Studi Terbaru JEC, Komponen Optikal Pengaruhi Kualitas Penglihatan

PINDAHKAN TALI TOGA: Penguji sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, memindahkan tali toga sebagai simbolis pengesahan gelar Doktor kepada Dr. dr. Johan A. Hutauruk, SpM(K) selaku Spesialis Mata Kornea, Katarak dan Bedah Refraktif JEC, sekaligus Presiden Direktur JEC Korporat, usai Ujian Terbuka, Program Doktor, di UGM, Yogyakarta (24/10). ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Katarak atau kekeruhan lensa mata adalah penyebab utama kebutaan di dunia dan Indonesia. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menyebutkan bahwa pada 2020, 8 juta orang di Tanah Air mengalami gangguan penglihatan, dengan 81,2 persen di antaranya disebabkan oleh katarak.

“Operasi katarak menjadi pilihan utama untuk memulihkan penglihatan, tetapi pertanyaan diatas akan sering ditanyakan oleh pasien dan dokter mata berusaha mencari faktor yang mempengaruhi kualitas penglhatan,” ungkap Spesialis Mata Kornea, Katarak dan Bedah Refraktif JEC, sekaligus Presiden Direktur JEC Korporat, Dr. dr. Johan A. Hutauruk, SpM (K).


Concern terhadap situasi tersebut melandasi Dr. dr. Johan A. Hutauruk, SpM (K) untuk menggagas penelitian secara mendalam guna memahami perbedaan kualitas penglihatan antara pasien pseudofakia usia lanjut dengan pasien dewasa muda normal  (yang belum melakukan tindakan operasi katarak). Kelompok pasien dewasa muda dijadikan pembanding (kelompok kontrol) lantaran dianggap berada pada fase usia dengan kualitas penglihatan terbaik. Kedua kelompok memiliki mata dengan indeks visus 6/6 (standar penglihatan yang setara 100 persen, berdasarkan pemeriksaan menggunakan Snellen Chart).

Meskipun penglihatan sangat baik, kedua kelompok diminta mengisi kuesioner adanya gangguan penglihatan seperti sering silau, berkabut, melihat lingkaran pada lampu (haloes), dan juga dilakukan serangkaian pemeriksaan dengan alat diagnostic yang canggih untuk mengukur lebar pupil, kelengkungan kornea dan adanya aberasi penglihatan (higher-order aberration). Pemeriksaan objektif, seperti Snellen Chart, tidak bisa mendeteksi adanya gangguan penglihatan yang dikeluhkan pasien tersebut. Karenanya, penelitian ini tidak berhenti pada perbedaan kualitas penglihatan antara kedua kelompok, tetapi juga mengetahui komponen optikal yang turut memengaruhi.


Penelitian ini selaras dengan visi JEC Eye Hospitals & Clinics sebagai eye care leader di Indonesia untuk mengoptimalkan penglihatan dan kualitas hidup masyarakat di Tanah Air.

RS Mata JEC memiliki peralatan diagnostic yang sangat lengkap untuk mengukur berbagai komponen optikal yang mempengaruhi kualitas penglihatan, seperti pengukuran diameter pupil dalam cahaya terang (photopic) ataupun temaram (mesopic), kelengkungan kornea, kualitas air mata secara non invasif (NIKBUT), serta alat wavefront analyzer untuk melihat adanya aberasi optikal (higher order aberration).

Salah satu temuan penelitian memperlihatkan nilai lapisan air mata dengan pengukuran NIKBUT (Non Invasive Keratograph Break-up Time) sebesar  9,93 detik – dan dianggap sebagai nilai kritis, dimana pasien mengalami keluhan gangguan penglihatan secara subjektif dan dibuktikan dengan wavefront analyzer terjadinya peningkatan aberasi optikal (higher order aberration) padahal tidak ada keluhan mata kering.

Penelitian dr. Johan memberikan pencerahan di bidang kesehatan mata bahwa pasien pasca-operasi katarak dengan NIKBUT di bawah 9,93 detik berpotensi mengalami keluhan gangguan secara subjektif, meskipun tidak mengalami mata kering. Nilai ini bisa digunakan sebagai acuan prediksi bagi pasien pseudofakia untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan penglihatan, misalnya dengan memberikan tetes air mata buatan. Artinya, pengecekan pasca-operasi secara berkelanjutan sangat krusial untuk mengantisipasi kualitas penglihatan yang menurun.

Penelitian yang tertuang dalam disertasi “Kontribusi Komponen Optikal Bola Mata terhadap Aberasi Derajat Tinggi dan Kualitas Penglihatan Pasien Pseudofakia Usia Lanjut Dibandingkan dengan Pasien Usia Muda Normal” mengantarkan dr. Johan meraih gelar Doktor dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

“JEC Eye Hospitals and Clinics terus mendukung upaya-upaya peningkatan kesehatan mata masyarakat Indonesia. JEC juga berupaya menginisiasi dan menerapkan temuan berbasis sains yang progresif, guna memberi solusi pada tantangan kesehatan mata yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia. Bersama jajaran praktisi yang mumpuni, JEC optimistis mampu melanjutkan kontribusi kami pada dunia kesehatan mata di Tanah Air,” tutup dr. Johan juga menjabat sebagai Wakil Ketua PERDAMI dan Vice President Asia-Pacific Association of Cataract & Refractive Surgeons (APACRS).

Saat ini, JEC Eye Hospitals and Clinics telah memiliki jajaran tenaga ahli yang kompeten di berbagai bidang kesehatan mata; terdiri atas 4 profesor, 19 doktor, dan puluhan dokter spesialis. Bahkan, sepanjang 2022 saja, tujuh spesialis JEC telah berhasil menyandang gelar doktor – termasuk dr. Johan.

Melalui penanganan katarak secara menyeluruh yang JEC tawarkan, termasuk dukungan teknologi mutakhir, beragam lensa tanam, dokter spesialis mata serta tenaga medis yang mumpuni, penderita katarak berkesempatan memperbaiki kualitas penglihatannya, dengan risiko pasca-operasi yang terminimalisir,” ujar Senior Kepala Divisi Marketing dan Komunikasi JEC Eye Hospitals and Clinics Mubadiyah, S.Psi., M.M. (oke/adv)