Tembakan Gas Air Mata di Kerusuhan Stadion Kanjuruhan Malang Disorot, Ini Alasan PSSI

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Yunus Nusi menanggapi penggunaan gas air mata oleh aparat kepolisian dalam mengamankan pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10) malam. Menurut Yunus Nusi, penggunaan gas air mata merupakan langkah antisipatif aparat kepolisian.

“Begitu cepat kejadiannya, tragedi tersebut. Sehingga pihak keamanan juga mengambil langkah-langkah, tentu dari pihak keamanan sendiri dipikirkan, diantisipasi dengan baik,” kata Yunus dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (2/10).


 

Yunus mengungkapkan, setelah Arema FC mengalami kekalahan 2-3 melawan Persebaya Surabaya, para suporter turun ke lapangan. Hal ini yang kemudian membuat aparat keamanan melakukan langkah-langkah antisipatif.


“Karena memang kita lihat bersama pasca pertandingan tersebut dari suporter banyak yang ke lapangan dan pihak keamanan tentu mengambil lagkah-langkah antisipatif,” beber Yunus.

Meski demikian, PSSI menyerahkan sepenuhnya kepada tim investigasi untuk mencari tahu penyebab terjadinya kericuhan di Stadion Kanjuruhan itu. Bahkan, PSSI juga sudah dihubungi oleh organisasi sepak bola dunia FIFA terkait peristiwa tersebut.

“Tadi, pagi sudah memberikan laporannya, karena FIFA meminta untuk diberikan laporannya, karena ini kejadian yang sangat luar biasa,” ungkap Yunus.

Terkini berdasarkan data Dinas Kesehatan Malang jumlah korban akiba kerusuhan di Kanjuruhan sebanyak 180 orang meninggal dunia. “Meninggal dunia 180 orang,” tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Wiyanto Wijoyo, Minggu (2/10).

Jenazah 180 suporter itu masih berada di 10 rumah sakit di Kabupaten dan Kota Malang. Mereka langsung dibawa ke beberapa rumah sakit sejak kerusuhan yang terjadi pada malam sebelumnya.

“Sebanyak 25 jenazah masih belum teridentifiksai,” terang Wiyanto Wijoyo

Sementara itu, sebanyak 191 orang lain masih dirawat di rumah sakit. Mereka mengalami luka-luka.

“Sebanyak 191 orang lainnya luka-luka dan masih dirawat,” beber Wiyanto Wijoyo. (jpc)