Meninggal Potong 24 Ekor Kerbau, Kubur Bayi di Dalam Pohon Besar

ANDI AHMADI/RADAR BEKASI EKSPEDISI : GM Radar Bekasi Andi Ahmadi saat di Menhir Bori Kalimbuang (atas). GM Radar Bekasi di antara Rumah adat Toraja Tongkonan (bawah). Pohon raksasa tempat Kubur Bayi (kanan)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – SETELAH ‘ngubek’ Goa Londa, rombongan bergegas menuju objek wisata Ke’te Kesu yang merupakan Komplek Perkampungan Adat Tua di Toraja. Di sini terdapat sejumlah rumah tradisional (Tongkonan) lengkap dengan lumbung padi berukir (Alang Sura). Seperti apa? Berikut catatannya.

TIM RADAR BOGOR GRUP


“Ayo cepat,kita ke Ke”te Kesu” nanti keburu sore,’’ ujar Hazairin Sitepu, Ceo Radar Bogor Grup sambil bergegas meninggalkan mulut Goa Londo. Rombongan pun bergerak cepat dengan mengambil rute jalan keluar -berbelok kiri bila membelakangi Goa Londo. Tetap saja, meski berburu waktu, setelah berjalan agak naik sekitar dua menit, tim kreator shooting untuk kepentingan konten. ‘’Di sini saja, di sini, coba yang lain jalan dulu,’’ begitu instruksi yang diucapkan tim kreator.

Rombongan pun bergegas menuju area parkir. Lagi-lagi, tidak semua orang langsung memasuki kendaraan. Beberapa orang dari tim memanfaatkan kesempatan sebelum memasuki mobil berbelanja souvenir khas Toraja. Tidak satu orang yang berburu oleh-oleh di toko yang kebetulan berada di atas area parkir. Sedikitnya empat orang langsung memilih-memilah souvenir khas Toraja. Ada yang memilih kaos, gelang, gantungan kunci, kain dan juga tas kerajinan masyarakat lokal.


Nah, saking lamanya para awak media ini di toko souvenir tersebut, sampai-sampai Hazairin Sitepu, CEO Radar Bogor Grup menjemput .

‘’Ayo! cepat, cepat nanti di sana masih ada tempat untuk belanja,’’ ujarnya dengan mimik serius tapi sambil senyum-senyum. Kami pun segera bak-bik-buk mengumpulkan belanjaan dan langsung menuju kasir pembayaran. Akhirnya, beres juga. Setelah semuanya memasuki kendaraan, kami pun go to Ke’te Kesu.

Sebelum sampai di tujuan, rombongan melewati alun-alun Kota Toraja yang terlihat nampak asri dan indah. Sekeliling alun-alun terdapat bangunan-bangunan pemerintahan, bank-bank dan kampus. Tak ketinggalan baliho-baliho bergambar politisi dan partai juga bertebaran di sana. Namun, sebelum kami melanjutkan perjalanan, rombongan terlebih dahulu makan siang, di sebuah kedai yang cukup besar, dekat alun-alun, tepatnya di samping SPBU Kota Toraja. Agak lama kami berputar mencari tempat makan yang pas. Maklum, jika tidak memilih dan memilah tempat, kita bisa saja salah memasuki kedai atau warung makan tersebut.

Selesai santap siang, kami pun segera meluncur ke Ke’te Kesu. Tak butuh waktu lama perjalanan, rombongan memasuki kawasan wisata yang unik tersebut,

Di pertigaan sebelum jalan ke lokasi, kita menjumpai tanda atau ciri khas daerah ini. Ya, terdapat patung kerbau bule bongsor bernama Tedong Bongo, bercak warna hitam dengan tanduk melebar. Inilah jenis kerbau yang harganya fantastis. Ratusan juta per ekor, hingga satu sampai dengan dua miliar. Fantastis !! Kerbau ini disiapkan untuk upacara adat kematian.

Desa Ke’te Kesu merupakan kawasan cagar budaya. Daerah ini menjadi pusat berbagai upacara adat Toraja. Apa saja? Upacara adat itu antara lain; pemakaman adat yang dirayakan dengan meriah atau yang lebih dikenal dengan Rambu Solo, upacara memasuki rumah adat (Rambu Tuka). Hanya saja, saat rombongan tiba, tak ada upacara adat dimaksud.

