60 Persen Sekolah Swasta Masih Buka PPDB

ILUSTRASI: Perwakilan SMK Citra Mutiara Kabupaten Bekasi menjelaskan keunggulan sekolah kepada siswa SMP saat kunjungan ke sekolah. Sekitar 60 persen sekolah swasta jenjang SMP hingga SMA maupun SMK di Kabupaten Bekasi masih membuka PPDB tahun ajaran 2022/2023. ISTIMEWA

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sekitar 60 persen sekolah swasta jenjang SMP hingga SMA maupun SMK di Kabupaten Bekasi masih membuka penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2022/2023. Masih dibukanya PPDB karena belum terpenuhinya kuota siswa baru.


Persentase angka tersebut menurut laporan yang diterima Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, jumlah satuan pendidikan swasta sebanyak 1.655. Rincinya, 785 TK, 321 SD, 294 SMP, 79 SMA, dan 176 SMK.

Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kabupaten Bekasi Ahmad Syauqi mengatakan, sekolah swasta di wilayahnya sudah membuka PPDB sejak November 2021. Menurutnya, sebagian satuan pendidikan jenjang TK dan SD telah menutup pendaftaran karena sudah terpenuhinya kuota peserta didik baru.


“Hasil laporan yang kami terima di lapangan, untuk PPDB swasta di tingkat TK dan SD aman. Karena sudah ada beberapa sekolah yang menutup proses pendaftaran karena jumlah kuotanya sudah terpenuhi,” ujar Ahmad kepada Radar Bekasi, Rabu (15/6).

Berbeda dengan PPDB pada tingkat SMP, SMA, maupun SMK. Sampai saat ini dari hasil pemantauan BMPS, hampir sebagian besar sekolah masih membuka penerimaan siswa baru.

“Dari hasil pemantauan kami masih banyak sekolah swasta di tingkat SMP, SMA, dan SMK yang masih menunggu limpahan PPDB negeri. Karena masyarakat atau orangtua masih mempercayai negeri untuk menyekolahkan anaknya,” katanya.

Secara persentase, jelas dia, masih ada sekitar 60 persen sekolah tingkat SMP hingga SMA maupun SMK  yang telah belum menutup proses pendaftaran karena belum terpenuhi daya tampung siswa baru.

“Ini persentase sementara yang kami lihat, karena PPDB swasta itu masih akan tetap dibuka sampai ujung atau sampai siswa masuk tahun ajaran baru. Jika memang kuotanya belum terpenuhi,” ucapnya.

Ahmad mengatakan, BMPS berupaya untuk meminimalisir adanya penutupan sekolah swasta karena tidak menerima siswa atau mengalami penurunan jumlah siswa.

“Kami meminimalisir agar tidak ada lagi yayasan yang kolaps dan memutuskan untuk menutup sekolah tersebut karena mengalami penurunan jumlah siswa dengan berbagai cara yang kami bisa,” tuturnya.

Salah satu cara yang kini dilakukan oleh BMPS adalah melakukan diskusi bersama dengan sejumlah yayasan untuk membenahi administrasi yang lebih baik.

“Saling menguatkan dan memberikan arahan sesama yayasan swasta, itu saja yang bisa dilakukan agar tahun ini tidak ada sekolah swasta yang menutup sekolahnya karena tidak menerima siswa,” pungkasnya. (dew)