Nurul Yaqin, S.Pd.I

Radarbekasi.id – Kabupaten Bekasi tidak melulu soal infrastruktur dan pesatnya pertumbuhan ekonomi. Tidak juga sekadar perusahaan yang mengalami penetrasi yang seolah tak terhenti. Bukan pula hanya tentang gedung-gedung pencakar langit yang kian hari semakin meninggi. Ada sisi lain yang notabene adalah ”jati diri” kabupaten Bekasi itu sendiri, yaitu budaya lokal yang merupakan muasal dari pencapain segala prestasi kabupaten Bekasi di hari ini.

Budaya lokal adalah cerminan falsafah suatu daerah. Melupakannya sama halnya dengan seorang anak yang melupakan ibunya, durhaka. Air susu dibalas dengan air tuba. Bahkan, Marcus Garvey (Jurnalis dan Orator dari Jamaika) menegaskan ”People without the knowledge of their past history, origin, and culture is like a tree without roots” -Orang tanpa pengetahuan tentang sejarah masa lalu, asal-usul, dan budaya seperti halnya pohon tanpa akar-. Jadi, kebudayaan adalah kekayaan yang mutlak dilestarikan.

Setiap daerah memiliki budaya lokal sebagai tali estafet dari kehidupan sebelumnya, begitupun dengan kabupaten Bekasi. Meskipun dikenal dengan kota industri bukan lantas tak memiliki budaya lokal, justru terdapat berbagai macam kebudayaan yang merupakan ciri khas dari daerah tersebut.

Budaya lokal di Kabupaten Bekasi dipengaruhi oleh letak geografis, berdampingan dengan ibu kota Jakarta (Betawi) dan Karawang (Sunda). Sehingga kultur daerah kabupaten Bekasi tak lepas dari budaya Betawi dan Sunda. Dan salah satu budaya lokal kabupaten Bekasi yang menarik dikaji adalah Tanjidor. Bedanya dengan daerah lain, Tanjidor di Kabupaten Bekasi mengandung unsur Parahyangan atau Sunda Karawitan.

Tanjidor merupakan kesenian yang bersifat hiburan sejenis orkes rakyat Betawi yang menggunakan alat-alat musik barat, terutama alat tiup. Nama Tanjidor diperkirakan berasal dari bahasa Portugis ”tanger” (bermain musik) dan ”tangedor” (bermain musik di luar ruangan), akan tetapi dengan logat Betawi disebut Tanjidor. Lagu-lagu yang dibawakan Tanjidor adalah Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was tak-tak, Cekranegara, dan Welmes. Perkembangan selanjutnya juga membawakan lagu-lagu sunda seperti Kang Haji, Oncom Lele, dan sebagainya (Parani, 1980:126)

Kesenian Tanjidor mecapai puncak kejayaan sekitar tahun 70-an. Di era ini Tanjidor adalah satu kesenian yang banyak diminati. Kesenian ini selalu ditampilkan di berbagai hajatan seperti pernikahan, khitanan, perayaan hari kemerdekaan, dan bahkan penyambutan para tamu undangan pejabat-pejabat di kantor pemerintahan. Pada periode ini ”dapat” memainkan seni Tanjidor adalah sebuah kebanggaan.

Namun, memasuki tahun 90-an Tanjidor mulai jarang dipentaskan. Peminat kesenian ini semakin berkurang. Istilah Tanjidor seakan tak ada ruang di hati masyarakat Kabupaten Bekasi. Kesenian yang dulu dibangga-banggakan perlahan mengalami kepudaran. Mengapa demikian?

Terenggutnya Minat Kaum Muda
Modernisasi dan globalisasi menjadi tantangan terbesar keberadaan budaya lokal di kabupaten Bekasi. Keduanya telah merenggut hati kaum muda untuk lebih mencintai budayanya sendiri. Dunia internet yang merupakan tuah dari modernisasi telah berhasil merampas minat generasi muda dengan sajian informasi tanpa batas. Mereka lebih tertarik dengan seni ala Barat dan Korea dibandingkan budaya lokal tanah kelahiran.

