BEKACITIZEN

COVID-19, Home Schooling dan Quantum Teaching

Oleh: Deden Bahtiar Rifai, S.Pd, M.Si

Pandemi COVID-19 atau lebih dikenal dengan virus corona telah menewaskan belasan ribu orang (12.944). 187 negara atau kawasan di seluruh dunia mengonfirmasi adanya pandemi Corona di negara mereka. Terhitung sejak virus tersebut mewabah bulan Desember 2019 di Wuhan, China.

China sendiri sudah terlebih dahulu melakukan lockdown. Semua pabrik, pusat perkantoran, mall, pertokoan dan sekolah ditutup guna mencegah meluasnya penyebaran virus corona. Penduduk di sana tidak diperbolehkan keluar rumah jika tidak ada kegiatan yang sangat penting, terkecuali membeli bahan makanan.

Indonesia juga tidak lepas dari serangan virus ganas ini. Corona menyebar ke Indonesia, justru setelah virus ini mereda di China. Butuh waktu tiga bulan China menaklukan Covid-19.

Indonesia baru mengumumkan warganya positif terpapar Corona pada awal Maret 2020. Presiden Joko Widodo sendiri yang langsung mengumumkannya di Istana Kepresidenan, 2 Maret lalu.

Hanya butuh waktu dua pekan setelah pengumuman itu, jumlah warga yang terpapar, baik berstatus positif, sembuh hingga yang meninggal dunia jumlahnya terus merangkak naik. Berdasarkan data BNPB atau Gugus Tugas Penanggulang Wabah Covid-19 di laman www.covid19.go.id per 24 Maret 2020, jumlahnya mencapai 579 kasus positif, 30 orang sembuh dan 49 meninggal dunia.

Upaya memutus rantai penyebaran wabah mematikan it uterus menerus disosialisasikan pemerintah. Diantaranya menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah dan kampus. Dan mendorong KBM dilakukan dari rumah sebagai gantinya. Kebijakan ini Kemendikbud ini berlaku sejak 15-30 Maret 2020.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menghimbau pelaku usaha dan perkantoran agar pegawainya bekerja dari rumah (work from home) dan mengkampanyekan jaga jarak atau social distancing yang bertujuan meminimalisasi penyebaran Covid-19 melalui kontak fisik.

Dalam kurun waktu tersebut di atas, siswa belajar secara mandiri tanpa adanya tatap muka dengan gurunya. Pembelajaran secara daring pun menjadi salah satu alternatif pembelajaran siswa di rumah.

Bagi sekolah-sekolah yang tidak siap dengan sistem pembelajaran daring, siswanya diberi tugas untuk membaca, menyimak dan mengerjakan soal yang ada di buku paket dan lembaran kerja siswa.

Model penugasannya pun bervariasi. Pembelajaran secara daring ataupun penugasan bagi siswa SMP dan SMA dapat dilakukan secara mandiri, tetapi teknis pembelajaran bagi siswa tingkat dasar sangat membutuhkan pendampingan dari orang tuanya.

Pembelajaran di rumah (home schooling) sebenarnya bukanlah hal baru. Kegiatan belajar siswa selama ini memang lebih banyak dilakukan di lingkungan sekolah. Sementara itu, kegiatan belajar di rumah bersama orang tua atau guru privat hanya dilakukan di sore atau malam hari dalam waktu yang singkat dan materi pelajaran tertentu.

Kegiatan pembelajaran ala home schooling menuntut peran serta aktif para orang tua atau orang di sekeliling peserta didik. Kegiatan pembelajaran dalam durasi yang relatif panjang dan berulang dalam waktu yang lama telah menuntut orang tua atau pendamping belajar menguasai metode pengajaran secara parktis. Karena pada prinsipnya seorang guru/pengajar yang ideal harus menguasai tiga kemampuan dasar, antara lain: materi pelajaran, mampu mengorganisir kelas, dan menguasai metode pengajaran.

