BEKACITIZENOpini

Bencana Lama Bersemi Kembali

Oleh: Ilham Akbar

Radarbekasi.id – Setiap tahun, Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak pernah absen dari bencana alam, salah satunya adalah banjir, khususnya di wilayah Jabodetabek.

Walaupun Indonesia sering kali menggaungkan revolusi industri 4.0, dan beberapa terobosan-terobosan kreatif yang telah dijalankan, namun tetap saja banjir selalu menjadi malapetaka di negara ini.

Sepertinya, sangat tidak lengkap apabila dalam satu tahun wilayah Jabodetabek tidak terkena banjir. Sampai awal tahun 2020 juga, bencana banjir semakin tidak bisa dicegah oleh siapapun, dan sehebat apapun manusia nya.

Bahkan menurut data yang disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bencana banjir pada awal tahun 2020 juga merupakan bencana banjir dengan curah hujan tertinggi sejak tahun 1996.

Pasalnya, menurut BMKG, curah hujan khususnya di wilayah Halim Perdanakusuma mencapai angka 377 mm/hari. Dan yang lebih mengenaskan lagi, dari data yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir di Jabodetabek dan Lebak pada hari Jumat (3/1/2020), telah menelan 43 korban jiwa.
Bencana banjir ini merupakan bencana lama yang terus bersemi kembali di beberapa kota di Indonesia. Apabila pemerintah tidak bisa melakukan evaluasi secara efektif, maka bencana tersebut akan terus bersemi tanpa melihat kapan waktunya dan di mana tempatnya.

Sebaiknya juga, bencana banjir ini harus menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah lainnya yang pada saat ini daerahnya tidak terkena banjir. Karena walau bagaimanapun, bencana banjir ini merupakan bencana yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun itu.

Banjir bisa datang kapan saja, dan di mana saja. Oleh karena itu, bagi setiap pemimpin daerah sudah tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha, karena kini sudah seharusnya setiap pemimpin daerah harus memutar otaknya agar bisa mengamankan masyarakatnya supaya terhindar dari bencana.

Reorientasi Pembangunan
Pada umumnya, setiap pemimpin daerah sering kali menyampingkan pembangunan mengenai pentingnya fasilitas-fasilitas atau infrastruktur untuk menanggulangi bencana. Naasnya lagi, ketika semua masyarakat telah mengetahui bahwa beberapa daerah di Indonesia sangat rawan terkena banjir, namun tak jarang juga para pemimpin daerah lebih mengutamakan untuk membangungedung-gedung bertingkat yang bisa merusak lingkungan dan ekosistem.

Pasalnya, para pemimpin daerah kerap kali menganggap bahwa pembangunan tersebut bisa meningkatkan pajak dan pendapatan asli daerah. Namun tetap saja, apalah artinya pajak dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi, apabila setiap pembangunan selalu membawa bencana banjir yang membuat masyarakat menderita.
Maka dari itu, hal ini lah yang harus diperbaiki oleh semua pemimpin daerah yang ada di Indonesia. Kini sudah seharusnya para pemimpin daerah bisa mempunyai itikad baik untuk membangun infrastruktur atau fasilitas yang bisa menjadi pencegah bencana banjir.

Para pemimpin daerah, setidaknya harus melakukan reorientasi pembangunan, yang pada awalnya pembangunan hanya berorientasi pada perusahaan ataupun bangunan lain yang bisa memberikan pajak atau PAD yang begitu tinggi, namun kini sudah seharusnya para pemimpin daerah bisa berfokus kepada pembangunan yang bisa mencegah bencana alam yang sering kali menimpa masyarakat.
Mengutamakan Edukasi

Selain harus melakukan reorientasi pembangunan untuk mencegah bencana banjir, pemerintah daerah juga harus selalu mengutamakan edukasi kepada masyarakatnya agar selalu siap siaga ketika bencana banjir datang.

Edukasi dilakukan jangan hanya sebulan sekali, tetapi edukasi harus dilakukan selama seminggu sekali kepada semua masyarakat yang tempat tinggalnya rawan terkena bencana banjir.

Selain itu juga, edukasi harus dilakukan dengan beberapa simulasi ataupun pelatihan dalam menghadapi banjir yang sering kali datang secara mendadak. Apabila hal ini dilakukan secara terus-menerus, maka tidak menutup kemungkinan banjir pun akan selalu mudah untuk diatasi.

Oleh karena itu, pada dasarnya, agar bencana lama itu tidak selalu bersemi kembali, maka pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi satu sama lain untuk meningkatkan kesadaran bersama.

Terlebih lagi, edukasi tersebut akan lebih baik jika berhasil diterapkan untuk mencegah ataupun mengatasi datangnya bencana lama yang sering bersemi kembali. (*)

Esais dan Pemerhati Sosial

Related Articles

Back to top button