Berita UtamaPendidikan

Tak Perlu Buru-buru Laksanakan New Normal

Radarbekasi.id – New normal di pondok pesantren (ponpes) mesti dipertimbangkan secara matang sebelum diputuskan untuk diterapkan Pendapat itu disampaikan oleh Kepala Yayasan SMP Qur’an Ibnu Katsir Boarding School Bekasi Zait Abdurahman Afif.

“Saya rasa tidak perlu terburu-buru untuk melaksanakan new normal, karena jika keputusan diambil secara terburu-terburu maka khawatir hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Kamis (4/6).

Lebih lanjut dikatakannya, mesti ada jaminan penerapan new normal di pondok pesantren. Menurutnya, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan kebijakan tepat di masa pandemi Covid-19.

“Penerapan protokol kesehatan juga harus dipersiapkan dengan matang bagi sejumlah pondok pesantren. Jadi apabila santri sudah mulai aktif mereka akan terjamin dari penyebaran virus Covid-19 ini,” katanya.

Sementara, Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi Mulyono Hilman Hakim menjelaskan, ponpes di kota/kabupaten di Jawa Barat belum mendapatkan instruksi penerapan new normal.

“Kita belum mendapatkan instuksi dalam bentuk Surat Edaran (SE) dari pusat maupun provinsi untuk pelaksanaan new normal pondok pesantren di Kota Bekasi,” ujar Mulyono.

Menurut Mulyono, Kemenag masih mempertimbangkan pelaksanaan new normal di pondok pesantren. Pasalnya, santri di ponpes berasal dari berbagai daerah.

Khawatir, jika diterapkan justru membawa penyebaran virus ke lingkungan ponpes. Pasalnya, tak semua tempat tidur untuk para santri di ponpes dibatasi.

“Jadi, selain intruksi berupa SE kita juga masih menunggu penetapan protokol kesehatan untuk pondok pesantren,” jelasnya. Dikatakannya, hingga kini sebanyak 2.263 santri dari 50 ponpes di Kota Bekasi menjalani PJJ selama masa pandemi Covid-19.

Sekolah Negeri Buat Kajian
Sementara itu, SMP di Kabupaten Bekasi telah membuat kajian kegiatan belajar mengajar secara shift sebagai persiapan new normal. Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Bekasi Rija Sudrajat menyatakan, kajian penerapan belajar secara shift sudah dilakukan pada Rabu (3/6).

“Pembahasan sendiri merujuk pada rancangan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang dikeluarkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bekasi. Dan dari sekolah untuk merumuskan kembali. Sebelum nantinya ditetapkan pihak dinas,” tutur Rija.

Menurutnya, persiapan new normal telah di sosialisasikan ke sekolah-sekolah. Mulai dari terkait ruang kelas, kesehatan dan jadwal pembelajaran siswa.

“Dalam proses pembelajaran, nanti jumlah siswa di satu kelas akan di bagi dua. Agar ada physical distancing. Sisanya, belajar di rumah. Jadi yang belajar sebelumnya di kelas, minggu depannya belajar jarak jauh (BJJ) dengan sistem daring,” terangnya.

Lalu, kata dia, hasil kesepakatan semua guru juga bahwa selama masa pandemi Covid-19 tidak ada istirahat baik guru maupun siswa. Setiap siswa yang sudah masuk ke wilayah sekolah, tidak bisa keluar dan kantin wajib tutup.

“Makan di ruang kelas di tunggu guru. Begitupun guru, tidak diwajibkan berada di ruang guru. sampai selesainya jam sekolah,” katanya.

Kemudian, pada pembagian jadwal, yang tadinya 40 menit menjadi 30 menit. Pada proses masuk wilayah sekolah juga ada penyemprotan disinfektan bagi seluruh warga sekolah.

“Ini semua untuk memaksimalkamn protokoler kesehatan. Ini akan di terapkan untuk SMP dan SD. Kajian ini, hasil rumusan yang nanti akan muncul menjadi SOP, yang merupakan rumusan dari guru,” lanjutnya.

Rija menegaskan, sampai dengan saat ini belum ada kepastian jadwal masuk sekolah. Hingga kini, masih dengan ketentuan yang dikeluarkan pada Mei 2020, yakni dalam batas waktu yang belum ditentukan.

“Untuk masuk sekolah sendiri di Kabupaten bekasi, sampai saat ini belum ada kepastikan dan masih dalam batas waktu yang akan ditentukan. Sosialisasi di Disdik kemarin juga, bawha jadwal masuk sekolah masih menunggu dari pusat,” bebernya.

Sementara, Kepala SMP 2 Babelan, Neneng menyatakan, persiapan masuknya sekolah sudah disiapkan. Beberapa persiapan mencakup sarana prasarana di tengah Covid- 19.
Dimana sekolah menyiapkan hand sanitizer di tiap ruang kelas. Lalu, menyiapkan tempat cuci tangan dan mengukur suhu badan para guru dan siswa.

“Ini sudah merupakan hasil persetujuan semua sekolah SMP di Kabupaten Bekasi. Karena bisa dipastikan, proses ini tidak jauh dari SOP yang nanti akan ditetapkan,” tukasnya. (dan)

Close