Tanjidor semakin ditinggal, sedangkan musik-musik barat semakin dihafal. Generasi muda yang menjadi tumpuan eksistensi budaya lokal telah terlena dengan budaya asing. Sedangkan peminat Tanjidor yang telah lanjut usia tak berdaya menghadapi tantangan di era dunia maya.

Berdasarkan survei sederhana yang dilakukan oleh penulis ke beberapa remaja di sekolah SMPIT Annur Cikarang Timur yang melibatkan 100 remaja, yang mengetahui kesenian Tanjidor hanya 3 orang. Sisanya 97 orang menjawab tidak mengetahuinya. Sebuah perbandingan angka yang cukup mengkhawatirkan. Sebuah fakta bahwa Tanjidor tak lagi menarik di hati kalangan muda.

Anehnya, di tengah gempuran dari berbagai sisi, generasi muda tak bergeming, seolah tak ada apa-apa. Tanjidor yang dulu agung kini tak berdengung. Dan mereka tak merasa kehilangan. Padahal Tanjidor adalah warisan nenek moyang yang harus dipertahankan. Apakah kita harus menunggu Tanjidor diklaim negara lain, lalu kita menantang dengan lantang ”Ini adalah budaya kita!” sebagaimana kasus wayang kulit yang diakui negara tetangga beberapat tahun silam.

Melestarikan
Oleh karena itu, sebelum terlambat, dan sebelum kesenian Tanjidor benar-benar punah di bumi kita berpijak, mari kita selamatkan. Kaum muda sebagai penyambung tali peradaban harus segera dibangunkan dari keterlenaannya. Mereka harus menjadi pelestari budaya daerah agar tidak tertelan zaman.

Melestartikan budaya lokal termasuk Tanjidor bukah hanya menjadi tanggung jawab komunitas yang bergelut dalam bidang tersebut. Akan tetapi, ini tanggung jawab bersama. Jadi, komunitas, sekolah, dan aparatur pemerintah harus bergandeng tangan mempertahankan kebudayaan lokal yang sudah ada sejak lama.

Komunitas atau kelompok Tanjidor harus berupaya agar generasi muda tertarik dengan kesenian ini. Pengenalan budaya pun jangan monoton sehingga generasi muda kurang berminat. Perlu inovasi dan terobosan baru dalam mengenalkan seni tersebut. Misalnya, mengenalkan Tanjidor dengan nuansa yang lebih dinamis dan sesuai dengan selera anak muda zaman now tanpa mengurangi orisinalitas dari seni tersebut. Kemudian memamerkannya di media sosial seperti facebook, instragram, dan media sosial lainnya.

Sekolah juga menjadi media paling efektif dalam melestarikan budaya lokal. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan kebudayaan lokal pada mata pelajaran. Sehingga kaum muda menjadi regenerasi yang dapat melestarikan eksistensi budaya Tanjidor dan budaya lokal lainnya.

Pemerintah pun memiliki andil yang sama dalam menjaga kebudayaan daerah. Untuk menjaga budaya lokal yang telah mendarah daging maka pemerintah dapat mengadakan festival budaya agar masyarakat lebih mengenal seni dan budaya daerahnya. Seperti pelaksanaan ”Festival Pameran Tunggal Kabupaten Bekasi” pada November 2019 ini yang mengangkat tema ”budaya lokal” dan ”seni budaya” pada lomba menulis essay dan pantun. Ini bisa menjadi langkah efektif untuk menarik hati masyarakat agar lebih mengenali dan mencintai seni dan budaya di daerahnya seperti Tanjidor dan lain-lain.

Akhirnya, di tengah zaman yang tak bersekat ini melestarikan budaya lokal harus benar-benar digalakkan. Karena budaya lokal adalah cerminan dari kearifan lokal. Jadi, semua elemen harus menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang ada di kabupaten Bekasi sehingga Tanjidor tidak luntur, dan budaya lainnya tetap lestari dan abadi. Semoga! (*)

Anggota KGPBR

Related Articles

Back to top button