Cikarang

Pengamat: Posisi Golkar Terancam di Pilkada 2022

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bekasi di 2022 mendatang, nampaknya akan mengancam posisi Partai Golongan Karya (Golkar). Seperti diketahui, raihan kursi partai berlambang beringin ini tidak cukup untuk mengusung calon sendiri (Bupati/B-1,Red).

Saat ini, ada tiga partai besar di Kabupaten Bekasi yang menduduki kursi legislatif, yakni Gerindra, PDI Perjuangan dan PKS, dan khans yang cukup besar. Hal itu dibuktikan dengan raihan kursi pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 lalu.

“Kalau melihat hasil raihan kursi di Pileg 2019 lalu, ada pergeseran politik di Kabupaten Bekasi yang sudah mengalami perubahan drastis. Terlebih, pada partai penguasa yang berada di posisi ke empat,” kata , Pengamat Politik, Adi Susila, Senin (1/6).

Secara histori, kemenangan Partai Golkar pada Pilkada 2018 sudah terlihat jauh-jauh hari sebelumnya. Saat itu (Pilkada 2018,Red) Partai Golkar sudah berada diposisi teratas. Untuk sekarang, Golkar ada di posisi tengah bersama dengan Nasdem, PAN, Demokrat dan PPP. Artinya, Partai Golkar seperti mengalami penurunan. Bahkan, yang terburuk lagi, bahwa Eka Supria Atmaja kemungkinan tidak bisa diusung menjadi B-1 lagi,” beber Adi.

Secara detail, Adi merinci raihan kursi terbesar saat ini di legislatif masih ada di Gerindra dengan 12 kursi, PDIP 10 kursi, lalu PKS 10 kursi dan barulah Partai Golkar, bersama dengan partai poros tengah lain-nya.

“Golkar sendiri, secara kusi sudah tidak cukup untuk mengusung atau mencalonkan bupati. Yang bisa mencalonkan sendiri adalah Partai Gerindra, PDIP dan PKS. Sedangkan partai lain, yakni PAN PPP dan Nasdem, termasuk Demokrat hampir sejajar dengan Golkar. Jadi agak jomblang, dan dominasi tiga partai,” beber Adi.

Meski begitu, Adi menambahkan, kemungkinan untuk Golkar medorong B-1 masih sangat memungkinkan. Secara poliik, bisa ada perubahan. Karena ada istilah koalisi, dan menggandeng partai besar lain.

“Kalau tetap mengusung sendiri, maka harus bergabung dan menggandeng partai tengah lain. Bisa Demokrat, Nasdem, PPP atau PAN. Jadi, kalau untuk B-1 tentunya perolehan suara yang tidak jauh di partai Golkar. Kalaupun mengusung menadi B-1, bisa jadi dengan partai di atas-nya juga. Tapi saya tidak tau nanti apa yang terjadi. Bisa dipengaruhi semua unsur juga. Salah satunya ada tekanan dari pusat ataupun modal, maaf,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai kader potensial, Adi menilai, untuk partai yang berada diurutan atas, sudah mulai terlihat. Misalnya, untuk Gerindra, ada Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Aria Dwi Nugraha, lalu mantan calon bupati 2018 yakni, Obon Tabroni.

Kemudian, untuk PKS masih dengan calon sebelum-nya, yaitu Sa’dudin dan Wakil Ketua DPRD, Muhamad Nuh.

Sementara untuk PDIP, kader lokal masih belum terlihat. Kemungkinan-nya, kata Adi, PDIP mengambil calon dari tingkat DPP yang sudah memiliki pengalaman. Salah satunya Rike Diah Pitaloka. Sedangkan di Golkar sendiri, bisa dipastikan petahana akan dimajukan kembali.

“Tapi, semuanya masih kompleks, dan bukan terlalu dini juga. Tapi yang namanya poltik, setiap hari bisa bergerak secara dinamis,” tandas Adi. (dan)

Related Articles

Back to top button