Di Ka’te Kesu tak hanya terdapat Tongkonan, terdapat pula kubur batu, yang diperkirakan ratusan tahun. Dari area Tongklohan, kita berjalan kaki sekitar 50 meter dan sampai di tebing batu menjulang. Di sinilah kubur batu itu berada..

Hampir semua kubur batu diletakkan menggantung di tebing atau gua. Selain itu, di beberapa tempat juga terlihat kuburan megah milik bangsawan yang telah meninggal dunia.

Tidak seperti di Goa Londo, pengunjung boleh memasuki area goa dan melihat langsung ke kedalaman. Di Ke’te Kesu, wisatawan hanya boleh melihat dari luar saja.

Beberapa makan adat di tebing batu tersebut, telah ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah perusakan atau pencurian terhadap patung atau jenazah adat (tau-tau). Hanya saja, kita masih bisa melihat dengan jelas dari luar bersama harta benda yang dikuburkan.

Peti mati tradisional (erong) yang terdapat di desa ini tidak hanya berbentuk seperti perahu, namun juga ada yang berbentuk kerbau dan babi dengan pahatan atau ukiran yang menghiasi.

Selain kawasan Ke’te Kesu, di Tana Toraja juga terdapat objek kubur batu yang tak kalah unik. Nah, rombongan berkesempatan mengunjungi objek wisata Bori Kalimbuang. Lokasi Bori Kalimbuang terdapat di Desa Sesean. Cukup jauh dari pusat kota. Rombongan harus melintasi jalanan memanjang dan sesekali mengular ke pelosok desa. Di sepanjang perjalanan, tampak persawahan dan perkampungan yang asri. Bahkan, saat kami melintas, kami menyaksikan ada kegiatan keagamaan masyarakat di sana. Hanya saja, karena mengejar waktu, kami tidak sempat turun dan melihat dari dekat kegiatan keagamaan tersebut.

Ketika rombongan tiba di lokasi Bori Kalimbuang, areal objek wisata ini ramai pengunjung. Saat itu, puluhan pelajar berbaur dan berkerumun, berkelompok. Ada yang menulis, memotret dan berdiskusi dengan teman-temannya.

Bori Kalimbuang adalah sebuah Rante, tempat pelaksanaan upacara adat pemakaman tingkat tinggi bagi orang Toraja. Di sini terdapat 102 menhir(Simbuang Batu) yang berdiri tegak sebagai penanda dari setiap upacara pemakaman yang diadakan di areal Rante.

Meskipun ukurannya beda –ada yang tinggi besar, tinggi kecil, agak pendek, persegi dan membulat–, menhir-menhir yang berdiri tegak ini memiliki nilai adat yang sama. Menhir atau Simbuang Batu hanya dapat dipasang apabila ada seorang pemuka masyarakat yang meninggal dan diupacarakan secara adat dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (Kerbau yang dipotong minimal 24 ekor);

Rante Kalimbuang ini mulai digunakan untuk upacara adat upacara pemakaman pada tahun 1617. Di lokasi ini juga terdapat kuburan pahat, (liang pa’a). Rombongan menyaksikan masih banyak karangan bunga ucapan duka yang berserakan di mulut kubur batu tersebut. Batu-batu ini dilubangi dengan pahat. Batu tersebut benar-benar besar dan menumpuk berderet di areal Bori.

Di areal belakang juga terdapat kubur bayi (passiliran pia) dalam pohon yang masih hidup. Inilah salah satu yang membuat rombongan penasaran.

Rombongan pun berkesempatan melihat dari dekat kubur bayi yang di dalam pohon tersebut. Untuk menuju lokasi, kita berjalan sekitar 50 meter ke belakang dari lokasi menhir, lalu melewati beberapa kubur batu. Sebelum pohon dimaksud, kita melewati/menyebrangi jalan berbatu—jalan desa—nah, persis di seberang, terdapat pohon besar menjulang tinggi yang di beberapa titik badan pohon, bayi-bayi lama ditanam di situ. Untuk menutupi bekas lubang kubur di pohon, ijuk menjadi pilihan. (bersambung)