Dalam beberapa hari terakhir, saya memperhatikan beberapa cuitan dan komentar di laman media sosial berkenaan dengan kegiatan pembelajaran di rumah. Tidak sedikit dari netizen yang mengeluhkan kesulitannya dalam mendampingi (mengajar) putra/putrinya belajar di rumah. Bahkan ada juga yang meluapkan emosinya dalam komentarnya itu.

Adalah hal wajar ketika para orang tua emosi dalam menghadapi tingkah laku anaknya dalam belajar. Mayoritas orang tua menginginkan anaknya mau mengikuti keinginannya, sementara anak lebih asyik dengan dunianya. Para ahli psikologi pendidikan mengisyaratkan agar orang dewasa atau pengajar dapat “memasuki dunia siswa”.

Bobbi DePotter dkk (2000) dalam konsep Quantum Teaching mengatakan “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Quantum Teaching merupakan hasil penelitian lembaga pendidikan Learning Forum California, USA.

Konsep ini memiliki prinsip-prinsip antara lain segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman, mengakui setiap usaha siswa, perayaan. Situasi, intrumen dan pengajar sendiri mengisyaratkan pesan belajar yang nyaman sehingga siswa merasa beada di dunianya dan dihargai sebagaimana layaknya manusia. Dalam konteks home schooling, ketika orang tua mendampingi anaknya belajar, maka ciptakan suasana ruangan dan komunikasi verbal yang nyaman, tetapi bukan berarti harus memanjakan anak saat belajar dan mengerjakan tugas pelajarannya.

Beberapa langkah strategis yang efektif dan efisien yang dapat rekomendasikan oleh Quantum Teaching dirangkum dalam kata TANDUR (DePotter, 2000: 39-40). Adalah sebuah akronim dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Kegiatan pembelajaran ini merupakan bagian dari konsep Student Active Learning (pembelajaran siswa aktif).

Tumbuhkan minat dengan memotivasi anak sadar dengan manfaat belajar dengan kesungguhan bagi dirinya, baik untuk tujuan temporer maupun jangka panjang. Misal dengan memasang poster bertuliskan ”Aku Mampu Mempelajarinya”

Alami. Berikan waktu kepada anak untuk mengalami baik dengan membaca, mendengar cerita atau dia pernah mengalaminya sendiri, sehingga materi pembelajaran yang dihadapinya menjadi suatu yang menyenangkan.

Namai. Pendamping belajar memberikan kunci kata ataupun rumus sebagai sebuah masukan untuk anak pembelajar sehingga dia dengan mudah memahami dan mengingat materi pelajaran. Setiap rumus dan tema pelajaran pasti mempunyai kata kunci khusus.

Demonstrasikan. Anak diberikan ruang untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Pada dasarnya setiap manusia memiliki rasa ingin diakui oleh orang lain. Apalagi usia anak-anak yang selalu menunjukkan kemampuan barunya kepada orang tuanya. Pengakuan terhadap kemampuannya akan menumbuhkan rasa percaya diri karena merasa keberadaannya diakui oleh orang lain. Hal ini penting untuk memberikan motivasi kepada dirinya.

Ulangi. Tunjukkan anak cara-cara mengulang materi dan menegaskan bahwa “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”. Langkah ini tepat dilakukan setelah anak menyelesaikan semua tugas belajarnya. Penguatan kembali (re-inforcement) merupakan cara jitu agar anak memiliki pemahaman dan hafalan yang kuat. Tetapi bukan berarti si anak harus membaca dan mengulang kembali mengerjakan tugas belajarnya.

Rayakan. Sering kita menyebutkan dengan selebrasi. Setiap keberhasilan dan kesuksesan belajar anak haruslah dirayakan. Bentuk perayaan dimaksud bukanlah menggelar pesta atau syukuran dan semacamnya, melainkan sebuah penghargaan atas keberhasilannya. Misalnya dengan memujinya, memberinya tepuk tangan, memberinya julukan “anak pintar” dan reward lain yang dapat memotivasi semangat belajarnya lebih giat dan mandiri. Semoga bermanfaat.

(Penulis Alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kini, Tinggal di Kota Bekasi)

Related Articles

Back to top button